Petani Cerdas Iklim Melawan Ancaman Tanah Asin
03 August 2026
Para petani di Desa Penyaring dihantui oleh gagal panen akibat meluasnya tanah asin. Tanaman dibuat mengering dan mati. Tapi kini secercah harapan kembali menyala.
==
Aroma tanah kering menyengat di bawah terik matahari yang membakar Desa Penyaring, Kecamatan Moyo Utara, Kabupaten Sumbawa. Hamparan padi di sawah menyuguhkan pemandangan memilukan. Sebagian tanaman terlihat menguning dan mengering.
Dari tepi sawah, Pak Anto, anggota kelompok tani Orong Desa, berdiri memandangi lahannya dengan tatapan kosong. Tangannya bertolak pinggang sambil memperhatikan batang padi yang mulai mati.
“Lahan saya padinya lambat laun mengering dan menghilang. Dari empat petak yang saya tanam, satu petak mengering perlahan,” keluhnya dengan nada pasrah.
Bagi petani setempat, fenomena “padi menghilang” bukan cerita baru. Kondisi itu semakin sering mereka alami dalam beberapa tahun terakhir. Bagi Pak Anto, ini adalah malapetaka. Sebab sawah baginya bukan sekadar lahan pertanian, tetapi sumber utama kehidupan keluarganya.
Dengan cuaca yang kian tidak menentu, sebagian besar petani Desa Penyaring hanya dapat menanam padi satu kali dalam setahun. Mereka mengandalkan air hujan pada musim tanam bulan Desember. Hasil panen pun tidak mereka jual, melainkan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Tapi hasil panen di desa ini terus menurun. Jumlah produksi padi hanya sekira 4 ton per hektare. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan desa tetangga yang mencapai 7 ton per hektare.
Rendahnya produktivitas pertanian di Desa Penyaring disebabkan oleh meningkatnya kadar garam pada lahan pertanian, yang dikenal juga sebagai tanah asin.
Tanah asin atau salinitas tanah menyebabkan akar tanaman sulit menyerap air dan unsur hara secara optimal. Dampaknya terlihat langsung pada pertumbuhan tanaman. Ujung daun mengering, kemudian menguning; pertumbuhan menjadi lambat; secara perlahan tanaman akan mati. Petani pun gagal panen.
Tanah asin juga mengganggu proses fotosintesis, pertumbuhan akar, dan penyerapan unsur hara seperti kalium, kalsium, dan magnesium, sehingga tanaman menjadi lemah.
Kondisi tersebut membuat petani semakin rentan mengalami gagal panen. Padahal hasil pertanian menjadi sumber utama kebutuhan pangan keluarga, termasuk untuk persiapan hari besar keagamaan seperti Idulfitri.
Selain menurunkan hasil panen, keterbatasan air juga memperparah kondisi lahan. Petani memilih menahan air di petakan sawah agar tidak keluar karena pasokan air sangat terbatas. Setelah musim tanam selesai, lahan biasanya dibiarkan dan dimanfaatkan untuk penggembalaan ternak sebagai sumber tambahan penghasilan keluarga.
Bila tidak segera ditangani, kondisi ini berpotensi mengancam ketahanan pangan keluarga petani di masa depan.

Program CERAH Hadir Mendampingi Petani
Beranjak dari kondisi tersebut, Program Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan (CERAH) Plan Indonesia hadir bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Moyo Utara dalam mencari solusi pada masalah ini.
Ketersediaan air bersih memiliki dampak langsung terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan anak. Ketika akses air terbatas, anak-anak, terutama anak perempuan, sering kali menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi serta kehilangan kesempatan belajar karena harus membantu memenuhi kebutuhan air keluarga. Melalui Program CERAH, Plan Indonesia mendampingi petani dalam menghadapi perubahan iklim dan penurunan produktivitas lahan yang juga dapat berdampak pada kelangsungan hidup keluarganya di masa depan.
Pendampingan dilakukan melalui pendekatan partisipatif. Melibatkan petani secara langsung dalam proses identifikasi masalah dan penyusunan solusi di lapangan.
Melalui kegiatan Pelatihan Pertanian Cerdas Iklim, para petani berkumpul di hamparan sawah yang beralaskan terpal sederhana. Mereka berdiskusi dengan hangat dan terbuka. Petani laki-laki dan perempuan bersama petugas lapangan membahas berbagai tantangan usaha tani yang mereka hadapi.
Salah seorang petani menyampaikan kekhawatirannya menjelang musim panen.
“Hasil sawah sekarang semakin sedikit, padahal sebentar lagi Idulfitri. Beras dari sawah inilah yang biasanya kami gunakan untuk kebutuhan makan keluarga, zakat fitrah, dan sedekah,” ujarnya.
Koordinator BPP Kecamatan Moyo Utara menjelaskan, rendahnya produktivitas padi di
Desa Penyaring menjadi perhatian penyuluh. Dari hasil identifikasi lapangan, kondisi tanah asin menjadi salah satu faktor dominan penyebab menurunnya hasil produksi pertanian.
Strategi Adaptasi Menghadapi Tanah Asin
Program CERAH bersama BPP Kecamatan Moyo Utara terus memperkuat langkah nyata dalam membantu petani menghadapi permasalahan tanah asin.
Kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada diskusi dan perencanaan, tetapi juga diwujudkan melalui kegiatan pendampingan dan penerapan teknologi adaptasi yang dikenal dengan Pertanian Cerdas Iklim atau Climate-Smart Agriculture(CSA).
Salah satu upaya yang akan diterapkan yakni pemilihan benih yang toleran terhadap tanah asin. Kemudian, pengelolaan air dan lahan dilakukan secara mekanis melalui pembuatan bedengan. Teknik ini bertujuan untuk mengurangi genangan air yang mengandung kadar garam tinggi. Dengan begitu, kondisi tanah menjadi lebih baik dan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Selain itu, petani juga didorong untuk melakukan perbaikan kualitas tanah melalui penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati. Penerapan teknik ini diharapkan mampu memperbaiki sifat kimia dan biologis tanah, meningkatkan kesuburan, serta membantu menekan dampak negatif kadar garam pada lahan pertanian.
Pendampingan intensif kepada petani turut menjadi fokus utama dalam kegiatan ini. Melalui rencana kegiatan sekolah lapang, petani diharapkan mampu memahami serta menerapkan teknik budi daya yang sesuai untuk menghadapi kondisi tanah asin.
Keterlibatan generasi muda juga menjadi bagian penting dalam mendukung penyebaran informasi pertanian. Pemanfaatan media komunikasi dan penyebaran informasi secara digital diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi kepada masyarakat. Sehingga inovasi dan pengetahuan pertanian dapat diterima lebih luas oleh petani dan keluarga tani di wilayah Kecamatan Moyo Utara.
Perubahan kondisi lingkungan memang menjadi tantangan besar bagi petani di Desa Penyaring. Namun, melalui kolaborasi, pendampingan, dan semangat belajar bersama, harapan baru mulai tumbuh bagi petani.
Dengan dukungan berbagai pihak, Pak Anto dan petani lainnya percaya bahwa lahan pertanian di Desa Penyaring masih dapat kembali produktif dan menjadi penopang ketahanan pangan keluarga.
Ditulis oleh: Abdul Rohman | Editor: Annisa Hanifa