Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Mendefinisikan Ulang Kesetaraan: Kisah Pengasuhan Bersama dari Dataran Tinggi Naileu, Timor Tengah Selatan

Mendefinisikan Ulang Kesetaraan: Kisah Pengasuhan Bersama dari Dataran Tinggi Naileu, Timor Tengah Selatan

20 April 2026

Di Desa Naileu, Timor Tengah Selatan, Meki dan Aprilia secara perlahan mendobrak cara pandang budaya yang telah lama mengakar. Di wilayah ini, tradisi belis sering kali disalahartikan sebagai bentuk “kepemilikan” suami terhadap istri yang kemudian membebankan seluruh pekerjaan domestik kepada perempuan. Namun pasangan ini memilih jalan yang berbeda: kemitraan yang setara.

Sebelum perubahan itu terjadi, Aprilia, seorang guru pendidikan agama Kristen menyimpan rasa lelah dan kecewa karena harus menjalankan peran ganda sebagai pendidik sekaligus pengasuh anak seorang diri. Sementara itu, Meki yang bekerja sebagai pengemudi ojek merasa tugasnya hanya sebatas mencari nafkah.

Sebagai anak tunggal yang sejak kecil selalu dilayani oleh orang tuanya, Meki tidak pernah benar-benar belajar bagaimana menjadi ayah yang terlibat. Semua itu berubah ketika ia mengikuti Kelas Ayah pada tahun 2024.

Kelas tersebut menjadi titik balik baginya. Ia mengungkapkan penyesalan mendalam saat memahami pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan, karena merasa telah melewatkan masa krusial tersebut untuk anak-anaknya yang lebih besar. Namun penyesalan itu tidak berhenti di situ—ia mengubahnya menjadi tindakan nyata.

Ia meninggalkan pola disiplin keras yang sebelumnya ia terapkan bahkan pernah sampai menghancurkan ponsel karena emosi dan mulai menggantinya dengan pendekatan dialog dan kesabaran. Terinspirasi dari metode permainan “Ular Tangga” yang digunakan fasilitatornya, Pak Ramli, Meki mulai menerapkan pembelajaran berbasis permainan di rumah. Ia menggunakan kelereng dan poster untuk mengajarkan angka dan huruf kepada anak-anaknya, dan menyadari bahwa belajar sambil bermain jauh lebih efektif.

Kini, rumah tangga mereka menjadi contoh nyata pembagian peran yang setara. Jadwal harian mereka diatur dengan baik: saat Aprilia mengajar dari pukul 07.00 hingga 13.00, Meki tinggal di rumah untuk mengasuh anak. Di sore hari, mereka bertukar peran sehingga Meki bisa bekerja. Malam hari pun mereka tetap saling mendukung dalam mengurus rumah tangga.

Perubahan ini membawa dampak besar. Anak-anak yang dulu merasa takut kepada ayahnya kini memiliki hubungan yang hangat dan penuh kasih. Aprilia merasa lebih bahagia karena tidak lagi menanggung beban sendirian, sementara Meki menemukan kepuasan dalam perannya sebagai ayah yang hadir.

Ketika ditanya apakah ia merasa malu melakukan pekerjaan yang dianggap sebagai “pekerjaan perempuan” di masyarakat yang konservatif, Meki menjawab tegas,“Tidak, saya tidak malu. Saya senang merawat keluarga saya. Tidak masalah apa kata orang lain, yang penting kesejahteraan keluarga saya. Lagipula, kepala desa dan para ayah lain di program ini juga mendukung.”

Perjalanan mereka menjadi bukti nyata bahwa ketika tanggung jawab pengasuhan dibagi bersama, keluarga menjadi ruang yang aman dan penuh kebahagiaan. Di jantung Timor, Meki dan Aprilia menunjukkan bahwa kesetaraan bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata yang memungkinkan setiap anggota keluarga berkembang secara optimal.

Bagikan :