Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Sosok Kader Teladan dari Desa Mambalan

Sosok Kader Teladan dari Desa Mambalan

05 October 2024

Mengabdi sebagai seorang kader posyandu (pos pelayanan terpadu) di desa bukan perkara mudah. Meski imbalan yang diterima tak seberapa, mereka rela menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran demi membantu warga. 

===

Nurdiana (46), hanya tersenyum saat ditanya sudah berapa lama mengabdi menjadi seorang kader posyandu di Desa Mambalan, Lombok Barat. Setengah usianya dia habiskan untuk mengabdi di posyandu desa.

“Sejak remaja pokoknya (sudah menjadi kader posyandu),” ujarnya, sembari tersenyum, ketika ditemui akhir Juni 2024 lalu.

Ibu dua anak ini tidak ingat persis tahun berapa dia mulai aktif menjadi kader posyandu di Desa Mambalan. Tapi seingatnya, sejak muda dia sudah jadi kader dan melayani warga. Sampai kini dia masih setia menjadi seorang kader.

Puluhan tahun mengabdi, Nurdiana sudah kenyang dengan asam garam kehidupan kader posyandu. Banyak suka duka telah dirasakan. Meski imbalan yang diterima tidak seberapa, dia sangat menikmati semua itu sepenuh hati.

Awal mula menjadi kader posyandu pun tidak disengaja. Kala itu, kata Nurdiana, tidak banyak orang di desanya mau membantu petugas kesehatan yang datang.  Sehingga dia tergerak membantu secara sukarela.

“Saya dulu kasihan tidak ada yang mau (jadi kader), saya kasihan tidak ada yang mau bantu tim dari puskesmas, jadi ya saya ikut-ikutlah (kader),” tuturnya.

Sekarang Nurdiana, menjadi salah satu kader senior di desanya, sehingga dia pun kini ditunjuk menjadi ketua Kader Posyandu Permata Hati Desa Mambalan. Dia memimpin sekitar 40 orang kader desa.

Salah satu hal yang membuatnya betah menjadi kader posyandu yakni bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan warga lainnya. Warga banyak bertanya dan konsultasi ke kader, sehingga mereka dituntut memiliki pengetahuan lebih.

Saat ini, peran seorang kader semakin krusial. Bahkan mereka menjadi ujung tombak berbagai program kesehatan masyarakat. Salah satunya dalam upaya menekan angka stunting.

Terkait isu stunting, menurutnya, warga sangat antusias ingin paham karena menjadi pembicaraan. Bahkan warga aktif datang mengecek apakah anaknya tergolong stunting atau tidak.

Keterlibatan para pihak juga sangat membantu, salah satunya Yayasan Plan International (Plan Indonesia) melalui program peningkatan kapasitas kader keluarga berencana untuk pencegahan stunting (Parents).

“Program Parents ini baru, jadi alhamdulillah sangat membantu mereka sebagai kader,” katanya.

Dalam program ini, kader banyak mendapatkan materi terkait 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), kemudian mereka mendapatkan modul-modul edukasi kesehatan diteruskan ke masyarakat.

Penyuluh BKB

Sri Ayuningsih, penyuluh keluarga berencana sekaligus pembina Bina Keluarga Balita (BKB) Posyandu Permata Hati Desa Mambalan menjelaskan, program Parents masuk di dalam kegiatan BKB. Program ini fokus mengedukasi orang tua terkait pola asuh untuk tumbuh kembang balitanya.

Dia menjelaskan, sasaran BKB yakni bagi balita usia 0-6 tahun. BKB dibagi dua yakni BKB regular dan BKB emas. BKB regular untuk balita usia 0-6 tahun, kemudian BKB emas adalah pengembangan lebih spesifik, sasarannya orang tua yang memiliki anak 0-2 tahun, ditambah dengan ibu hamil.

“Kami mengedukasi bagaimana pola asuh dari masa kehamilan sampai memiliki anak berusia 2 tahun, yang sering disebut dengan periode emas, supaya tidak terjadi stunting balitanya,” ujar Sri.

Pelibatan Remaja 

Remaja juga dilibatkan dalam program Parents karena para remaja laki-laki dan perempuan harus memiliki pemahaman terkait kesehatan reproduksinya. Sebagai calon orang tua harus benar-benar sehat, dan alat reproduksinya benar-benar siap baru menikah.

Pendewasaan usia perkawinan juga sangat penting. Mencegah perkawinan usia anak ini menjadi salah satu upaya mencegah stunting.

“Jadi kami melakukan pendekatan sejak remaja, kemudian dia menjadi catin (calon pengantin), sampai mereka hamil, dan melahirkan anak,” katanya.

Peran Ayah Masih Kurang

Sri Ayuningsih mengakui peran seorang ayah dalam penanganan stunting masih sangat kurang. Hal ini terlihat dari minimnya kehadiran seorang ayah di kelas BKB. Padahal pengasuhan anak bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga seorang ayah. “Kami senang bahwa Plan Indonesia melalui Program PARENTS telah membagikan pengalaman dari daerah dampaingannya di NTT terkait bagaimana melibatkan ayah atau pengasuh laki-laki dalam pengasuhan,” katanya.

“Ketika ibunya menyusui ayahnya mijat itu bisa meningkatkan produksi asinya, kualitas asinya lebih bagus, tidak stres. Karena kalau stres bisa mempengaruhi produksi asi,” katanya.

Sri Ayuningsih mengakui, upaya edukasi pola asuh ini masih banyak kendala, antara lain cakupan kegiatan masih terbatas. Hal ini disebabkan karena terbatasnya jumlah anggaran. Setiap pertemuan hanya bisa untuk 25 orang. Kendala lainnya, ada juga keluarga yang belum terbuka soal pola asuh anak.

“Tapi Alhamdulillah sekarang pemerintah desa memberikan bantuan dari dana desa untuk kegiatan. Sehingga bisa terus mendorong untuk meningkatkan kesadaran warga terkait pola asuh ini,” ujarnya.

Salah satu dukungan dari Pemerintah Desa adalah memperbanyak dan mendistribusikan format pemantauan oleh keluarga yang memiliki ibu hamil, anak 0 – 12 bulan dan anak 13 – 24 bulan.

Menurutnya, program Plan Indonesia sangat membantu mereka mengatasi berbagai kendala dan tantangan tersebut. “Bersama Plan Indonesia kami telah melakukan pendataan profil keluarga penerima manfaat Project PARENTS, termasuk mengikutsertakan keluarga muda yang menikah usia anak, buruh migran yang menitip anak mereka pada keluarganya.

“Plan Indonesia ini luar biasa sudah banyak membantu, remaja-remaja sudah mulai dia sentuh dengan pelatihan-pelatihan kepada remaja terkait manajemen kesehatan menstruasi, pendewasaan usia perkawinan, hingga pencegahan stunting melalui STBM,” ujarnya.

Bagikan :