Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Perjalanan Belajar Bersama: Transformasi Pengasuhan Amat dan Fitri di Desa Gelangsar
Keluarga Amat, orang tua dari Desa Gelangsar, Lombok Barat

Perjalanan Belajar Bersama: Transformasi Pengasuhan Amat dan Fitri di Desa Gelangsar

20 April 2026

Pak Ahmad Fikri (34), yang akrab disapa Amaq Amat, dan Ibu Nurul Safitri (26), atau Inaq Fitri, adalah pasangan yang tinggal di Desa Gelangsar, Lombok Barat. Perjalanan mereka sebagai orang tua dimulai di usia yang cukup muda. Mereka menikah ketika Fitri baru berusia 17 tahun dan belum menyelesaikan pendidikan SMA, sementara Amat berusia 23 tahun.

Karena usia yang masih muda, mereka memulai kehidupan berkeluarga dengan pengetahuan dan pengalaman pengasuhan yang sangat terbatas. Dalam membesarkan anak pertama, mereka lebih banyak mengandalkan coba-coba. Asupan gizi belum menjadi prioritas, dan komunikasi dengan anak seringkali kurang efektif.

Mereka juga sering memberikan MPASI instan, yang berdampak pada masalah berat badan anak pertama pada masa itu, serta kebiasaan hingga kini yang sulit makan sayur. Sumber informasi mereka saat itu hanya berasal dari Posyandu dan saran keluarga besar.

Titik balik terjadi pada pertengahan 2025, ketika Fitri mulai aktif mengikuti kelas Bina Keluarga Balita (BKB) di desanya. Dengan keinginan kuat untuk menjadi orang tua yang lebih baik terutama bagi anak keduanya, ia rutin mengikuti setiap sesi.

Fitri merasa materi tentang pola asuh dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sangat praktis dan mudah diterapkan. Metode penyampaian yang interaktif membuat materi mudah dipahami dan langsung bisa dipraktikkan di rumah. Bahkan insentif sederhana seperti sabun cuci yang diberikan dalam kelas turut memotivasinya untuk menjaga kebersihan keluarga.

Perubahan yang dirasakan Fitri sangat signifikan, terutama jika dibandingkan antara anak pertama dan anak kedua. Jika anak pertama terbiasa dengan makanan instan dan sulit makan sayur, kini Fitri menyiapkan MPASI real food untuk anak keduanya.

Amat pun melihat perbedaan yang jelas: anak kedua mereka tumbuh lebih sehat, pola makan lebih terkontrol, dan lebih jarang mengalami tantrum. Fitri juga merasakan perubahan dalam dirinya, ia menjadi lebih sabar dan mampu mengelola emosi dengan lebih baik dalam menjalani perannya sebagai ibu.

Dengan menerapkan menu gizi seimbang “empat bintang” yang dipelajari dari kelas BKB, ia melihat perkembangan anak keduanya jauh lebih optimal dibandingkan anak pertama di usia yang sama.

Perubahan ini semakin kuat ketika Amat juga terlibat melalui Kelas Ayah. Pembagian peran dalam keluarga menjadi jauh lebih seimbang. Jika sebelumnya Amat jarang terlibat dalam pengasuhan karena kesibukan kerja, kini ia mulai mengatur waktu dan lebih terlibat dalam merawat anak.

Ia juga menjadi lebih sabar dan tidak mudah marah. Dalam menghadapi masalah kesehatan anak, ia kini memilih berkonsultasi dengan bidan atau kader desa dibandingkan mempercayai mitos.

Ia teringat ketika anak keduanya mengalami diare. Jika dulu ia mungkin akan membawa ke belian (dukun), kini ia memilih mengikuti saran tenaga kesehatan dan menghindari makanan instan. Ia juga mengambil keputusan penting untuk tidak lagi merokok di dekat anak.

Bagi Fitri dan Amat, pelajaran paling berharga dari kelas pengasuhan ini adalah bahwa membesarkan anak merupakan proses belajar bersama yang terus berlangsung antara suami dan istri.

Mereka berharap kelas ini terus berlanjut agar semakin banyak orang tua yang mendapatkan manfaat. Bagi mereka, prinsip sederhana ini menjadi pegangan:

“Lebih baik terlambat belajar daripada tidak sama sekali. Mari menjadi orang tua yang mau belajar dan bertumbuh, karena orang tua hebat adalah mereka yang berjalan bersama dalam prosesnya.”

Ditulis oleh: Zamroni Rangga Putrawan│Editor: Annisa Hanifa│Foto: Plan Indonesia/Zamroni Rangga Putrawan

Bagikan :