Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Dibangun untuk Ketahanan Iklim, Diuji oleh Gempa: Kisah Organisasi Kaum Muda Kebun Lestari Salama
Partisipan kaum muda sedang merawat tanaman/ Youth tended to the crops

Dibangun untuk Ketahanan Iklim, Diuji oleh Gempa: Kisah Organisasi Kaum Muda Kebun Lestari Salama

10 September 2026

“Kami harap dengan adanya bencana dan juga hasil dari kebun ini bisa menumbuhkan ‘awareness’ warga tentang pentingnya ketahanan pangan di level desa, sehingga tidak bergantung pada pasar saja.” – anggota KELAS

Di Desa Salama, Reok, di pesisir utara Flores, Indonesia, tiga perempuan muda dan empat laki-laki berusia di bawah 30 tahun diam-diam membangun sesuatu yang ambisius. Dengan dukungan dari IKI Small Grants melalui Plan Indonesia, mereka mendirikan Kebun Lestari Salama (KELAS), sebuah kebun sayur organik yang juga berfungsi sebagai ruang kelas mitigasi dan adaptasi iklim: pengomposan, bedeng hemat air, irigasi tetes, dan tanaman yang dipilih untuk menyesuaikan pergeseran musim hujan di Flores. Visi jangka panjangnya sama besarnya di bidang ekonomi seperti di bidang lingkungan: sebuah inkubator bisnis yang dapat memberi kaum muda desa andil dalam pertanian berkelanjutan, dan pada akhirnya menjadikan Salama destinasi wisata baru.

Mereka tidak menyangka kebun mereka akan segera diuji dengan cara yang sama sekali berbeda.

Pada 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang lepas pantai utara Flores, salah satu gempa terkuat yang melanda pulau ini dalam beberapa tahun terakhir. Reok, di Kabupaten Manggarai, menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak. Rumah-rumah runtuh, jaringan air dan listrik terputus, dan ribuan keluarga di Manggarai serta kabupaten-kabupaten tetangga terpaksa mengungsi ke tempat pengungsian dan tenda darurat dari terpal dan kayu.

Kebun sayur di sekitar tenda pengungsian

Kebun yang berubah menjadi tempat berlindung

Lima rumah berdiri persis di depan kebun KELAS. Ketika guncangan berhenti, para penghuninya tidak punya tempat kokoh untuk dituju, sehingga mereka datang ke kebun. Petak depan yang belum ditanami, awalnya disiapkan untuk taman bunga, menjadi lokasi tenda darurat; tenda itu masih berdiri di sana hingga sekarang. Seperti dikatakan salah satu anggota KELAS, halaman rumah di sekitar situ memang tidak cukup luas untuk berlindung, dan kebun menjadi salah satu dari sedikit ruang terbuka yang cukup besar untuk menampung banyak orang.

Ada unsur keberuntungan dalam hal waktu: sehari sebelum gempa, tangki air kebun baru saja diisi penuh. Dengan pipa air dan listrik yang terputus di seluruh wilayah, dan sebagian besar sumur bor warga tidak berfungsi tanpa listrik, tangki penuh itu menjadi sumber air darurat. Ember-ember besar yang biasanya untuk menyimpan pupuk organik dialihfungsikan untuk menyimpan bantuan beras, berdampingan dengan galon air dan dispenser yang juga ikut dikerahkan untuk menampung air.

Memberi makan warga saat pasar tak bisa

Pasar lokal tetap tutup selama minggu pertama setelah gempa. Di celah waktu itu, sayuran yang sudah hampir siap panen  seperti kale, kangkung, dan bayam kemudian dipetik langsung dari bedeng oleh warga yang mengungsi dan dimakan. Semuanya dibagikan gratis; KELAS tidak meminta imbalan apa pun dan mempersilakan warga mengambil sebanyak yang mereka butuhkan.

Sementara ketiga anggota KELAS sendiri tidak bisa menjangkau kebun untuk merawatnya, keluarga-keluarga pengungsi yang berlindung di sana yang menjaga tanaman tetap hidup. Mereka menyiram dan menyiangi, dipimpin oleh istri kepala desa. Pada akhirnya, komunitas yang berlindung di kebun itu justru menumbuhkan pasokan pangannya sendiri, sekaligus memanennya.

Kini, kebun dan hasil panennya menjangkau tiga posko pengungsian di Reok, dengan total 71 orang: Posko Kebun Lestari Salama (33 orang, berlokasi di kebun itu sendiri), Posko Gadong (7 keluarga, 29 orang), dan Posko Mandiri Wae Selung (9 orang). Termasuk di dalamnya bayi, balita, anak-anak, orang dewasa, dan lansia.

Salah satu relawan merawat tanaman kangkung

Pelajaran tak terduga tentang ketahanan pangan

Bagi warga, kebun ini juga menjadi ruang belajar yang tak terduga. Warga berkenalan dengan sayuran yang belum pernah mereka tanam atau makan sebelumnya, seperti kenikir, lobak, dan edamame. Mereka juga melihat langsung sistem irigasi tetes yang dibangun KELAS. Salah seorang warga kagum melihat tanaman tomat pendek, yang ditanam dengan pupuk organik, tetap berbuah lebat. Warga juga belajar bahwa sayuran yang tampaknya mustahil ditanam di dataran rendah seperti daun bawang, selada keriting, dan lobak  ternyata bisa tumbuh subur di sana dengan perawatan yang tepat.

Para pendiri KELAS berharap pengalaman ini, beserta hasil panen yang lahir darinya, dapat menumbuhkan kesadaran yang bertahan lama di Salama tentang ketahanan pangan di tingkat desa, agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasar saat guncangan berikutnya datang. Ini menjadi berkah tersembunyi yang diraih dengan susah payah: kelompok ini sejak awal kesulitan menarik partisipasi kaum muda desa setempat, karena sebagian besar anggota KELAS justru berasal dari luar Salama. Namun dalam kunjungan-kunjungan terakhir, hal itu tampak mulai berubah, seorang orang tua bertanya apakah anaknya bisa ikut bergabung dalam kelompok pengelola kebun.

Ini memang respons berskala kecil terhadap kebutuhan yang sangat besar. Puluhan ribu orang di Nusa Tenggara Timur masih mengungsi, tetapi hal ini menegaskan poin yang sejak awal disuarakan oleh program iklim Plan Indonesia: ketahanan tidak spesifik pada satu jenis bencana saja. Hibah ini memungkinkan kaum muda bereksperimen dengan sistem pertanian lokal yang terdiversifikasi dan berinput rendah — dan ketika gempa melanda, diversifikasi yang sama itu tetap bertahan, menyatukan masyarakat dalam satu pelajaran bersama.


This project is supported by the IKI Small Grants programme strengthening local solutions for effective climate and biodiversity action. IKI Small Grants is funded by the Federal Ministry for the Environment, Climate Action, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMUKN) and is run by Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. It is part of Germany’s International Climate Initiative (IKI).

Bagikan :