Sayur Segar di Pekarangan Rumah: Menyemai Harapan di Tengah Sulitnya Akses Air Bersih Lembata
19 January 2026
Dengan langkah pasti, Eka (26) menyusuri lorong-loron di desa tempat tinggalnya, di Lembata. Sore itu, dia tampak antusias ingin memamerkan hasil pertanian permakultur yang selama ini ia kembangkan bersama warga desa.
Di rumah salah satu keluarga dampingan, empat buah planter bag diletakkan tepat di dinding bangunan itu. Deretan planter bag yang ditumbuhi tanaman terung ini dipagar dengan jaring setinggi lutut dengan panjang sekitar 3 meter.
“Ini untuk melindungi terung-terung ini dari kambing dan ayam. Kalau tidak pakai begini pasti dipatok ayam atau dimakan kambing milik warga,” kata Eka.
Dua di antara empat tanaman terung ini telah berbuah. Ukurannya belum seberapa besar dan belum siap untuk dipanen. Sementara dua lainnya tidak berbuah dengan batang yang sudah mulai keriput.
“Kalau ini mau kami ganti dengan bibit yang baru,” kata Eka sambil menunjuk ke tanaman terung yang nyaris mati itu. Pemilik rumah tersebut kebetulan sedang tidak berada di tempat.
Belajar Bertani dengan Cara yang Berbeda
Sebagai fasilitator muda dalam program pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan Iklim (PRB API) Plan Indonesia, Eka mengatakan, konsep pertanian permakultur seperti ini sudah mereka lakukan sejak bulan Januari 2025.
Inisiatif ini mereka jalankan setelah mengikuti pelatihan pertanian cerdas iklim di Lewoleba, dan dilanjutkan dengan praktik pelatihan permakultur di Lerahinga.
Di tahap ini, Eka, Azi, dan Rian belajar membuat media tanam, pupuk dan pestisida organik. Ia tidak pernah menduga sebelumnya bahwa pertanian yang ia bayangkan sulit, ternyata bisa dijalankan dengan konsep dan metode yang sederhana seperti permakultur.
“Saya bersama dua teman saya, Rian dan Azi mengikuti kegiatan tersebut. Lalu kami kembali ke desa untuk buat bersama keluarga dampingan Plan Indonesia di desa kami,” ujar Eka.
Setelah mengikuti pelatihan, Eka bersama dua rekannya yang lain sepakat untuk mengimplementasikannya ke rumah 43 keluarga sponsor children (SC) Plan Indonesia di desanya.
“Kami sepakat untuk keluarga SC yang siapkan semua bahan-bahan permakultur untuk mereka buat, atau kami yang turun untuk bantu mereka buat juga. Terus waktu sosialisasi itu keluarga juga setuju, untuk yang terung ini, kami fasilitasi tiga orang tersebut buat dulu di rumah kami masing-masing, supaya mereka bisa lihat dan tiru,” ungkap Eka.
Sebanyak 43 kepala keluarga ini mulai mengembangkan tanaman permakultur di rumah mereka masing-masing. Tanaman pertama yang mereka budidayakan adalah terung. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai mengembangkan tanaman lain seperti tomat dan cabai.
Antusias warga yang menjadi penerima manfaat program ini memicu Eka untuk lebih bersemangat menyemai benih-benih baru di halaman rumahnya. Selain untuk ditanam perdana, benih-benih ini ia siapkan juga untuk menggantikan tanaman-tanaman yang rusak.
Di samping rutinitas mengajar anak-anak di PAUD, Eka benar-benar merasakan waktu luangnya di sore hari diisi dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi orang lain.
Praktik pertanian cerdas iklim ini mendorongnya untuk beradaptasi dengan krisis air dan kondisi tanah di desanya yang tergolong tandus. Ia tidak berhenti memotivasi warga untuk melakukan hal yang sederhana untuk perubahan yang lebih besar.
Tidak jauh dari rumah pertama, terdapat sebuah rumah SC yang menurut Eka berhasil mengembangkan model pertanian permakultur. Di rumah ini, Peni (36) berhasil memanen tanaman terung dari empat buah planter bag yang ia peroleh dari aktivitas ini.
Halaman belakang rumah Peni, sebagian besar terdiri hamparan batu karang. Tanahnya tandus yang tidak memungkinkan untuk ditanami berbagai tanaman. Dengan adanya planter bag ini, memungkinkan Fransiska bisa mengembangkan tanaman terung dan tomat selama empat tahun ke depan.
Beberapa hari lalu, Peni baru memanen buah terung dari dua planter bag yang ada. Bahkan, sejak Januari 2025, ia sudah sering memanen buah terung dan tomat. Baginya, empat planter bag di halaman belakang rumah ini telah mengurangi pengeluaraanya untuk membeli sayur di pasar.
“Saya petik untuk kami makan sudah banyak kali. Kami makan terus. Mungkin dua hari lagi juga kami petik di pohon yang di sebelah untuk makan,” ujar Fransiska.
Ia mengungkapkan, meski buah terung tidak sebesar yang ia peroleh di pasar. Namun rasa dari sayur ini memiliki perbedaan. Fransiska percaya bahwa tanaman terung yang ditanam dengan konsep permakultur memiliki kualitas yang lebih baik tanpa ada residu persitisida kimia.
“Jadi kalau bangun pagi misalnya lauk tidak ada itu kami tinggal petik terung lalu goreng makan dengan nasi,” ungkap ibu dua anak ini.
Fransiska dan kepala keluarga lainnya tidak hanya diberi bantuan planter bag. Eka mengatakan mereka semua dilatih membuat media tanam organik dengan konsep permakultur. Kini mereka sadar bahwa di atas tanah yang gersang dengan masalah krisis air, mereka mampu mengembangkan tanaman permakulur ini.
“Jadi kami latih mereka campur tanah, batang pisang, serbuk kayu, terus daun-daunan,” kata Eka.
Bagi Eka, keluarga-keluarga yang berhasil mempraktikan model pertanian permakulur memberinya energi positif untuk terus memotivasi keluarga yang lain.
“Setiap rumah untuk tanaman terung dapat 4 planter bag, jadi masing-masing rumah itu 4 anakan. Jadi total semua 43 KK, jadi ada 172 anakan tanaman. Ini kalau berhasil kita bisa bayangkan berapa banyak uang yang dihemat untuk belanja sayur dari luar, dan berapa yang kita dapat dari hasil penjualan,” ujarnya mantap.
Bertani di Tengah Krisis Air
Salah satu tantangan yang mereka hadapi saat ini, menurut Eka, yakni mereka kesulitan air untuk menyiram tanaman-tanaman ini. Jaringan air bersih untuk desa ini hanya mencukupi bagi warga untuk mandi cuci kakus.
“Sementara untuk siram tanaman warga menggunakan air hujan yang ditampung saat musim hujan atau kami mengimbau mereka untuk menggunakan air bekas seperti cucian beras yang tidak terkontaminasi bahan kimia,” ujarnya.
Menurut Eka, satu planter bag membutuhkan air yang tidak sedikit untuk penyiraman. Tapi dengan teknik permakultur ini, memungkinkan mereka untuk bisa menghemat air.
Sebagai perempuan yang mulai tampil percaya diri sebagai fasilitator, Eka melihat selalu ada cara untuk menjaga semangat keluarga yang gagal membudidayakan terung dan tomat. “Ruang sharing itu selalu ada sehingga saya dan teman-teman yang lain berupaya mencari tahu dan berdiskusi, apa yang menjadi kendala lalu menemukan jalan keluar,” ujarnya.
Kesempatan menjadi fasilitator yang diberikan Plan Indonesia merupakan sesuatu yang ia syukuri. Berbekal pelatihan yang ia ikut beberapa kali, tanpa ragu Eka terus mendorong warga desa agar tidak menyerah menghadapi masalah krisis air dan ekonomi yang mereka hadapi.
“Untuk keluarga yang anakan terungnya mati, sekarang kami masih siap anakan terung sebagai pengganti,” ungkapnya.
Bicara soal teknik pertanian permakultur, ia melihat tantangan lain yang berada di depan mata adalah kesibukan orang tua dalam bekerja, yang membuat tanaman-tanaman ini luput dari perhatian.
Dari masalah ini, Ia juga mulai memetakan kondisi desa, bagaimana faktor sosial dan ekonomi memiliki pengaruh yang kuat dalam sukses tidaknya pertanian permakultur yang sedang mereka kembangkan.
“Tantangannya adalah kadang sayur-sayur ini luput dari perhatian. Tidak semua orang menyiramnya setiap hari karena kesibukan. Ada yang dalam satu keluarga bapaknya marantau, jadi kadang saat anak pulang sekolah mereka lupa siram sehingga tanamamnya mati,” ujarnya.
Ia berharap program dampingan yang diinisasi oleh Plan Indonesia ini suatu hari dapat memberi manfaat yang lebih lebih besar, yakni kemandirian pangan bagi masyarakat desa. Oleh karena itu, menurutnya, keterlibatan berbagai pihak termasuk pemerintah desa menjadi syarat utama tercapainya tujuan ini. Perlahan namun pasti, dengan bekal pengetahuan dan pelatihan dari Plan Indonesia, ia optimis suatu saat nanti mimpi ini bisa terwujud.
“Kalau semua pihak bisa berkolaborasi dengan mimpi yang sama, saya rasa ini bisa terwujud. Menurut saya, dukungan pemerintah desa dan dorongan yang kuat dari para orang tua, dan edukasi yang baik ke anak-anak jadi kunci utama,” pungkasnya.
Ditulis oleh: Andri Atagoran | Editor: Alfred Ike Wurin | Foto: Alfred Ike Wurin/Plan Indonesia