Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Dibalik Tenda Pengungsian, Kori Menyuarakan Kebutuhan Remaja Perempuan

Dibalik Tenda Pengungsian, Kori Menyuarakan Kebutuhan Remaja Perempuan

24 August 2026

Kori (12) menatap pelan ke arah tenda pengungsian yang kini menjadi tempat tinggal sementara bersama orang tua dan saudara-saudaranya. Anak bungsu dari tujuh bersaudara yang berasal dari salah satu desa di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ini menjadi salah satu penyintas gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.

Sejak gempa terjadi, Kori dan keluarganya memilih bertahan di lokasi pengungsian karena masih merasa takut kembali ke rumah. Gempa susulan yang terus dirasakan membuat mereka khawatir akan keselamatan keluarga. Di tengah kondisi yang serba terbatas, kebutuhan dasar menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari, terutama bagi anak-anak dan remaja perempuan.

Saat dikunjungi oleh Emergency Response Team (ERT) Plan Indonesia, Kori tampak pendiam dan kurang bersemangat. Namun, perlahan senyum mulai muncul ketika ia bersama teman-teman sebayanya diajak mengikuti kegiatan dukungan psikososial. Mereka dibagi menjadi empat kelompok dan mengikuti berbagai permainan, mulai dari menebak lagu, memindahkan balon, bernyanyi bersama, hingga aktivitas kelompok lainnya yang membantu mereka sejenak melupakan ketakutan dan kecemasan akibat gempa.

Di sela-sela kegiatan tersebut, Kori mengungkapkan kebutuhan yang paling mendesak sebagai seorang remaja perempuan yang saat ini duduk di kelas II SMP. Dengan suara lirih, ia berbisik kepada salah seorang anggota ERT Plan Indonesia bahwa dirinya sangat membutuhkan pembalut, sabun mandi, dan perlengkapan kebersihan diri lainnya.

“Bagi kami, barang-barang itu sangat penting, terutama saat tinggal di tenda pengungsian,” tuturnya.

Cerita Kori menggambarkan realitas yang dihadapi banyak remaja perempuan di lokasi pengungsian pascabencana. Selain kebutuhan pangan dan tempat tinggal yang aman, akses terhadap perlengkapan kebersihan menstruasi dan kebersihan diri menjadi kebutuhan mendesak yang sering kali luput dari perhatian. Padahal, keterbatasan akses terhadap kebutuhan tersebut dapat memengaruhi kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri remaja perempuan selama berada di pengungsian.

Menjawab kebutuhan tersebut, ERT Plan Indonesia menyalurkan paket kebersihan menstruasi kepada Kori dan remaja perempuan lainnya di kamp pengungsian. Paket tersebut berisi berbagai kebutuhan dasar untuk menjaga kesehatan dan kebersihan selama masa pengungsian. Selain itu, anak-anak juga menerima paket permainan edukatif yang terdiri dari buku gambar, pensil warna, pulpen, penggaris, dan perlengkapan belajar lainnya.

Distribusi paket kebersihan menstruasi dan paket permainan edukatif merupakan bagian dari Rapid Needs Assessment (RNA) atau kaji cepat kebutuhan mendesak yang dilakukan oleh ERT Plan Indonesia untuk memastikan kebutuhan spesifik perempuan, anak perempuan, dan kelompok rentan lainnya dapat direspons secara tepat dan cepat.

Meski masih tinggal di pengungsian, Kori mulai memiliki harapan. Ia bercerita bahwa pihak sekolah telah mengumumkan rencana pembelajaran akan kembali dimulai pada 28 Agustus mendatang. Kabar tersebut menjadi salah satu hal yang ia nantikan.

Sebagai anak seorang petani, Kori memiliki cita-cita menjadi seorang suster. Ia ingin mengikuti jejak salah seorang kakak laki-lakinya yang kini menjadi bruder di sebuah gereja Katolik di Jakarta dan sebelumnya pernah menjalani pelayanan di Filipina.

Di tengah ketidakpastian yang masih dirasakan akibat gempa susulan, Kori mengaku merindukan kehidupan yang kembali normal. Ia merindukan rumah yang aman, bisa belajar bersama teman-temannya di sekolah, dan menjalani hari-hari tanpa rasa takut. Namun untuk saat ini, kebutuhan mendesak seperti perlengkapan kebersihan menstruasi, sabun mandi, dan dukungan psikososial menjadi bagian penting untuk membantu remaja perempuan seperti Kori tetap sehat, aman, dan menjaga harapan di tengah situasi darurat.

#PlanIndonesia #PlanEmres #ResponGempaFlores

Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Dewi Sumanah │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru

Bagikan :