Membangun Layanan Air Bersih Tangguh di Tengah Tekanan Perubahan Iklim
03 August 2026
“Selama masih ada warga yang kesulitan air bersih, tugas kita belum tuntas. Di setiap tetes air ada martabat manusia yang kita jaga.” — Isidorus Lilijawa, Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang.
====
Sore itu, rapat evaluasi soal air bersih di Kota Kupang baru saja selesai. Tapi ruang pertemuan belum benar-benar sepi. Sejumlah peserta masih berdiskusi sambil menyeruput kopi. Musik era 90-an menambah syahdu. Sementara di luar gedung, langit mulai meredup menuju senja.
Di tengah suasana tersebut, percakapan tentang air tidak lagi sekadar membahas pipa, debit, atau infrastruktur. Tetapi, tentang bagaimana sebuah kota berupaya bertahan menghadapi kekeringan yang semakin panjang.
“Perubahan iklim berdampak nyata pada ketersediaan air di Kota Kupang. Saat musim kering mencapai puncaknya di bulan Oktober, debit air terus menurun sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi,” ujar Elsy E. Bengu, yang ikut nimbrung dalam diskusi lepas usai acara itu.
Elsy merupakan kepala Bagian Teknik Perumda Air Minum (PDAM) Kota Kupang, sehingga sangat paham kondisi di lapangan. Tidak heran, Elsy juga ikut serta dalam Evaluasi Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Kota Kupang, pada pertengahan Mei 2026.
Di tengah berbagai keterbatasan, kata Elsy, Perumda Air Minum Kota Kupang terus berupaya menjaga agar layanan air bersih tetap menjangkau masyarakat. Ia mengakui tantangan penyediaan air di wilayah kering seperti Kupang semakin kompleks.
Cakupan layanan air bersih Perumda Air Minum Kota Kupang baru 18 persen, dengan jumlah pelanggan 18 ribu sambungan rumah. Air diambil dari 3 sumber air permukaan (termasuk SPAM Kali Dendeng) dan 37 sumur bor tanah dalam.
Dengan kondisi itu, upaya memperluas akses air bersih masih menjadi pekerjaan besar. Daerah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan perpipaan tentu lebih sulit lagi.
Tantangan yang Dihadapi PDAM
Banyak faktor yang menjadi tantangan dalam pelayanan air bersih ini, mulai dari ketersediaan air, infrastruktur, dan anggaran terbatas.
Di tengah situasi ini, akses terhadap air bersih tidak lagi hanya menjadi persoalan layanan dasar. Tetapi juga bagian penting dari ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim. Ketika akses air terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan pada kesehatan masyarakat, tetapi juga pada ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, dan beban kerja perempuan.
“Masih ada beberapa wilayah Kota Kupang yang belum terlayani dengan baik, seperti Lasiana, Oesapa, Fatukoa, Naioni, Alak dan Namosain. Ini masih menjadi PR besar untuk kami,” ujar perempuan paruh baya yang telah mengabdikan dirinya di PDAM selama 15 tahun ini.
Dalam konteks tersebut, peran Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) menjadi semakin strategis. PDAM tidak hanya berfungsi sebagai penyedia layanan air, tetapi juga menjadi bagian dari sistem perlindungan sosial dan ketahanan komunitas.
Tantangannya adalah bagaimana memastikan layanan air tetap berjalan di tengah tekanan perubahan iklim, keterbatasan sumber daya air, dan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, infrastruktur layanan air di sejumlah wilayah masih menghadapi keterbatasan. Sekitar 50 persen jaringan perpipaan Perumda Air Minum Kota Kupang sudah diganti atau diperbaiki karena usia melewati 10 tahun.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebocoran dan kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) yang saat ini mencapai sekitar 30 persen.
Selain mempengaruhi efisiensi distribusi, kondisi geografis Kota Kupang juga membuat layanan air bersih menjadi lebih menantang, terutama untuk menjangkau wilayah-wilayah tertentu dengan topografi yang sulit.
Akibatnya, sebagian masyarakat yang belum terlayani jaringan perpipaan terpaksa membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk satu tangki berkapasitas 5.000 liter, warga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp70 ribu hingga Rp85 ribu, tergantung jarak distribusi.
Strategi dan Inovasi dalam Mendukung Komunitas
Melalui Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) yang disusun bersama Plan Indonesia, Perumda Air Minum Kota Kupang mulai memperkuat berbagai strategi untuk menghadapi tantangan layanan air bersih di tengah tekanan perubahan iklim.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah rekayasa produksi dan distribusi air agar pasokan tetap dapat menjangkau pelanggan di tengah menurunnya debit sumber air.
Jika sebelumnya air dapat mengalir hingga tiga kali dalam seminggu, pada periode tertentu distribusi harus dikurangi menjadi satu hingga dua kali seminggu. Ini untuk menjaga keberlanjutan layanan bagi seluruh wilayah pelanggan.
Upaya perlindungan sumber air juga mulai diperkuat. Bersama berbagai pihak, Perumda Air Minum Kota Kupang melakukan penanaman pohon di kawasan SPAM Kalidendeng, menjalankan program “PDAM Bergetar” atau Gerakan Tanam Air, serta mendorong pembuatan sumur resapan dan biopori sebagai bagian dari konservasi sumber air.
Novika Noerdiyanti, Project Manager CERAH dari Plan Indonesia menjelaskan, edukasi kepada masyarakat juga menjadi bagian penting dalam strategi ketahanan air. Bersama Program Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan (CERAH) dari Plan Indonesia, edukasi hemat air dan akses layanan air bersih dilakukan di enam kelurahan di Kota Kupang yaitu Liliba, Penkase, Lasiana, Manutapen, Fontein dan Alak.
Informasi serupa juga disebarluaskan melalui podcast radio, media sosial seperti Instagram, Tiktok, Facebook dan website untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Program CERAH mendukung Perumda Air Minum Kota Kupang untuk memperkuat layanan air lebih tangguh terhadap perubahan iklim. Mulai dari perlindungan sumber air, pengurangan kehilangan air, perluasan jaringan bagi masyarakat rentan, hingga penyediaan alternatif air bersih saat musim kering.
Layanan Air Inklusif
Salah satu aspek penting dari program ini yakni mendorong layanan air bersih yang inklusif.
Kaum perempuan menjadi pihak paling terdampak karena memiliki tanggung jawab utama dalam pengelolaan kebutuhan air rumah tangga. Ketika pasokan air berkurang, perempuan harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengambil air atau mengatur penggunaan air sehari-hari.
Demikian juga penyandang disabilitas. Keterbatasan akses fisik terhadap sumber air dan fasilitas layanan dapat memperbesar risiko kerentanan. Jalur distribusi air, lokasi titik layanan, maupun mekanisme pengaduan belum sepenuhnya mempertimbangkan kebutuhan kelompok disabilitas.
Masyarakat berpenghasilan rendah juga menghadapi tantangan tersendiri. Ketika layanan perpipaan belum tersedia, mereka kerap membeli air dengan harga lebih mahal dari sumber alternatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan akses air bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal keadilan layanan.
Sehingga layanan inklusif untuk air bersih terus diperkuat. Pada peringatan HUT ke-17 Perumda Air Minum Kota Kupang 2026, dilakukan pemasangan sambungan rumah gratis bagi 17 kepala keluarga berpenghasilan rendah.
Selain itu, terdapat pula program berbagi air berupa bantuan distribusi air tangki bagi komunitas yang membutuhkan, terutama saat terjadi krisis air di musim kering.
“Selama masih ada warga yang kesulitan air bersih, maka tugas kita belum tuntas. Di setiap tetes air ada martabat manusia yang kita jaga,” ujar Isidorus Lilijawa, Direktur Perumda Air Minum Kota Kupang.
Layanan air bersih tidak lagi dipandang semata sebagai urusan distribusi dan infrastruktur, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat, terutama kelompok-kelompok yang paling rentan terhadap krisis air.
Bagi Kota Kupang, membangun layanan air yang tangguh berarti membangun ketahanan masyarakat itu sendiri. Sebab selama masih ada warga yang kesulitan mendapatkan air bersih, upaya itu akan terus mengalir, setetes demi setetes.
***
Ditulis oleh: Herning T E | Editor: Annisa Hanifa