Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Perubahan Iklim di Pekarangan Rumah Lithdiana

Perubahan Iklim di Pekarangan Rumah Lithdiana

03 October 2024

“Akhir-akhir ini dingin sekali. Sudah dua minggu hujan gerimis tidak berhenti. Kami punya sayur juga banyak yang rusak dimakan ulat,” ungkap Lithdiana (22), alumni anak sponsor Plan Indonesia dari salah satu desa di Nagekeo.  

*** 

Nagekeo, Nusa Tenggara Timur – Di sebuah desa kecil di salah satu lembah hijau Kabupaten Nagekeo, cerita tentang ketahanan dan inovasi lokal muncul dari kelompok kaum muda desa yang berhadapan langsung dengan dampak perubahan iklim. Desa yang dikenal sebagai salah satu daerah subur dengan hasil pertanian melimpah, kini menghadapi tantangan besar akibat cuaca yang tak menentu. 

Lithdiana, yang ditemui beberapa waktu setelah kembali dari Kupang bercerita tentang isi percakapan dengan ayahnya. Dari percakapan itu dia mengetahui kalau dari tahun ke tahun hasil panen semakin menurun. Hujan berkepanjangan dan cuaca yang tidak menentu mulai menghancurkan hasil panen. “Menurut bapa dan nenek, cengkeh dari tahun ke tahun makin sedikit yang bisa dijual. Kadang sampai gagal panen karena bunga gugur kena hujan,” ujar Lithdiana. 

Di tempat tinggal mereka, kalender musim bergeser tanpa kepastian. Kondisi cuaca di berubah dengan cepat. Bukan panas ekstrem yang melanda desa ini, tetapi hujan sedang yang berkepanjangan. Selain itu, serangan hama semakin parah. Buah pisang menghitam dan mati, dan banyak komoditas utama lainnya gagal tumbuh. Bagi masyarakat yang bergantung pada hasil pertanian, situasi ini adalah ancaman langsung terhadap penghidupan mereka. 

Perubahan iklim, yang selama ini dianggap sebagai isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari, kini menjadi kenyataan yang harus dihadapi petani disini. Mereka bukan hanya berhadapan dengan ketidakpastian cuaca, tetapi juga dampak ekonomi dari menurunnya hasil panen. 

Melihat situasi ini, Sensi (30), ketua Karang Taruna setempat, merasa perlu untuk bertindak. Setelah mengikuti pelatihan Y-Adapt yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia, ia bersama teman-temannya menyusun rencana aksi untuk membantu desa mereka beradaptasi dengan perubahan iklim. “Kami diminta membuat proposal rencana aksi yang jika lolos, akan mendapat dukungan penuh untuk menjalankannya,” kata Sensi. 

Dengan dukungan dari Plan Indonesia melalui program Youth-Led Climate Resiliance, Sensi bersama para pemuda desa, termasuk Lithdiana, untuk mulai membuat fermentasi pakan ternak dan pupuk organik. Mereka bekerja sama dengan Os, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) berusia 54 tahun yang telah mengabdi di desa itu selama 15 tahun. Os mendampingi kaum muda ini dengan antusias, mengajarkan mereka cara memproduksi pupuk bokasi dan pestisida nabati. 

“Kami melihat ini sebagai peluang untuk melestarikan kebiasaan bertani organik, karena masyarakat di sini belum pernah menggunakan bahan kimia dalam berkebun,” ungkap Os. 

Tantangan Perubahan Iklim dalam Pertanian Organik 

Meski semangat tinggi, aksi ini tidak berjalan mulus. Pada penanaman pertama, sayuran seperti sawi, kangkung, dan mentimun diserang hama dan sebagian gagal tumbuh akibat hujan deras. Namun, kegagalan ini tidak mematahkan semangat mereka. Mereka memulai kembali dari nol, memperbaiki metode dan strategi, hingga akhirnya berhasil memanen mentimun, sawi, dan kangkung yang tumbuh subur. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda dapat memanfaatkan pertanian organic untuk meningkatkan perekonomian kaum muda bahkan di tengah tantangan krisis iklim.  

Os juga mengajarkan kaum muda tentang pentingnya memahami perubahan cuaca dan kalender musim. Dengan pemahaman ini, mereka bisa menyesuaikan waktu tanam untuk menghindari musim hujan yang tidak terduga. 

Tidak hanya itu, Os juga berupaya agar kelompok tani muda ini terdaftar di Balai Penyuluh Pertanian setempat, sehingga mereka bisa mendapatkan akses ke benih dan memanfaatkan berbagai program pemberdayaan dari pemerintah. 

Inisiatif yang dimulai oleh Sensi dan teman-temannya adalah contoh nyata bagaimana komunitas lokal dapat menghadapi dampak perubahan iklim dengan inovasi dan semangat kebersamaan. “Harapan kami sederhana saja, sayur organik tanpa bahan kimia selalu tersedia untuk penduduk desa. Dan suatu hari nanti, kami bisa menembus pasar Nagekeo, sehingga memberikan dampak ekonomi bagi kelompok ini,” kata Sensi. 

Kegiatan ini juga memberi makna tersendiri bagi Lithdiana. Berbekal aksi komunitas dalam program YLCR, pada tahun 2024, Lithdiana bersama Sensi diundang menjadi pembicara pada hari peringatan lingkungan hidup di Kota Kupang. Sebuah pengalaman baru yang sarat pembelajaran baginya. Momentum ini juga menjadi motivasi untuk dia memperdalam dan memperkuat aksi kaum muda di desanya untuk kerja-kerja adaptasi perubahan iklim.  

Bagi desa yang selama ini bergantung pada pertanian, langkah-langkah kecil ini bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan dan ekonomi. Namun, tantangan perubahan iklim terus menghantui, dan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi masyarakat, sangat dibutuhkan. 

Ditulis oleh: Alfred Ike Wurin | Editor: Moudy Alfiana | Foto: Alfred Ike Wurin/Plan Indonesia 

Bagikan :