Orang-Orang Utara Setelah Gempa Flores
14 September 2026
15 Agustus 2026, masih pagi sekali saat Azisa membereskan kamar tidurnya.
“Saya di dalam kamar, tiba-tiba terjadi gempa besar dan kamar langsung rubuh. Saya bersembunyi di sebelah lemari yang tertindih tembok. Setelah gempa berhenti, saya langsung lari ke luar,” kenang Azisa.
Ayahnya panik dan berlari mencarinya di balik reruntuhan rumah. Setelah bertemu, mereka berkumpul bersama warga lainnya di tempat terbuka lalu secara mandiri mendirikan satu tenda darurat.
“Semua rumah di dusun rusak, tapi kami bersyukur semuanya selamat,” ucap Azisa.
***
Pada masa Tanggap Darurat, Tim ERT Plan Indonesia melakukan Rapid Need Assessment dan respons awal, Tim yang bertugas di Kabupaten Ngada dan Kabupaten Manggarai Timur bergerak menyisir jalur pantai utara pulau Flores.
16 Agustus 2026, tim ini tiba di sebuah dusun dengan lanskap yang sangat indah. Namun dampak kerusakan akibat gempa juga sangat parah. Rumah, rumah ibadah, lumbung padi, sekolah rubuh dihantam gempa. Yang berdiri hanya satu rumah kayu, itupun kelihatannya rapuh.
Disini mereka bertemu Azisa, salah satu kaum muda yang sempat berdialog langsung dengan tim respons. Selain melakukan RNA, tim ini juga menyalurkan terpal untuk shelter, paket Manajemen Kesehatan Menstruasi, serta paket kebersihan (sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi) dalam jumlah yang terbatas tapi cukup untuk mereka bertahan selama beberapa hari ke depan.
Dalam dialog singkat bersama Azisa, dia banyak bercerita tentang kondisi mereka saat ini. “Terus terang, sebagai anak perempuan, saya sangat butuh kamar mandi dan toilet. Biar dari terpal atau tripleks juga tidak apa. Tidak mungkin kami mandi dan toilet di tempat terbuka seperti ini. Semua rumah di sini rubuh. Ada yang kamar mandinya masih ada, tapi kami takut dengan tembok karena gempa susulan masih terus terjadi,” katanya.
Selain itu, dia mengatakan mereka sangat butuh stok pembalut karena ketika gempa terjadi mereka hanya sempat menyelamatkan diri, stok pembalut di rumah rusak tertindih beton. Di kios terdekat? Kiosnya rubuh karena gempa. Padahal ada banyak perempuan dewasa maupun remaja di dusun itu.]

Setelah respons awal di posko itu, Tim melanjutkan perjalanan ke arah barat untuk melakukan RNA di lokasi-lokasi selanjutnya. Ketika tiba di ujung jembatan, tampak kabel-kabel listrik yang putus. Salah seorang anggota tim lalu mengkonfirmasi kondisi penerangan di posko Azisa melalui pesan singkat kepada ketua posko, Zainudin.
Zainudin mengonfirmasi bahwa listrik di dusun mereka padam sejak gempa pertama. Penerangan di posko hanya mengandalkan dua unit panel surya milik masjid yang jangkauannya terbatas.
“Listriknya redup dan tidak bertahan sampai tengah malam, kami gelap sampai pagi.”
Bunyi kalimat terakhir di pesan singkat Zainudin.
Beberapa hari kemudian tim ini kembali berkunjung ke posko Azisa dan membawa beberapa unit lampu darurat, paket shelter berupa tenda, kelambu, dan selimut, paket MHM dan Paket kebersihan plus popok untuk bayi dalam volume yang lebih besar untuk mendukung kebutuhan warga di tenda pengungsian.
Kali ini tidak sempat bertemu Azisa, namun warga terlihat sangat optimis. Secara gotong royong dan mandiri, mereka membongkar kayu kuda-kuda serta seng dari atap rumah yang rubuh untuk dikumpulkan kembali. Semua material yang masih layak dimanfaatkan untuk membangun hunian sementara. Sedangkan ibu-ibu dan anak-anak perempuan mulai sibuk menjemur padi, untuk memastikan stok beras mereka aman.
“Kami hitung musim hujan sudah dekat. Kalau tidak buat rumah darurat, kami sengsara tinggal di tenda karena daerah ini basah. Belum lagi anak-anak perempuan dan ibu-ibu sangat butuh toilet dan kamar mandi darurat, jadi kami gotong royong membuatnya,” ujar Zainudin, koordinator posko.
Dari masyarakat dusun ini, kita belajar tentang partisipasi aktif dan ketangguhan. Suara-suara perempuan di desa didengarkan oleh warga. Kebutuhan toilet dan kamar mandi darurat sebagai ruang aman mereka upayakan untuk terwujud secara mandiri.
“Kami di utara ini jalur sepi, sulit dijangkau. Syukur mereka (relawan) bisa lewat dan bantu kami lampu, tenda, sabun, serta kebutuhan perempuan. Sisanya, kami harus mandiri biar bisa hidup,” pungkas Zainudin.
Ditulis oleh: Alfred Ike Wurin | Editor: Novita Destiana | Foto: Plan Indonesia/Alfred Ike Wurin