Maria: Rasa dan Makna Misi Kemanusiaan
29 August 2026
Siang itu, setelah memberikan sebungkus kecil pembalut kepada remaja yang sedang haid di posko pengungsian, Maria langsung mengajak kami—anggota tim ERT (Emergency Response Team) lainnya—untuk pergi ke Ruteng. Jaraknya sekitar tiga puluh kilometer dari basecamp kami di Lamba Leda Utara.
“Sebentar kita beli perlengkapan bayi juga. Di posko gunung ada bayi umur tiga minggu, lahir sesar, jadi kita harus beli kasur dan kelambu. Dia pu mama tadi kasih tahu, kalau butuh sekali minyak telon dengan pakaian bayi,” kata Maria, memecah lamunan kami di perjalanan. Seperti biasa semangatnya berkobar-kobar seperti api unggun 14 Agustus.
Maria adalah sosok petarung yang memiliki semangat tinggi dan stamina yang kuat. Tetapi di balik ketangguhannya saat menyusuri posko-posko pengungsian, ia menyimpan sebuah kerentanan yang begitu jujur dia ceritakan kepada kami. Pada awal penugasan, hatinya sebenarnya dirundung kecemasan berlapis-lapis. Ia harus meninggalkan keluarganya di Nagekeo, daerah yang menjadi episentrum gempa 7,7 Magnitudo itu.
Namun, di tengah kecamuk rindu dan rasa khawatir itu, selalu ada satu hal yang membuatnya bertahan untuk terus melayani, yaitu melihat anak-anak di pengungsian bisa tersenyum ceria.

“Kau tahu, adik bayi punya kakak yang tadi main di posko PSS dengan kita. mereka punya rumah pas di belakang sekolah,” Katanya
Maria juga bercerita kalau rumah keluarga itu turut hancur dan runtuh. Tentu tidak hanya rumah mereka saja yang runtuh, semua rumah di pemukiman itu roboh tak bersisa.
Kami tiba di Ruteng dan langsung belanja semua kebutuhan: paket MHM (Manajemen Kesehatan Menstruasi), paket kebersihan, kelambu, serta tikar, sarung, dan selimut. Untuk Mama Ophi dan bayinya, Maria mencarikan kasur bayi yang sudah memiliki kelambu, beberapa stel pakaian bayi, minyak telon, dan sabun bayi, serta pakaian dan selimut untuk sang ibu. Lalu kami pulang ke Lamba Leda utara.
Besoknya, kami kembali ke posko gunung ketika hari sudah sore. Setelah distribusi panjang di dua posko selesai, Maria bergegas mengambil paket untuk ibu dan bayi tersebut, Tim kami menghampiri dan menyerahkannya langsung kepada Mama Ophy dan bayinya.

Suasana mendadak haru. Tidak ada yang bicara, baik kami maupun keluarga kecil itu. Kami semua hanya memandang karunia kecil yang sedang berbaring dan bermain di atas tempat tidurnya, sesekali dia tertawa kecil. Melihat tingkahnya, semua orang tersenyum. Ada sedikit rasa lega, seolah-olah bencana dan kesulitan besar ini tidak pernah terjadi.
“Ibu, terima kasih. Waktu gempa pertama itu, ada tetangga yang kasih minyak telon satu buat ade, tapi sudah habis. Terima kasih e, ada kasur kecil yang bisa buat ade nyaman untuk tidur,” kata Mama Ophy dengan suara bergetar.
Kami pulang ke basecamp. Hari ini adalah hari terakhir kami bertugas untuk respons darurat di Lamba Leda Utara. Malam itu, ditemani kepulan uap dari kopi arabika panas, kami merapikan semua dokumen dan perlengkapan yang harus dibawa pulang.
Sambil merampungkan aktivitas, Maria kembali teringat pada rumah di kampung halamannya. Maria sebenarnya adalah seorang penyintas bencana juga di Nagekeo. Namun, pengalaman pahit itu justru menjadi bahan bakar yang membuat semangatnya untuk merawat misi kemanusiaan ini tidak pernah surut.
“Bagaimana ko punya perasaanmu sekarang?” saya mencoba bertanya di sela kesibukan kami.
Maria diam sejenak, menatap cangkir air panas di depannya, lalu menjawab, “Memang berat, tetapi setelah melalui semua ini, saya rasa bahagia, saya juga rasa saya berharga karena ini bencana ni, gempa ini saya punya keluarga selamat semua, dan saya bisa bantu orang di sini juga,”
Kami hanya tersenyum kepadanya, lalu hening.
Semua sibuk atau pura-pura sibuk agar tidak terkesan sentimental di hadapan Maria.
Lalu Maria kembali bersuara, suaranya sangat emosional.
“Saya puas dan suami saya juga pasti bangga dengan saya! Kita punya di sana juga dampak gempanya parah, tapi kau lihat sendiri di sini sangat parah, tidak ada yang tersisa.
Saya yakin dan percaya, kita bantu dengan ikhlas manusia yang sedang susah, mereka punya doa akan lindungi kita punya jalan dan beri kita berkat!”

Suasana malam di basecamp mendadak sunyi, membiarkan angin malam Lamba Leda membawa sisa-sisa lelah hari itu. Setelah beberapa menit berlalu, Maria kembali bersuara dengan nada yang lebih lembut.
“Ini Nga’o (saya) pertama kali tugas begini. Ternyata kita bisa hadir untuk bantu sesama manusia yang memang sedang sulit dan terluka. Saya ingat kalau kita lagi main dengan anak-anak, orang tua mereka sering menonton. Kadang ada orang tua yang air matanya jatuh lihat anak-anaknya bisa main dengan bahagia begitu.”
Menurutnya, orang tua anak-anak juga merasa senang dan mengucapkan terima kasih ke Maria karena sudah mau meluangkan waktu untuk bermain bersama anak-anak mereka, menghadirkan tawa ceria mereka di tengah kesulitan itu.
Kami hanya tersenyum dalam diam, lalu melanjutkan obrolan ringan mengenang dinamika 14 hari penugasan di Lamba Leda Utara. Katanya setelah tiba di rumah, ia akan bercerita kepada suami dan keluarganya bahwa misi kemanusiaan ini indah dan memiliki makna yang sangat dalam bagi perjalanan hidupnya.
Ditulis oleh: Alfred Ike Wurin | Editor: Novita Destiana | Foto dan Data: Alfred Ike Wurin/Plan Indonesia