Di Bawah Atap Terpal, Novela Kembali Mengejar Mimpi Setelah Gempa Flores
11 September 2026
Pagi itu, 15 Agustus, seharusnya menjadi hari yang biasa bagi Novela (11) dan teman-teman. Ia merupakan murid sekolah dasar di salah satu desa di Kabupaten Manggarai, Flores. Seperti anak-anak lainnya, ia memulai pagi dengan membantu orang tua mengambil air sebelum bersiap berangkat ke sekolah.
Namun dalam hitungan detik, rutinitas itu berubah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan.
“Saat itu saya sedang timba air dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Tiba-tiba gempa terjadi. Saya langsung menjauh dari bak air karena takut,” kenangnya.
Getaran gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores dan beberapa daerah di Nusa Tenggara Timur membuat warga panik berhamburan keluar rumah. Banyak bangunan mengalami kerusakan, termasuk fasilitas umum dan sekolah yang selama ini menjadi tempat anak-anak belajar dan bermain.
Bagi Novela, gempa tidak hanya mengguncang bangunan, tetapi juga menghentikan aktivitas yang paling ia sukai: belajar bersama teman-teman.
Selama hampir dua minggu setelah bencana, kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan karena kondisi sekolah yang tidak lagi aman digunakan. Ruang-ruang kelas mengalami kerusakan dan harus diperiksa sebelum bisa digunakan kembali.
“Kami sudah tidak sekolah hampir dua minggu. Saya rindu sekali belajar di sekolah, bermain dengan teman-teman, dan juga rindu bertemu bapak ibu guru,” ujar Novela dengan wajah yang tampak sedih.
Bagi banyak orang dewasa, sekolah mungkin hanya dipandang sebagai tempat belajar. Namun bagi anak-anak seperti Novela, sekolah adalah ruang untuk tumbuh, bercita-cita, dan merasakan kebersamaan. Kehilangan kesempatan datang ke sekolah selama berhari-hari membuat mereka merasakan dampak yang tidak kalah berat dibandingkan kerusakan fisik yang terlihat.
Meski demikian, semangat untuk kembali belajar tidak pernah hilang.
Melihat kebutuhan mendesak agar anak-anak dapat segera memperoleh hak mereka atas pendidikan, para guru, orang tua, dan masyarakat mulai bergotong royong mencari solusi. Pada awal September, mereka sepakat membangun sekolah darurat menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar desa.
Sejak tanggal 2 September, halaman sekolah kembali dipenuhi suara aktivitas. Bambu dipotong, tiang-tiang dipasang, dan terpal dibentangkan untuk menjadi atap sementara. Orang tua murid bekerja berdampingan dengan guru-guru, menghadirkan kembali ruang belajar bagi anak-anak mereka.
“Bapak ibu guru dan semua orang tua mulai berbenah untuk membuat sekolah darurat yang terbuat dari bambu dengan atap terpal,” kata Novela.
Di tengah keterbatasan tersebut, bantuan mulai berdatangan dari berbagai pihak yang peduli terhadap pemulihan anak-anak terdampak gempa. Salah satunya adalah bantuan terpal yang digunakan untuk membangun ruang belajar sementara.
“Sejauh ini kami mendapatkan bantuan terpal dari Plan Indonesia. Terima kasih banyak untuk semua orang yang sudah peduli dengan kami,” tuturnya.
Kini, meskipun hanya berupa bangunan sederhana dari bambu dan terpal, sekolah darurat tersebut telah menjadi simbol harapan baru. Di bawah atap terpal yang terkadang bergoyang tertiup angin, anak-anak kembali membuka buku, mendengarkan penjelasan guru, dan menuliskan mimpi-mimpi mereka.
Kepala Sekolah, Ardianus Suhardi Temot, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang membantu sekolah tetap dapat menjalankan proses pembelajaran.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Plan Indonesia yang sudah sigap dan berempati terhadap situasi yang kami alami. Bantuan enam lembar terpal sangat membantu proses pembangunan sekolah darurat sehingga kegiatan belajar mengajar bisa segera berjalan kembali,” ujarnya.

Meski demikian, tantangan masih ada. Karena keterbatasan ruang belajar, sekolah belum dapat menampung seluruh siswa secara bersamaan. Untuk memastikan semua anak tetap mendapatkan kesempatan belajar, pihak sekolah menerapkan sistem pembelajaran bergilir.
“Sementara ini kami hanya memiliki tiga ruang kelas darurat, sehingga kegiatan belajar harus diatur secara bergantian. Kelas 1, 3, dan 5 masuk pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, sedangkan kelas 2, 4, dan 6 belajar pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu,” jelas Ardianus.
Bagi para guru, kondisi tersebut tentu tidak ideal. Namun dibandingkan membiarkan anak-anak kehilangan waktu belajar lebih lama, sekolah darurat menjadi solusi terbaik yang dapat dilakukan saat ini.
Di sela-sela proses pemulihan pascagempa, semangat anak-anak menjadi sumber kekuatan tersendiri bagi masyarakat. Mereka tetap datang ke sekolah dengan senyum, membawa buku- buku yang masih terselamatkan, dan duduk berdesakan di ruang kelas sederhana yang dibangun bersama.
Novela termasuk salah satu di antara mereka. Baginya, berada kembali di sekolah meskipun hanya di bawah terpal adalah kebahagiaan yang sulit digambarkan.
“Tetap senang karena bisa belajar lagi,” katanya singkat sambil tersenyum.
Kisah Novela menggambarkan bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali gedung yang rusak, tetapi juga mengembalikan harapan dan rasa aman bagi anak-anak. Ketika sekolah dapat dibuka kembali, anak-anak memperoleh kesempatan untuk kembali menjalani rutinitas, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mendapatkan dukungan emosional yang mereka perlukan setelah mengalami situasi yang menegangkan.
Di Flores, perjalanan menuju pemulihan masih panjang. Banyak sekolah dan fasilitas umum yang masih membutuhkan perbaikan. Namun semangat gotong royong masyarakat, dedikasi para guru, serta dukungan berbagai pihak yang peduli menunjukkan bahwa harapan selalu bisa tumbuh, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun.
Di bawah atap terpal yang sederhana, Novela dan teman-temannya kembali belajar mengeja kata, menghitung angka, dan merajut cita-cita. Gempa mungkin telah merobohkan sebagian bangunan sekolah mereka, tetapi tidak mampu meruntuhkan semangat anak-anak Flores untuk terus belajar dan mengejar masa depan yang lebih baik.
Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Dewi Sumanah │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru