Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Pasukan Muda Lingkara, Penjaga Alam Pulau Sumbawa

Pasukan Muda Lingkara, Penjaga Alam Pulau Sumbawa

04 August 2026

Kutipan terkenal Bung Karno, “Beri aku 10 kaum muda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” menemukan relevansinya di Pulau Sumbawa. Lewat komunitas Lingkara, anak-anak muda bergerak menjaga kelestarian alam.

===

Menjadi anak muda di Kabupaten Sumbawa membuat saya tumbuh bersama alam. Hamparan laut luas, perbukitan hijau, hutan, sungai, dan masyarakat yang dekat dengan alam menjadi bagian dari keseharian saya sejak kecil.

Beranjak dewasa, saya mulai memahami bahwa alam bukan hanya sekadar pemandangan, tetapi ruang hidup yang membentuk cara pandang kami dalam memahami kehidupan. Nyatanya, di balik semua keindahan itu, ada keresahan yang perlahan tumbuh dalam diri saya.

Saya mulai melihat bagaimana sampah semakin mudah ditemukan di ruang publik, pesisir, bahkan di sungai. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran warga untuk menjaga lingkungan masih rendah, kerusakan alam mulai dianggap sebagai hal biasa. Di sisi lain, banyak anak muda bersikap apatis. Masalah lingkungan seolah-olah bukan urusan mereka.

Keresahan itu terus datang berulang kali. Setiap melihat kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan, saya merasa bahwa tidak cukup hanya menjadi penonton. Saya percaya bahwa perubahan harus dimulai dari keberanian kecil untuk peduli.

Dari keresahan itulah, saya dan beberapa teman sebaya mulai berdiskusi. Awalnya hanya percakapan sederhana tentang mimpi dan harapan untuk Sumbawa. Kami berbicara tentang lingkungan, pendidikan, perilaku masyarakat, dan bagaimana anak muda sebenarnya memiliki kekuatan besar untuk menciptakan perubahan jika diberi ruang.

Percakapan-percakapan kecil itu kemudian berkembang menjadi ruang belajar bersama. Kami saling bertukar ide, saling menguatkan, hingga akhirnya lahirlah Komunitas Lingkara.

Bagi kami, Lingkara bukan sekadar komunitas. Lingkara adalah rumah bagi anak muda yang ingin bergerak, belajar, dan bertumbuh bersama untuk lingkungan dan masyarakat. Kami mulai dari Lingkara untuk perubahan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Menyalakan Kepedulian dari Langkah Sederhana

Lingkara dibentuk pada tahun 2025, lahir dari keyakinan bahwa kepedulian tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Kami pun mulai mengajak anak muda untuk turun langsung ke masyarakat melalui aksi sosial, edukasi lingkungan, dan kegiatan kemanusiaan sederhana.

Salah satu caranya adalah dengan Green Youth Movement melalui gerakan EcoYouth.

Melalui gerakan ini, generasi muda diajak untuk tidak hanya menjadi penerima dampak kerusakan lingkungan, melainkan didorong untuk menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan solusi nyata di daerah mereka sendiri.

Plan Indonesia percaya bahwa kaum muda memiliki peran penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Ketika mereka memperoleh pengetahuan, ruang partisipasi, dan kesempatan untuk memimpin, kaum muda mampu menjadi penggerak solusi bagi tantangan lingkungan dan perubahan iklim di komunitasnya.

Perubahan perilaku ramah lingkungan ini ditanamkan sejak usia sekolah melalui program Sekolah Adipura dan program Eschalator (Environment School Character and Behavior) pada tahun 2026.

Kedua program ini fokus pada pendidikan karakter dan pembiasaan sehari-hari di lingkungan sekolah, seperti memilah sampah dan menjaga kebersihan. Dengan mengintegrasikan edukasi ke dalam aktivitas harian, siswa dibimbing untuk membangun kebiasaan positif yang perlahan tumbuh menjadi budaya bersama yang berkelanjutan.

Berkat inisiatif ini, generasi muda mulai menyadari bahwa menjaga kelestarian alam bukan hanya tentang lingkungan itu sendiri, melainkan fondasi penting dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Belajar tentang Lingkungan, Gender, dan Inklusi

Perjalanan Lingkara juga membawa saya pada banyak proses belajar baru. Salah satu pengalaman penting adalah ketika saya menjadi salah satu peserta dalam pelatihan gender dan inklusi yang diinisiasi oleh Program Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan (CERAH) dari Plan Indonesia pada tahun 2026.

Sebagai kaum muda, terutama  perempuan, saya sering menemui berbagai ketimpangan gender di lingkungan sekitar saya. Pada pelatihan ini, saya juga mulai mengenal isu gender dan inklusi yang sebelumnya tidak pernah menjadi isu penting bagi saya.

Saya juga mulai memahami bahwa isu lingkungan tidak bisa dipisahkan dari isu gender dan inklusi sosial. Nyatanya, anak, perempuan, dan orang dengan disabilitas termasuk kelompok yang paling rentan terhadap perubahan iklim dan bencana iklim. Namun, saya percaya bahwa setiap orang, termasuk perempuan, anak muda, orang dengan disabilitas, dan kelompok rentan, harus memiliki ruang yang setara untuk terlibat dalam proses perubahan.

Perubahan iklim dan krisis lingkungan sering kali memberikan dampak yang lebih besar kepada kelompok rentan, termasuk anak-anak, remaja perempuan, dan orang dengan disabilitas. Karena itu, upaya menjaga air dan lahan perlu memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam proses perubahan.

Kesadaran tersebut kemudian saya bawa menjadi bagian penting dalam cara Lingkara membangun program-programnya. Kami ingin memastikan bahwa setiap gerakan yang dibangun bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga menghadirkan ruang yang aman, terbuka, dan memberikan kesempatan bagi semua orang untuk bertumbuh bersama. Lingkungan yang sehat harus berjalan beriringan dengan masyarakat yang inklusif dan setara.

Bagi saya, generasi muda memiliki peran besar dalam masa depan lingkungan. Kami hidup di masa ketika perubahan iklim, krisis sampah, dan kerusakan alam menjadi tantangan nyata. Tetapi saya percaya bahwa anak muda bukan hanya generasi yang akan menerima dampak, melainkan generasi yang mampu menciptakan solusi.

Melalui Program CERAH, Plan Indonesia mendorong kaum muda tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga pemimpin yang mampu memengaruhi perubahan di tingkat komunitas. Kepemimpinan kaum muda menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan yang sehat, ketahanan iklim yang kuat, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Harapan saya sederhana: semoga semakin banyak anak muda di Sumbawa yang percaya bahwa kepedulian kecil mereka berarti. Perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar, tetapi dari keberanian untuk mulai bergerak.

Ditulis oleh: Devira B A

Bagikan :