Memperkuat Peran Ayah melalui Kelas Ayah: Kisah dari Jenggik Utara, Lombok Timur
20 April 2026
Menjadi pengelola PAUD di desa tidak serta-merta membuat seseorang memahami betapa pentingnya peran ayah dalam pengasuhan. Zainul Hasan (39) adalah salah satunya. Namun, semuanya berubah ketika ia mengikuti Kelas Ayah (Kelas Bina Keluarga Balita khusus Ayah) yang diselenggarakan oleh Project PARENTS di Desa Jenggik Utara, Lombok Timur.
Keputusan sederhana itu menjadi titik awal perubahan besar dalam cara pandangnya sebagai seorang ayah. Sebelum mengikuti kelas, Pak Zainul, ayah dari seorang anak berusia tiga tahun merasa belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengasuhan, meskipun ia merupakan salah satu pengelola PAUD di desanya. Dalam keseharian, pola asuh yang ia terapkan lebih banyak mengikuti kebiasaan turun-temurun dari orang tuanya. Ia memandang perannya sebagai ayah seperti pada umumnya: bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sementara urusan rumah tangga dan pengasuhan anak sepenuhnya menjadi tanggung jawab istri.
Kekhawatiran mulai muncul ketika ia melihat tantangan pengasuhan di masa kini, terutama terkait penggunaan teknologi dan gawai yang berlebihan. Sebelumnya, ia belum menetapkan batasan yang jelas dalam penggunaan smartphone oleh anaknya. Meskipun ia rutin memantau tumbuh kembang anak melalui pemeriksaan dua kali sebulan di PAUD terdekat, ia merasa hal itu belum cukup. Sebagai kepala keluarga, ia menyadari perlunya pemahaman pengasuhan yang lebih menyeluruh.
Keinginan untuk menjadi ayah yang lebih baik menjadi motivasi utamanya mengikuti Kelas Ayah. Ia ingin memastikan anaknya mendapatkan pengasuhan terbaik, terutama pada masa “Golden Age” pertumbuhan. Dari seluruh materi yang disampaikan, dua hal yang paling membekas baginya adalah delapan fungsi keluarga dan pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Metode fasilitasi dalam Kelas Ayah juga memberikan kesan yang berbeda. Menurut Zainul, kegiatan ini sangat berbeda dengan pertemuan laki-laki pada umumnya yang cenderung formal dan kaku. Melalui permainan “Ular Tangga”, suasana kelas menjadi lebih santai dan menyenangkan. Para ayah terlibat aktif tertawa, berdiskusi, dan tanpa sadar menyerap informasi penting tentang pengasuhan.
Menerapkan pengetahuan yang ia dapatkan ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Meskipun awalnya terasa berat, Zainul perlahan mulai terbiasa. Perubahan terbesar yang ia rasakan adalah pemahaman yang lebih mendalam tentang tahapan perkembangan anak dan peran spesifiknya sebagai ayah. Ia menyadari bahwa tugasnya bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga terlibat aktif dalam pengasuhan bersama istrinya.
Sejak mengikuti Kelas Ayah, Zainul mulai berbagi tanggung jawab rumah tangga dengan istrinya. Ketika istrinya sibuk mengurus anak, ia tidak ragu membantu menyapu, mencuci, bahkan memasak. Ia juga sering menemani istrinya membawa anak ke Posyandu. Hal-hal yang dulu jarang ia lakukan kini menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Kepercayaan dirinya sebagai ayah pun meningkat. Ia kini memahami bahwa kehadiran dan keterlibatan ayah sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Kesadaran ini mendorongnya untuk berbagi pengetahuan kepada masyarakat sekitar. Dalam perannya sebagai khatib Jumat di masjid, Zainul sering menyisipkan pesan tentang pentingnya peran orang tua, terutama ayah dalam khutbahnya.
Perubahan juga terlihat jelas pada anaknya. Hubungan antara Zainul dan anaknya semakin dekat, dan anaknya tidak lagi bergantung pada gawai karena Zainul mulai menerapkan batasan waktu layar secara tegas dan konsisten. Istrinya pun merasa sangat terbantu dengan keterlibatan Zainul dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan.
Bagi Zainul, manfaat terbesar dari Kelas Ayah adalah pemahaman bahwa pengasuhan dan urusan rumah tangga bukan hanya tanggung jawab istri, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika peran dalam keluarga dijalankan secara setara, keluarga dapat berfungsi dengan baik, dan anak-anak dapat tumbuh sehat, aman, dan bahagia.
Ditulis oleh: Ayu Rizki Saptina│Editor: Annisa Hanifa│Foto: Plan Indonesia/Ayu Rizki Saptina