Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Inisiasi Kebun Sayur Organik dari Pelosok Negeri

Inisiasi Kebun Sayur Organik dari Pelosok Negeri

17 July 2025

Di sudut kecil Dusun A, Desa Degalea, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, berdiri sekelompok perempuan luar biasa yang menolak tunduk pada tantangan zaman. Mereka adalah para ibu rumah tangga dari Kelompok Dasawisma Merpati II.

Dua belas perempuan tangguh yang tidak hanya mahir mengelola simpan pinjam dan sembako, tetapi juga memiliki tekad kuat sebagai penjaga kesehatan dan ketahanan keluarga.

Berawal dari Kegelisahan, Lahir Sebuah Gerakan

Di tengah ketidakpastian iklim dan harga pangan yang kian melambung, muncul keresahan yang mendalam, bagaimana anak-anak bisa tumbuh sehat jika dapur tak lagi menyediakan gizi.

Dari kegelisahan itulah tumbuh sebuah harapan. Terinspirasi oleh naluri keibuan dan kepedulian terhadap masa depan generasi berikutnya, lahirlah sebuah gagasan sederhana namun revolusioner yaitu membangun kebun sayur organik secara mandiri sebagai jalan menuju ketahanan keluarga, kemandirian ekonomi, dan pembelajaran bersama.

Kebun ini dibangun berdasarkan tiga cita-cita utama yaitu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga dengan cara sehat dan mandiri, mengurangi beban ekonomi melalui pemanfaatan lahan produktif, dan menjadi ruang belajar bersama tentang pertanian cerdas iklim yang tangguh.

Ketua kelompok dengan semangat gotong royong menyediakan sepetak lahan secara cuma-cuma. Para anggota menyumbangkan bibit, pupuk organik, dan tenaga kerja. Semangat kolektif ini menjadi akar dari gerakan yang kini terus tumbuh.

Merawat Tanah, Menumbuhkan Harapan

Proses pembangunan kebun dilakukan secara bersama. Mereka mulai dari membersihkan lahan yang sebelumnya tandus, membuat pagar pelindung, menyiapkan bedengan, hingga meracik pupuk organik dari bahan-bahan sederhana seperti daun kering, sisa dapur, dan kotoran ternak. Penyiraman tanaman dilakukan secara manual dengan memanfaatkan aliran sungai terdekat yang dibagi secara bergilir antar anggota. Tak hanya berfungsi sebagai penghasil pangan, kebun ini juga menyuburkan rasa solidaritas dan kebersamaan.

Panen Tak Sekadar Sayur, Tetapi Gizi, Ilmu, dan Penghasilan

Saat panen tiba, wajah para ibu Merpati II dipenuhi senyum. Sayuran segar langsung menghiasi meja makan mereka, memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Sementara hasil panen yang lebih dijual ke tetangga dan pasar kecil desa, memperkuat kas kelompok serta menjadi sumber pendapatan tambahan. Namun lebih dari itu, kebun ini telah menjelma menjadi ruang belajar terbuka, dimana mereka memahami prinsip pertanian alami, membuat pupuk sendiri, mengenal pola tanam yang adaptif terhadap cuaca ekstrem, dan pentingnya merawat tanah secara berkelanjutan.

Sebanyak 49 orang mendapat manfaat langsung, termasuk 15 anak dan 34 orang dewasa. Anak-anak belajar mengenali berbagai jenis tanaman, memahami proses pertumbuhan, dan menyaksikan bagaimana kerja keras bisa menghadirkan makanan sehat. Sementara orang dewasa mendapatkan ilmu baru tentang pertanian yang tahan perubahan iklim, bekal penting menghadapi masa depan yang tak menentu.

Pak Alfianus, Kepala Dusun A, mendukung penuh langkah para ibu. “Kami belajar bahwa membuat pupuk itu mudah. Bahannya ada di sekitar kita, tinggal kemauan yang digerakkan,” tuturnya bangga. Dukungan pemerintah desa menjadi pupuk tambahan bagi semangat gerakan ini.

Merpati Tak Sekadar Terbang, Ia Menjadi Simbol Ketahanan

Kini, kebun kecil itu bukan sekadar hamparan hijau di tengah tanah yang dahulu tandus. Ia menjadi simbol perubahan, ketangguhan, dan harapan. Kelompok Merpati II membuktikan bahwa dari langkah kecil, dari tangan-tangan ibu yang penuh cinta dan daya juang, tumbuh masa depan yang lebih sehat, berdaya, dan mandiri.

Ditulis oleh: Aloysius Doe│Editor: Moudy Alfiana│Foto: Aloysius Doe/Plan Indonesia

Bagikan :