Pohon Masalah: Media Edukasi Isu Program kepada Anak-anak Di Nagekeo
18 November 2025
Di salah satu desa dampingan Plan Indonesia di Nagekeo, suasana sejuk menyelimuti desa saat kegiatan Participatory Rural Appraisal (PRA) berlangsung. Kegiatan ini melibatkan sekitar 8 anak dan 30 orang dewasa, dengan fokus pada pengenalan isu-isu di desa melalui pendekatan Pohon Masalah. Meskipun metode ini umumnya digunakan untuk orang dewasa, fasilitator mencoba menerapkannya kepada anak-anak dengan pendekatan yang lebih sederhana dan menyenangkan.
Menggunakan bahasa lokal dan ungkapan yang mudah dipahami, fasilitator memulai diskusi dengan anak-anak tentang berbagai isu yang mereka hadapi di desa. Isu-isu seperti air bersih, stunting, diare, dan bencana alam dibahas secara terbuka. Untuk mencairkan suasana, anak-anak diajak bermain “tepuk hebat” dan “tepuk salut” sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi mereka.
Salah satu anak, Kiran, mengangkat isu air bersih. “Pak, kami harus beli air karena sumbernya jauh. Ada 9 keluarga yang mandi dan ambil air di mata air yang cukup jauh,” ujarnya. Ia menambahkan, “Air yang kami minum bau akar, Pak.” Namun, anak-anak lain menyampaikan bahwa sebagian besar wilayah desa sudah memiliki akses air bersih melalui sistem perpipaan. Diskusi ini menunjukkan adanya ketimpangan akses antar wilayah dalam satu desa.
Saya, Yustinus Weke Wea sebagai salah satu, Field Development Officer (FDO) Plan Indonesia, kemudian mengangkat isu pendidikan. Saya bertanya “Adakah teman-teman yang putus sekolah?” Tores menjawab, “Ada Om, tiga orang.” Ketika ditanya alasannya, Tores menjelaskan, “Mereka isap rokok dan cat rambut, akhirnya malu ke sekolah dan tidak masuk lagi.” Jawaban ini membuka ruang diskusi tentang faktor sosial dan psikologis yang memengaruhi keberlanjutan pendidikan anak.
Anak-anak pun diberi apresiasi melalui “tepuk hebat” atas keberanian mereka menyampaikan pendapat. Selanjutnya, Jores mengangkat isu kebencanaan. “Om, di desa kita masih ada longsor. Baru-baru ini ada longsor yang menutupi jalan raya,” katanya. Fasilitator menanggapi dengan pertanyaan reflektif, “Menurut adik-adik, bagaimana cara agar aman dari longsor?” Anak-anak menjawab serempak, “Kami menjauh dari lokasi longsor, Om.”
Selama kegiatan, fasilitator menggunakan meta plan untuk mencatat setiap isu yang diangkat anak-anak. Catatan tersebut ditempelkan pada flipchart bergambar pohon beringin, yang menjadi simbol Pohon Masalah. Akar pohon menggambarkan penyebab masalah, batang sebagai inti persoalan, dan daun sebagai dampak yang dirasakan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana identifikasi masalah, tetapi juga membangun kesadaran anak-anak terhadap kondisi lingkungan mereka. Dengan pendekatan yang inklusif dan menyenangkan, anak-anak mampu menyuarakan pengalaman dan pandangan mereka secara aktif. Mereka tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga subjek yang berperan dalam proses perencanaan.
Melalui metode Pohon Masalah, fasilitator berhasil menggali isu-isu penting dari perspektif anak-anak. Kegiatan ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kapasitas untuk memahami dan menganalisis situasi di sekitar mereka, asalkan diberikan ruang dan pendekatan yang sesuai.
Demikianlah cerita singkat dari Nagekeo tentang bagaimana anak-anak dapat dilibatkan dalam proses identifikasi isu di desa melalui metode Pohon Masalah. Sebuah langkah kecil namun bermakna dalam membangun partisipasi anak dalam pembangunan desa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Ditulis oleh: Yustinus Wea │Editor: Agus Haru│Foto: Plan Indonesia/Aloysius Doe Meo