Mendobrak Tembok Stigma untuk Kesehatan Perempuan
11 June 2026
Di ruang serbaguna di Kelurahan Cempaka Baru, Jakarta Pusat, terdengar sayup-sayup semangat seorang perempuan dari kejauhan. Putri tak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan berdiri di depan para perempuan, berbicara tentang kanker serviks, kanker payudara, dan pentingnya deteksi dini. Karena seperti banyak orang lainnya, kanker baginya dulu adalah sesuatu yang jauh, menakutkan, dan identik dengan kematian.
Perempuan berusia 52 tahun itu sehari-hari dikenal sebagai ibu rumah tangga yang aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan. Bersama komunitasnya, ia mengembangkan urban farming dan hidroponik, berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengedukasi masyarakat tentang lingkungan hidup. Namun, di balik aktivitasnya yang padat, ada pengalaman-pengalaman yang perlahan membentuk kesadarannya tentang pentingnya kesehatan perempuan.
Salah satunya adalah kehilangan seorang sahabat dekat sebelum bergabung sebagai pendidik sebaya dewasa di program Aksi Masyarakat dan Remaja untuk Antisipasi Kanker Serviks dan Payudara (AMARA) Plan Indonesia.
“Saya punya teman dekat sejak kuliah. Dia sering mengeluhkan payudaranya terasa nyeri. Saya hanya menyarankan untuk memeriksakan diri ke dokter waktu itu,” ungkap Putri.
Tak lama kemudian, sahabatnya didiagnosis kanker payudara dan menjalani pengobatan hingga ke luar negeri. Namun, penyesalan datang karena kabar yang datang berikutnya begitu mengejutkan.
Sahabatnya meninggal dunia dan Putri tidak sempat untuk merawatnya.Kepergian itu meninggalkan penyesalan yang sulit hilang.
Putri kerap membayangkan bagaimana jika saat itu ia memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang kanker, bagaimana jika ia bisa membantu lebih banyak, atau mendorong sahabatnya mencari pertolongan lebih cepat. Pertanyaan-pertanyaan itu terus tinggal di benaknya selama bertahun-tahun.
Pengalaman tersebut bukan satu-satunya. Ia juga melihat beberapa perempuan di sekitarnya menghadapi kanker serviks tanpa dukungan yang memadai. Ada yang ditinggalkan pasangannya ketika sakit. Ada pula yang tidak diizinkan melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi oleh suami mereka.
“Banyak perempuan yang sebenarnya ingin memeriksakan diri, tapi masih takut, malu, atau bahkan tidak mendapat izin,” katanya.
Pengalaman-pengalaman itu membuat Putri mulai menyadari bahwa kanker bukan hanya persoalan medis. Di baliknya ada persoalan pengetahuan, stigma, relasi gender, dan akses terhadap layanan kesehatan yang dihadapi setiap harinya oleh perempuan di Indonesia.
Kesadaran itu semakin kuat ketika dirinya sendiri menghadapi masalah kesehatan. Empat tahun lalu, Putri mengalami pendarahan menstruasi yang tidak normal. Selama ini ia menganggap kondisi tersebut biasa saja. Hingga suatu hari tubuhnya hampir tidak mampu lagi bertahan.
Saat memeriksakan diri, hasil tes menunjukkan kadar hemoglobinnya hanya 7 gram per desiliter, jauh di bawah batas normal. Ia dirujuk ke rumah sakit dan bahkan sempat disarankan menjalani operasi pengangkatan rahim.
“Saya merasa sehat-sehat saja. Ternyata tidak,” ujarnya.
Beberapa tahun kemudian, gejala serupa kembali muncul. Bedanya, kali ini Putri tidak lagi menunggu. Ia segera memeriksakan diri dan menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk biopsi.
Syukurlah hasil biopsi menunjukkan bahwa ia mengalami polip rahim yang tidak berbahaya. Namun pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap kesehatan. Ia menyadari bahwa mengenali tubuh sendiri dan melakukan pemeriksaan sedini mungkin dapat membuat perbedaan besar.
Di Program AMARA, ia tidak hanya belajar tentang penyakit, tetapi juga tentang kesehatan reproduksi, dukungan psikososial, dan pentingnya perempuan memiliki kendali atas keputusan kesehatan mereka sendiri.

Sebagai pendidik sebaya, Putri mendapat tanggung jawab untuk menyampaikan materi tentang kanker serviks dan kanker payudara kepada masyarakat. Tugas itu tidak mudah karena topik kesehatan reproduksi masih dianggap sensitif oleh banyak orang.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Putri menggunakan bahasa sederhana dan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika menjelaskan tentang serviks dan skrining IVA, ia mengibaratkan rahim sebagai sebuah rumah dan serviks sebagai pintunya.
Pendekatan sederhana itu terbukti efektif. Salah satu momen yang paling membekas baginya terjadi saat bertemu seorang perempuan muda berusia 23 tahun yang menikah pada usia 19 tahun dan telah memiliki tiga anak. Setelah memahami faktor risiko kanker serviks, perempuan itu menjadi orang pertama yang mendaftarkan diri untuk menjalani skrining IVA.
Kolaborasi antara Puskesmas Pembantu (Pustu) Cempaka Baru dan Kelurahan menjadi kunci dalam mendukung kegiatan edukasi dan skrining agar berjalan lebih efektif.
Meski aktif mengedukasi orang lain, Putri mengakui bahwa perubahan terbesar justru terjadi pada dirinya sendiri.
Kini ia lebih rutin melakukan SADARI, lebih peka terhadap perubahan pada tubuhnya, dan tidak lagi menganggap keluhan kesehatan sebagai sesuatu yang sepele.
Program AMARA juga berfokus pada upaya peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan akses terhadap layanan kesehatan bagi perempuan, remaja, dan kaum muda, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang lebih baik terkait kesehatan diri serta memperoleh hak atas informasi dan layanan kesehatan yang aman, inklusif, dan berkualitas. Melalui pendekatan pendidik sebaya, program ini mendorong masyarakat untuk tidak hanya memahami pentingnya pencegahan dan deteksi dini kanker serviks dan payudara, tetapi juga berani menghapus stigma yang selama ini menghambat perempuan untuk mencari pertolongan dan layanan kesehatan.
Sebagai ibu dari dua anak laki-laki, ia juga merasa penting untuk melibatkan mereka dalam percakapan tentang kesehatan reproduksi dan kanker. Menurutnya, isu kesehatan perempuan bukan hanya urusan perempuan.
Bagi Putri, tantangan terbesar dalam pencegahan kanker bukanlah kurangnya teknologi atau layanan kesehatan. Tantangan terbesar justru ada pada ketakutan dan stigma yang membuat perempuan enggan mencari pertolongan.
“Mendobrak tembok stigma untuk perempuan menjadi sehat,” itulah kalimat yang dipilih Putri untuk menggambarkan perjalanannya di program AMARA.

Kepercayaan yang mulai tumbuh juga diikuti dengan perbaikan fasilitas. Pustu Cempaka Baru mulai berbenah, termasuk menyediakan tempat pemeriksaan yang lebih layak, sehingga perempuan merasa lebih aman dan nyaman saat melakukan skrining.
Hari ini, perempuan yang dulu menganggap kanker sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, justru menjadi salah satu suara yang mengajak perempuan lain lebih peduli terhadap kesehatan mereka sendiri.
Karena bagi Putri, menjaga kesehatan bukanlah tindakan egois, melainkan bentuk cinta kepada diri sendiri, keluarga, dan masa depan yang masih ingin diperjuangkan.