Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Nilai Kemanusiaan dari Gubuk Om Nus dan Mama Yulita
Om Nus dan Mama Yulita menyempatkan diri berfoto Ketika tim ERT Plan Indonesia berkunjung ke posko dan rumah mereka.

Nilai Kemanusiaan dari Gubuk Om Nus dan Mama Yulita

01 September 2026

Keluarga kecil itu tinggal di atas bukit, di tengah-tengah kebun mereka. Lokasi rumah mereka cukup tinggi jika dilihat dari jalan raya. Namanya Nus, Istrinya bernama Yulita, pasangan petani sederhana di Nagekeo.

“Biar lebih dekat dengan kebun, dan jaga tanaman yang ada di kebun, kami tinggal disini saja,” Kata Nus.

Mereka memiliki hidup yang damai dan tenang di tempat mereka. Ya, selama ini sudah seperti itu.

Flores 7,7 Magnitudo

“Itu pagi sunyi sekali, anak-anak juga ada yang belum bangun, saya lagi siap alat potong  mau pergi cari makanan buat ternak, tiba-tiba guncangan besar sekali, kami tidak bisa berdiri, jongkok di tanah, lalu dia berhenti, tidak lama dia guncang lebih besar lagi, lebih ngeri lagi,” Kenang Nus.

15 Agustus 2026, sekitar pukul 05.55 WITA gempa dengan kekuatan 7.0 Magnitudo mengguncang pulau Flores, disusul gempa kedua dengan kekuatan 7,7 Magnitudo sekitar pukul 06.20 WITA.

Guncangan dahsyat itu menebar teror dan kepanikan massal di tengah masyarakat. Sistem peringatan dini tsunami segera diaktifkan oleh BMKG, Dalam situasi yang carut-marut itu, gelombang manusia berlari menyelamatkan diri menjauh dari pesisir, mencari tempat perlindungan yang lebih tinggi, ke arah gunung!

Semua mereka ketakutan dan berlari tanpa arah, yang pasti menuju dataran tinggi. Nus dan keluarganya sedang berkumpul di halaman rumah mereka, di titik aman dari pohon-pohon besar yang kapan saja bisa tumbang dan menimpa mereka.

Mata Nus melihat pemandangan yang mengiris hati. Segerombolan manusia berlari kencang menuju ke arahnya, wajah mereka nampak ketakutan. Nus memanggil Yulita. Melihat situasi itu, mereka berdua serentak memanggil para penyintas untuk masuk dan beristirahat di halaman rumah mereka.

“Mai* kita masuk ke sini,” seru Nuh dan Yulita bergantian kepada para pengungsi yang kebingungan.

“Mona** apa, karena kita manusia sama, ayo. Biar bukan keluarga, tapi saya manusia sama dengan kalian, ayo mari kita masuk sini sama-sama supaya kita lindung di tempat yang agak aman.”

Keluarga itu tidak peduli pada status sosial atau asal-usul mereka. Mereka hanya tahu mereka semua adalah sesama manusia yang terluka dan butuh pertolongan.

Nus dan Yulita akhirnya sepakat untuk menampung semua orang itu di halaman rumah mereka.

“Kalau mereka lari terus ke atas, di atas sudah rumput liar semua, saya kasihan, nanti mereka makan apa kalau lari ke atas terus,” Ungkap Yulita.

Hari itu, rumah kecil Nus dan Yulita mendadak menjadi ramai. Dipenuhi orang-orang yang mencari perlindungan karena ketakutan mereka terhadap gempa susulan yang masih terus berlangsung ribuan kali.

Tengah malam, Nus baru menyadari bahwa persediaan air di rumahnya sangat terbatas, apalagi untuk digunakan oleh begitu banyak orang.

Dia menaiki sepeda motornya, membawa serta jerigen, menembus gelapnya malam dan medan yang tidak mudah demi mencari sumber air bersih.

Air itu ia bawa kembali ke rumah kecilnya untuk keperluan memasak dan bertahan hidup bersama warga masyarakat yang berteduh di rumahnya.

Begitu pula dengan tempat tidur dan logistik. Yulita membagi apa pun yang mereka miliki secara adil. Para pengungsi tidur beralaskan terpal seadanya, menatap atap yang juga dibuat dari terpal, merasakan dingin angin malam yang sama di halaman rumah Nus dan Yulita.

Soal makan dan minum, situasinya memang serba sulit. Bantuan dari luar belum menjangkau posko darurat kecil di atas bukit itu. Namun, di sini ketulusan Nus benar-benar terpampang nyata.

Keluarga kecil itu tidak memiliki tabungan melimpah atau lumbung pangan yang besar. Mereka hanya memiliki kebun singkong di belakang rumahnya. Untuk makan bersama pengungsi selama 72 jam pertama pasca bencana, Nus mengajak para tetamu dan keluarganya untuk bergotong-royong menggali kebun singkong miliknya.

Singkong hasil kebun itu di masak oleh Yulita dan mama-mama yang mengungsi di sana untuk dimakan bersama seluruh pengungsi yang bertahan di halaman rumah itu.

“Kita makan apa adanya. Untuk tahan-tahan, kita gali singkong yang kami tanam, gali untuk kita makan sama-sama, apa adanya” ujar Nus tulus.

Mereka memakan singkong rebus itu bersama-sama di halaman rumah. Sambil berupaya untuk saling menguatkan satu sama lain. Tuan rumah dan tamu, semuanya melebur menjadi satu keluarga besar karena solidaritas kemanusiaan yang murni.

Om Nus dan Mama Yulita, hanya orang biasa dari kalangan rakyat kecil.  Ia dan keluarganya juga korban bencana itu. Rumahnya turut terancam, kebunnya terdampak. Seharusnya itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka memilih menutup diri demi keselamatan pribadi.

“Kita sama-sama manusia, yang lari ke sini, yang rumahnya runtuh itu sama-sama manusia. Kita harus bantu, biar apa adanya,” ungkapan tulus Yulita.

Setelah pos di rumah Nus teridentifikasi, tim ERT Plan Indonesia, bergerak cepat untuk memberikan dukungan shelter kit berupa terpal, tikar, selimut dan lampu emergency, MHM kit, dan hygiene kit.

“Ini terpal dan semua alat ini, kami terima kasih banyak e pak. Paling penting kita bisa bangun tenda yang lebih tertutup untuk anak-anak dan mama-mama, karena di sini kalau malam terlalu dingin,” ungkap Nus.

Ditulis oleh: Alfred Ike Wurin/Plan Indonesia | Editor: Novita Destiana | Sumber Data dan Foto: Ahmad Semar/Plan Indonesia

* Mai: Mari
** Mona: Tidak

Bagikan :