Masa Depan yang Menjanjikan: Transformasi Peran Ayah di Timor Tengah Selatan
28 April 2026
Pelaksanaan Kelas Ayah Bina Keluarga Balita (BKB) di sembilan desa di Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi titik balik penting dalam perubahan sosial di wilayah tersebut. Program ini dimulai pada Oktober 2024 melalui Project PARENTS dan diperluas pada 2025 melalui proyek replikasi.
Kelas ini dirancang untuk mengatasi stunting sekaligus mengubah cara pandang tentang peran gender. Selama ini, pengasuhan anak dianggap sepenuhnya sebagai “tugas ibu”, sementara ayah hanya berperan sebagai pencari nafkah. Namun para fasilitator melihat bahwa hal ini bukan budaya yang tidak bisa diubah, melainkan kebiasaan yang terbentuk karena kurangnya kesadaran.
Perubahan dimulai dari sesi “triggering”. Salah satu fasilitator mengajak para ayah merenung secara mendalam bahwa anak adalah “titipan Tuhan” dan “aset keluarga yang tak ternilai”, bukan beban. Mereka juga dihadapkan pada kenyataan sederhana namun menyentil:“Kita sering tahu cara membuat anak, tapi tidak tahu cara membesarkannya.”
Kalimat ini memunculkan rasa tanggung jawab sekaligus refleksi diri. Bersamaan dengan strategi komunikasi perubahan perilaku, partisipasi meningkat signifikan. Kehadiran bahkan sering melebihi target. Komitmen para ayah pun sangat tinggi jika tidak bisa hadir, mereka memastikan ibu menggantikan agar tidak ada materi yang terlewat.
Dampak paling nyata terlihat di Posyandu. Sebelumnya, ayah yang datang membawa anak sering memberikan alasan seperti istri sakit atau sedang ke pasar. Kini, 8 dari 10 ayah yang diwawancarai dengan tegas mengatakan,“Ini anak saya, ini tanggung jawab saya untuk hadir.”
Mereka aktif memantau tinggi badan, berat badan, dan kebutuhan gizi anak. Tidak hanya itu, para ayah juga mulai terlibat dalam pekerjaan domestic, seperti mengambil air, mencuci, hingga memberi makan anak karena menyadari bahwa istri adalah partner, bukan pelayan.
Bagi para ibu, perubahan ini sangat berarti. Mereka merasa lebih dihargai dan tidak lagi menanggung beban sendirian. Seperti yang diungkapkan salah satu ibu,“Kami tidak lagi bekerja sendiri seperti pembantu di rumah sendiri.”
Hubungan emosional dalam keluarga pun semakin kuat. Anak-anak yang dulu cenderung takut kini justru menunggu kepulangan ayah untuk bermain bersama.
Perubahan juga terlihat pada tumbuh kembang anak. Orang tua menyadari perbedaan signifikan antara anak pertama dan anak berikutnya. Dengan memperhatikan 1.000 HPK dan mengganti makanan instan dengan makanan lokal bergizi, pertumbuhan fisik dan perkembangan otak anak menjadi lebih optimal.
Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, gereja, dan tenaga kesehatan, sembilan desa ini memiliki tujuan bersama: tidak ada lagi kasus stunting baru.
Kelas Ayah membuktikan bahwa ketika cara pandang seorang ayah berubah, seluruh keluarga ikut berkembang. Program ini akan terus berlanjut hingga 2026, membawa pesan sederhana namun kuat:
“Untuk mengubah keluarga, desa, bahkan dunia, perubahan harus dimulai dari diri sendiri.”
Ditulis oleh: Ramlinus│Editor: Annisa Hanifa│Foto: Plan Indonesia/Ramlinus