Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Setiap Tetes Air untuk Sebuah Mimpi

Setiap Tetes Air untuk Sebuah Mimpi

01 October 2026

Sore itu, matahari mulai merunduk di balik perbukitan. Anak-anak seusia Cheril biasanya menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman atau mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Namun bagi Cheril, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun yang tinggal di salah satu desa dampingan Plan Indonesia, waktu setelah pulang sekolah memiliki arti yang berbeda.

Saat teman-temannya mungkin sudah duduk santai di rumah, Cheril justru harus bersiap memulai perjalanan panjang yang melelahkan. Di tangannya tergenggam dua jerigen kosong. Ia tahu, sebelum hari gelap, ia harus berjalan lebih dari dua kilometer menuju sumber air yang berada jauh di dalam kawasan hutan dan perbukitan.

Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Jalur yang harus ia lalui berupa jalan setapak yang sempit, menanjak, dan berbatu. Di beberapa titik, tanah menjadi licin ketika hujan turun. Di kiri dan kanan hanya terdapat pepohonan dan semak belukar yang membuat suasana terasa sunyi. Tidak ada rumah penduduk yang bisa dijadikan tempat berlindung jika terjadi sesuatu.

Meski masih berusia 14 tahun, Cheril sudah sangat akrab dengan medan tersebut. Ia telah melakukannya hampir setiap hari sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Kalau pulang sekolah, saya langsung mengambil jerigen dan berjalan ke sumber air. Kadang rasanya sangat capek, tapi saya harus melakukannya karena keluarga saya membutuhkan air,” kenangnya.

Jika berangkat sekitar pukul tiga sore, Cheril biasanya baru tiba kembali di rumah menjelang pukul lima sore. Dua jam waktunya habis hanya untuk mengambil air. Di pundaknya bertumpu tanggung jawab yang seharusnya tidak perlu dipikul oleh seorang anak seusianya.

Sesampainya di sumber air, pekerjaan belum selesai. Ia masih harus menunggu giliran, menimba air, lalu mengisi dua jerigen yang masing-masing berkapasitas lima liter. Setelah itu, perjalanan pulang yang tak kalah berat menantinya.

Jerigen yang semula ringan kini terasa begitu membebani langkahnya. Setiap meter perjalanan terasa lebih panjang. Keringat membasahi pakaian sekolahnya. Napasnya terengah-engah saat menapaki tanjakan demi tanjakan.

Namun di balik rasa lelah itu, Cheril terus melangkah. Bukan untuk dirinya sendiri semata, melainkan demi memenuhi kebutuhan keluarganya akan air bersih.

Bagi banyak orang, membuka keran dan mendapatkan air bersih mungkin merupakan hal yang biasa. Namun bagi Cheril dan keluarganya, air adalah sesuatu yang sangat berharga.

Air yang mereka ambil digunakan untuk hampir semua kebutuhan sehari-hari: memasak, mencuci piring, mandi, mencuci pakaian, hingga air minum. Karena jumlah air yang berhasil dibawa pulang sangat terbatas, keluarga Cheril harus mengatur penggunaannya dengan sangat hati-hati.

Mereka terbiasa hidup dengan berbagai keterbatasan. Mandi secukupnya, mencuci seperlunya, dan menggunakan air secara bergantian agar persediaan tidak cepat habis.

Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan. Di desanya, air memang bisa dibeli dari mobil pick-up yang menjual air kepada warga. Namun biaya yang harus dikeluarkan tidak mampu dijangkau oleh banyak keluarga, termasuk keluarga Cheril.

Akibatnya, satu-satunya pilihan yang tersedia adalah mengambil air sendiri dari sumber yang jauh. Bagi orang dewasa, aktivitas tersebut mungkin tidak begitu melelahkan. Namun bagi seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP, beban itu terasa jauh lebih berat.

Kenyataan ini tidak hanya dialami oleh Cheril seorang. Di desa yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 60 kepala keluarga, kesulitan mendapatkan air bersih telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat selama bertahun-tahun. Di antara mereka terdapat 123 anak sponsor dan mantan anak sponsor (Sponsored Children/SC) yang juga merasakan dampak dari terbatasnya akses air bersih.

Meski demikian, Cheril tidak pernah mengeluh. Ia memahami bahwa keluarganya membutuhkan bantuan. Ia sadar bahwa air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Karena itulah setiap hari ia terus menjalani rutinitas tersebut, meski harus mengorbankan banyak hal yang penting bagi masa depannya.

Cheril memiliki cita-cita sederhana namun mulia. Ia ingin menjadi seorang guru. Baginya, guru adalah sosok yang dapat membantu anak-anak belajar dan meraih masa depan yang lebih baik. Ia membayangkan suatu hari nanti bisa berdiri di depan kelas, mengajar murid-muridnya dengan penuh semangat.

Namun perjalanan menuju cita-cita itu tidak selalu mudah. Setelah berjalan jauh mengambil air setiap sore, tubuhnya sering kali terlalu lelah untuk belajar. Ketika tiba di rumah, tenaga yang tersisa hanya cukup untuk makan malam dan beristirahat.

Buku-buku pelajaran yang seharusnya dibaca sering kali hanya tergeletak di meja. Bukan karena ia malas, bukan karena ia tidak ingin belajar, tetapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk diajak berpikir.

Ada hari-hari ketika matanya terasa berat bahkan sebelum sempat membuka buku pelajaran. Ada malam-malam ketika ia ingin mengulang pelajaran sekolah, tetapi rasa lelah membuatnya tertidur lebih dulu. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar terpaksa habis di perjalanan mengambil air.

“Kadang saya tidak sempat belajar karena sudah terlalu lelah setelah mengambil air,” tuturnya.

Bagi Cheril, kehilangan waktu belajar bukan sekadar kehilangan beberapa jam dalam sehari. Itu berarti berkurangnya kesempatan untuk semakin dekat dengan impian yang selama ini ia simpan di dalam hati.

Seragam yang Tidak Lagi Putih

Keterbatasan air juga meninggalkan jejak yang terlihat jelas dalam kesehariannya sebagai pelajar.

Setiap pagi, Cheril berangkat ke sekolah dengan semangat yang sama seperti anak-anak lainnya. Namun ada satu hal yang sering membuatnya merasa kurang percaya diri: seragam sekolahnya.

Karena air yang tersedia sangat terbatas, keluarganya tidak bisa mencuci pakaian sesering yang diperlukan. Akibatnya, seragam putih yang seharusnya bersih perlahan berubah warna menjadi kecokelatan. Noda dan kusam menjadi bagian yang sulit dihindari.

Kadang-kadang, bahkan untuk sekadar mencuci muka sebelum berangkat ke sekolah pun menjadi sebuah kemewahan. Di saat anak-anak lain mungkin dapat mandi dan berganti pakaian bersih setiap hari, Cheril harus belajar menerima kondisi yang ada. Namun yang lebih menyedihkan, pengalaman seperti ini dialami oleh banyak anak lainnya di desanya.

Selain melelahkan, perjalanan menuju sumber air juga menyimpan berbagai risiko. Anak-anak seperti Cheril harus berjalan melewati kawasan yang jauh dari permukiman. Mereka menembus hutan, melewati jalan setapak yang sepi, serta menuruni dan mendaki perbukitan yang curam.

Bagi seorang anak perempuan berusia 14 tahun, kondisi ini tentu jauh dari ideal. Ketika cuaca buruk datang, jalur menjadi semakin berbahaya. Tanah yang licin meningkatkan risiko terpeleset dan terjatuh. Batu-batu besar dan akar pohon yang menonjol bisa menjadi ancaman bagi siapa saja yang lewat.

Namun rasa takut tidak pernah menghapus kewajiban. Setiap hari mereka tetap berjalan, bukan karena berani, melainkan karena tidak memiliki pilihan lain.

Di banyak tempat, krisis air bukan hanya soal kekurangan air semata. Krisis air juga berarti hilangnya waktu belajar, meningkatnya risiko keselamatan anak, serta berkurangnya kesempatan mereka untuk menikmati masa kecil yang seharusnya penuh keceriaan. Cheril adalah salah satu wajah nyata dari kenyataan tersebut.

Harapan mulai datang pada awal tahun 2026. Selama bertahun-tahun warga desa memimpikan akses air bersih yang lebih dekat dan lebih aman. Impian itu perlahan mulai menjadi kenyataan ketika Plan Indonesia bersama masyarakat membangun jaringan perpipaan dari sumber air menuju pemukiman warga.

Pekerjaan tersebut bukanlah hal yang sederhana. Untuk memastikan air dapat menjangkau masyarakat yang tinggal berjauhan dari sumber air, dibangun jaringan pipa transmisi sepanjang lebih dari 2.000 meter yang membentang melewati berbagai medan yang menantang.

Selain jaringan pipa, dibangun pula satu bak broncaptering untuk menangkap mata air, satu bak reservoir sebagai tempat penampungan air, serta tiga hidran umum yang memungkinkan masyarakat memperoleh air bersih lebih dekat dengan rumah mereka.

Namun perubahan ini tidak hanya dibangun melalui infrastruktur. Plan Indonesia juga memperkuat kapasitas masyarakat agar layanan air bersih dapat terus berjalan dalam jangka panjang. Sebanyak 7 anggota Badan Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (BP-SPAM) mendapatkan pelatihan teknis terkait pengoperasian dan pemeliharaan sistem air bersih, serta pelatihan pengelolaan keuangan agar sarana yang telah dibangun dapat dikelola secara berkelanjutan dan transparan oleh masyarakat.

Semangat perubahan itu kemudian turut mendapat dukungan dari pemerintah desa. Melihat manfaat yang dirasakan masyarakat, pemerintah desa melanjutkan pengembangan sistem air bersih dengan membangun 2 hidran umum tambahan, dan hingga saat ini satu hidran umum telah selesai dibangun dan dimanfaatkan oleh warga.

Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan Plan Indonesia membuka jalan bagi perubahan yang selama ini hanya menjadi harapan.

Lalu pada Februari 2026, perubahan yang ditunggu-tunggu akhirnya hadir. Air bersih mulai mengalir lebih dekat dengan rumah warga, termasuk rumah Cheril. Hari itu menjadi salah satu momen yang tidak akan pernah ia lupakan.

Untuk pertama kalinya, ia tidak perlu lagi memanggul jerigen dan berjalan berjam-jam menuju sumber air.

Untuk pertama kalinya, ia bisa mendapatkan air bersih tanpa harus menembus hutan dan perbukitan.

Untuk pertama kalinya, impian sederhana memiliki akses air bersih di dekat rumah menjadi kenyataan.

Perubahan itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, namun bagi Cheril, perubahan tersebut berarti segalanya. Kini waktu dua jam yang sebelumnya habis untuk mengambil air dapat digunakan untuk kegiatan lain yang jauh lebih bermanfaat. Ia memiliki lebih banyak waktu untuk belajar,  lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas sekolah, lebih banyak waktu untuk beristirahat, dan yang terpenting, lebih banyak waktu untuk menikmati masa remajanya.

Tidak ada lagi perjalanan panjang yang menguras tenaga setiap sore, tidak ada lagi ketakutan menyusuri jalur sepi menuju sumber air, tidak ada lagi kekhawatiran apakah persediaan air di rumah cukup untuk kebutuhan esok hari, air yang mengalir di dekat rumah tidak hanya memudahkan kehidupan sehari-hari. Air tersebut juga membawa kembali kesempatan yang selama ini hilang dari kehidupan Cheril. Kesempatan untuk bermimpi, kesempatan untuk belajar, kesempatan untuk menjadi anak-anak.

Mimpi yang Kini Mengalir Bersama Air Bersih

Hari ini, ketika berdiri di dekat jaringan air bersih yang mengubah kehidupannya, senyum Cheril tampak lebih cerah daripada sebelumnya.

Ia masih memiliki cita-cita yang sama, ia masih ingin menjadi seorang guru, namun kini jalan menuju impiannya terasa sedikit lebih ringan.

Tidak karena tantangan hidupnya telah sepenuhnya hilang, melainkan karena satu beban besar yang selama bertahun-tahun menguras waktu dan tenaganya telah terangkat.

Dengan akses air bersih yang lebih dekat, ia dapat memberikan lebih banyak perhatian pada sekolah dan masa depannya.

“Dulu setiap hari saya harus berjalan jauh ke hutan hanya untuk mengambil air. Rasanya capek sekali, kadang saya tidak sempat belajar karena sudah terlalu lelah. Seragam sekolah saya jarang dicuci karena air terbatas, sampai warnanya tidak lagi putih,” kata Cheril.

Wajahnya kemudian berbinar ketika menceritakan perubahan yang kini ia rasakan.

“Sekarang setelah ada jaringan air bersih dari Plan, saya bisa langsung mengambil air di dekat rumah. Saya sangat senang dan bersyukur karena saya dan teman-teman tidak perlu capek lagi setiap hari hanya untuk menimba air. Saya bisa lebih fokus belajar dan mengejar cita-cita saya menjadi guru.”

Perubahan ini kini dirasakan oleh seluruh masyarakat desa. Sekitar 300 jiwa dari 60 kepala keluarga, termasuk 123 anak sponsor dan mantan anak sponsor, memiliki akses air bersih yang lebih dekat, aman, dan layak. Bagi anak-anak seperti Cheril, perubahan tersebut berarti lebih dari sekadar kemudahan memperoleh air. Perubahan itu menghadirkan kembali waktu, kesempatan, dan harapan yang sebelumnya perlahan hilang akibat keterbatasan.

Cerita Cheril menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih bukan sekadar soal infrastruktur.

Air bersih adalah tentang kesempatan.

Tentang kesehatan.

Tentang pendidikan.

Tentang keselamatan anak-anak.

Dan yang paling penting, tentang masa depan.

Bagi Cheril, jaringan perpipaan sepanjang lebih dari 2.000 meter bukan hanya saluran air yang menghubungkan sumber dengan pemukiman.

Jaringan itu adalah jembatan yang menghubungkan seorang anak perempuan dengan mimpinya.

Setiap tetes air yang kini mengalir di dekat rumahnya membawa harapan baru, bahwa suatu hari nanti, Cheril akan berdiri di depan kelas sebagai seorang guru, menginspirasi generasi berikutnya untuk terus bermimpi, tidak peduli seberapa berat perjalanan yang harus mereka tempuh.

Ditulis oleh: Yosinta Marturia│Editor: Agus Haru│Foto: Plan Indonesia/ Yosinta Marturia

Bagikan :