Upaya Desa Bilebante Mencegah Stunting dengan Stop Kawin Anak
05 October 2024
Masalah gangguan tumbuh kembang anak atau biasa disebut dengan stunting bukanlah hanya sekedar pertumbuhan tinggi anak yang terhambat, namun lebih besar daripada itu. Pencegahan stunting bergantung pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) termasuk dengan masa dalam kandungan dan dengan pengasuhan.
Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui Peningkatan Kapasitas Kader Keluarga Berencana untuk Pencegahan Stunting (PARENTS) project berfokus pada intervensi isu-isu pengasuhan dan pengembangan anak dengan konsultasi mendalam pemangku kepentingan terkait dari tingkat nasional hingga desa serta mitra strategis untuk menangkap tantangan, kebutuhan, dan kesenjangan pengetahuan. Salah satu wilayah intervensi PARENTS project adalah Desa Bilebante, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan jumlah lebih dari 500 KK.
Banyak tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para kader posyandu dan puskesmas dalam mendampingi para orang tua mencegah stunting. Namun, hal ini tidak mengurungkan niat dan semangat Syahidaturrokyah untuk berupaya melakukan sosialisasi dan pendekatan kepada para orang tua. Syahida sebagai Ketua Kader Permata Bunda Bilebante menggerakkan kadernya untuk melakukan pendekatan secara berkala dan menggunakan modul dari PARENTS project sebagai acuan.
“Dahulunya di desa ini banyak yang menikah masih usia anak, perlahan-lahan menurun hingga tidak ada sama sekali pada tiga tahun belakangan ini,” ujar Syahida yang tatapan bangga.
Bergerak bersama Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), perkawinan anak yang menjadi salah satu faktor kasus stunting karena pola pengasuhan dan kehamilan yang berisiko, menurun hingga tuntas di Desa Bilebante tahun 2024. Sebagai ketua PKK dan pasangan dari Kepala Desa Bilebante, Nita memiliki visi untuk menuntaskan stunting melalui pencegahan perkawinan anak yang ada di Desa Bilebante dan peningkatan kapasitas kaum muda.
“Sekarang pola pikir anak-anak sudah berubah, mulai banyak yang berfikir sekolah sudah lebih penting dibandingkan menikah. Selain itu, juga Pemdes sudah ada awik-awik yang menolak keras jika ada perkawinan anak atau di bawah tangan hingga melibatkan aparat jika terjadi,” tambah Nita. Sebagai tambahan komitmen orangtua yang tinggi tidak merestui perkawinan usia anak, dan komitmen perangkat desa khususnya kadus yang tidak memberikan izin merarik kodeq di wilayah mereka menjadi kunci eliminasi perkawinan anak di Desa Bilebante.
Tak hanya dari semangat para kader, warga Desa Bilebante pun bertekad untuk menuntaskan stunting tanpa neko-neko. Hal ini terlihat dari komitmen pemerintah desa dan para kader yang membangun bangunan Posyandu pada tahun 2024 ini. Dimulai dengan membeli tanah dan berangsur-angsur ke pembangunan Posyandu dari anggaran desa dan kumpulan dana dari warga Bilebante termasuk para kader. Setiap kegiatan biasanya ada Bantuan Operasional Kelurga Berencana (BOKB) yang disisihkan untuk tanah untuk pembangunan posyandu sedangkan bangunan dari Pemdes sejumlah sekitar 200 juta.
Didominasi dengan pekerjaan sebagai petani dan pekerjaan yang mengharuskan pergi jauh untuk para laki-laki, tidak jarang ditemui para ibu menanggung beban sendirian saat mengandung maupun melahirkan. Oleh karena itu, dukungan dan pendampingan para kader sangat bermanfaat untuk mencegah stunting sejak dari 1.000 HPK seperti sosialisasi pengasuhan dan makanan bernutrisi bagi orang tua dan anak.
“Dapat pelajaran baru dulunya sering marah-marah jadi sekarang masih bisa menahan emosi dan kasih perhatian yang lebih ke anak. Karena memukul tidak baik jadi kasih pengertian terlebih dahulu kepada anak ketika melakukan kesalahan,” ungkap Mira sebagai salah satu orang tua yang mendapatkan sosialisasi dari BKB Kabar Indah. Mira mengakui dahulu sering memberikan hukuman berupa kekerasan fisik terhadap anak karena memiliki persepsi anak-anak harus didisiplinkan dengan kekerasan, namun anggapan itu berangsur-angsur berubah setelah mendapatkan sosialisasi dari para kader.
Bersama dengan ibu-ibu lainnya, Mira masih memiliki kendala partisipasi suami dalam kegiatan sosialisasi karena pekerjaan maupun kegiatan yang mengharuskan para Ibu untuk pergi sendirian. Padahal bagi mereka, kehadiran suami sangat penting juga untuk mendapatkan pengetahuan yang dibagikan karena hal ini berpengaruh langsung dengan tumbuh kembang anak
Walau masih memiliki tantangan, Desa Bilebante optimis untuk menuntaskan stunting dengan bergotong royong. Desa yang masih padat dan masih terdengar suara anak kecil lalu lalang, pemerintah dan warga Desa Bilebante memiliki visi yang cukup besar untuk terus berpihak pada masa depan anak-anak. Sosialisasi pencegahan stunting juga.
“Harapannya programnya berlanjut untuk membantu. Apa yang bisa dibantu, saran prasarana yang dibutuhkan untuk melanjutkan upaya ini,” tambah Syahida dengan penuh harap dan semangat. (**)