Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Menghidupkan Detak Jantung Hutan Brang Rea Lewat Agroforestri

Menghidupkan Detak Jantung Hutan Brang Rea Lewat Agroforestri

06 August 2026

Hutan desa gundul akibat alih fungsi lahan berlebihan. Dampak nyata kini dirasakan warga. Produktivitas lahan menurun. Bencana datang tak henti-henti. Melalui program CERAH, Plan Indonesia mencoba memperbaiki situasi.

===

Desa Brang Rea di Kecamatan Moyo Hulu, Kabupaten Sumbawa menyimpan memori kolektif tentang daratan subur dengan aliran sungai yang melimpah. Selama ratusan tahun, warganya hidup makmur berdampingan dengan alam; aliran sungai begitu besar dan jernih.

Sayangnya, potret indah itu kini tinggal kenangan. Debit air sungai sudah jauh berkurang.  Semua itu terekam jelas di ingatan Sapri, warga setempat yang kini menjadi ketua Badan Permusyawaratan Desa Brang Rea.

“Jika melihat kondisi sungai saat ini dibandingkan saat saya kecil, jauh sekali bedanya. Dulu airnya besar sekali, masih ada udang dan ikan-ikan. Sekarang, airnya kecil dan hanya ada air dan batu saja, sudah tidak ada ikan,” tutur Sapri.

Perubahan drastis mulai terasa sejak tahun 2015. Debit air sungai sejak itu terus menyusut. Sawah-sawah irigasi juga terdampak. Kondisi itu memaksa para petani menggunakan mesin pompa agar bisa bertahan pada musim tanam kedua.

Berkurangnya debit air ini disebabkan oleh kerusakan hutan di hulu. Sejak tahun 2020, alih fungsi lahan hutan menjadi area tanam jagung sangat masif. Akibatnya, pohon-pohon besar tumbang dan hutan pun gundul.

Tidak butuh waktu lama, dampak ekologisnya langsung terasa nyata: tanah yang semula subur perlahan terkikis erosi hingga hanya menyisakan hamparan batuan tebal.

Puncaknya terjadi tahun 2023, saat alam tak lagi mampu menahan laju air hujan akibat hilangnya daerah resapan. Banjir bandang dahsyat menerjang desa dalam waktu singkat, namun menyisakan kehancuran masif.

Belasan rumah hanyut, infrastruktur lumpuh, dan warga menderita kerugian hingga miliaran rupiah setelah hewan ternak, traktor, serta mesin pertanian mereka tersapu air sampai ke Bendungan Batu Bulan.

Kondisi ini sangat menyakitkan bagi warga seperti Sapri. Mereka tidak bisa mencegahnya karena pelaku perusakan adalah warga yang tergiur oleh keuntungan ekonomi dari jagung dan didukung pemerintah daerah.

Kini semua warga harus merasakan dampaknya. Tidak hanya hasil tanaman yang berkurang. Tapi bencana alam hampir setiap tahun melanda.

Kepala Desa Brang Rea, Iwan Darsono, memaparkan bahwa banjir bandang hebat pada tahun 2023 dipicu aktivitas tambang ilegal dan pembalakan liar (illegal logging) di kawasan hulu.

“Meskipun banjir tersebut hanya berlangsung kurang lebih dua jam, dampak kerusakannya luar biasa. Banjir menghanyutkan sedikitnya 12 rumah warga, puluhan ternak, mesin pertanian, hingga membuat area Bendungan Batu Bulan dipenuhi bau bangkai akibat tumpukan material dan hewan ternak yang hanyut dari berbagai desa, ungkapnya.

Membangun Kesadaran di Sela Batang Pohon

Iwan Darsono sangat bersyukur ketika pada tahun 2025 ini Plan Indonesia kembali lagi ke desa mereka dengan program baru.

Ia sudah terlibat dengan Program Plan ini sejak tahun 2018 melalui program sanitasi dan kebersihan lingkungan. Program ini bisa mendorong desa kami menjadi salah satu desa yang paling awal mendeklarasikan diri sebagai desa ODF (Open Defecation Free).

“Dan Alhamdulillah, program pembangunan sarana air bersih juga kami dapatkan dari Dinas PUPR. Saat ini hampir setiap rumah sudah punya sambungan rumah air bersih yang dikelola oleh KP SPAM,” ujar Iwan.

Untuk menjaga agar air bersih tetap tersedia, perlu ada upaya untuk mengembalikan kondisi hutan yang sudah rusak. Karena itu, Program Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan (CERAH) dari Plan Indonesia menjadi sangat penting untuk dilaksanakan di Desa Brang Rea.

Ketersediaan air bersih yang berkelanjutan menjadi fondasi penting bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, terutama anak-anak dan remaja. Ketika daerah tangkapan air rusak, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh petani dan keluarga saat ini, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup generasi yang akan datang.

Program ini berkomitmen penuh untuk mengembalikan kelestarian ekosistem hulu dan tengah Daerah Aliran Sungai (DAS) sekaligus memberikan penyadaran mendalam bagi masyarakat agar tidak merusak hutan.

Melalui Program CERAH, Plan Indonesia mendorong praktik pengelolaan lahan yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim. Upaya ini penting untuk memastikan anak-anak dan remaja memiliki akses terhadap lingkungan yang sehat, sumber air yang terjaga, dan masa depan yang lebih tangguh.

Salah satu kegiatan awal dari program ini adalah pelaksanaan Pelatihan Agroforestri untuk Petani yang digelar pada 23 April 2026 di Desa Brang Rea. Berkolaborasi dengan Tim Fasilitator dari Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (BKPH) Wilayah IV Provinsi NTB dan Pemerintah Desa, pelatihan ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari BPD, Karang Taruna, PKK, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga kelompok tani setempat.

Pelatihan berjalan sangat interaktif dan partisipatif. Di awal sesi, fasilitator memaparkan materi krusial mengenai fungsi vital DAS dalam menjaga stabilitas lingkungan, mencegah erosi tanah, serta menjamin pemulihan kualitas dan kuantitas air desa.

Konsep agroforestri atau pola tanam terpadu diperkenalkan sebagai solusi konkret di mana petani tetap bisa mendapatkan nilai ekonomis tanpa harus menggunduli hutan. Diskusi dalam pelatihan ini juga melahirkan komitmen dan kesepakatan bersama mengenai jenis tanaman yang akan dikembangkan dengan sistem tumpang sari, antara lain:

  • Tanaman kayu (jangka panjang): mahoni, gamelin, dan lamtoro.
  • MPTS (Multi-Purpose Tree Species): kemiri, alpukat, durian, dan kopi.
  • Palawija/Tanaman Semusim: padi, kacang hijau, cabai, dan kacang kedelai.

Bagi sebagian besar petani, ini adalah pengetahuan baru yang membuka mata. Sapri mengakui bahwa sebelumnya masyarakat hanya mengenal sistem monokultur, di mana padi hanya ditanam dengan padi, jagung dengan jagung.

“Kami baru tahu bahwa ternyata kita juga bisa menanam pohon kemiri dan buah-buahan di sela-sela tanaman yang kita tanam dengan sistem tumpang sari,” ungkapnya.

Jejak Silvoforestri di Brang Rea

Penerapan prinsip agroforestri sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya asing bagi beberapa tokoh di Brang Rea, dan mereka membagikan kisah suksesnya sebagai bukti nyata. Sapri telah membuktikan sendiri dampak dari menanam pohon secara swadaya di sepanjang bantaran sungai kecil dekat lahan pertaniannya.

Berkat rimbunnya pohon-pohon tersebut, Sapri kini sukses memanen padi dua kali dalam setahun secara konsisten tanpa perlu menyedot air sungai menggunakan mesin sama sekali. Di sisi lain, ia juga menerapkan sistem silvoforestri (integrasi pohon dan peternakan) dengan menanam pohon jati serta lamtoro di lahan miliknya.

Di bawah naungan pohon tersebut, ia melepas 7 ekor sapinya, sehingga pakan ternak selalu tersedia secara mandiri tanpa ketergantungan pada rumput liar.

Praktik serupa dikembangkan oleh Kepala Desa Brang Rea, Iwan Darsono. Ia mengelola 68 ekor sapi dengan memanfaatkan sistem silvoforestri dan menanam rumput gajah varietas Raja Odot di sekitar lahannya.

Karakteristik rumput odot yang berair dan manis membuat pengelolaan ternaknya menjadi jauh lebih mudah dan efisien. Keberhasilan para tokoh ini menjadi bukti nyata bagi warga bahwa menjaga pohon justru melipatgandakan hasil bumi.

Langkah Strategis dan Harapan Besar ke Depan

Kerja sama antara Program CERAH Plan Indonesia dan BKPH Wilayah IV tidak berhenti pada ruang pelatihan saja. Rencana tindak lanjut ke depan mencakup pembuatan demplot agroforestri, pendampingan intensif, edukasi perawatan (seperti teknik pemupukan), hingga monitoring berkala untuk memastikan tanaman dirawat dengan baik.

Sapri berharap program ini dijalankan secara terstruktur dan sistematis, bukan sekadar program asal jalan. Untuk menghadapi musim tanam ke depan, ia berharap Program Plan bersama KPH dapat memfasilitasi ketersediaan bibit produktif seperti kemiri, mahoni, nangka, dan durian.

Selain itu, ia meminta sosialisasi lanjutan mengenai status kawasan hutan (hutan produksi, lindung, negara, atau rakyat) agar pemerintah desa memiliki dasar kuat untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat.

Di samping itu, baik Sapri maupun Iwan Darsono mendesak pemerintah yang berwenang dan aparat penegak hukum untuk memperketat pengawasan hutan serta menindak tegas tanpa ampun para pelaku illegal logging dan perambah hutan liar. Iwan Darsono juga berharap kegiatan monitoring rutin terus berjalan pascapelatihan ini agar komitmen hijau yang telah disepakati masyarakat tidak padam di tengah jalan.

Ditulis oleh: Mulyadi AR (Fasilitator Pelatihan Agroforestri Kabupaten Sumbawa) | Editor: Annisa Hanifa

Bagikan :