Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Cerita dari Mentor: Dukungan Kecil bagi Kaum Muda yang Mampu Mengamplifikasi Perubahan
Wakil Bupati memberikan arahan terkait aksi penanaman mangrove/ The Vice Regent provides guidance during the mangrove planting activity.

Cerita dari Mentor: Dukungan Kecil bagi Kaum Muda yang Mampu Mengamplifikasi Perubahan

06 October 2026

Inilah kisah Komunitas Batik Aeramo, tentang bagaimana sekelompok kaum muda yang dulu dipandang sebelah mata oleh warga mengubah dukungan kecil menjadi 2.000 mangrove yang melindungi pesisir mereka, seperti diceritakan oleh mentor mereka, Ervin Dahamu.

Dari ‘tongkrongan’ menjadi gerakan

Setiap kali orang bertanya tentang Komunitas Batik Aeramo, saya selalu mulai dari awal mereka terbentuk. Pada 12 Desember 2012, mereka hanyalah sekelompok kaum muda Desa Aeramo yang suka berkumpul bersama, mengobrol dan bercanda setelah beraktivitas, tanpa arah yang jelas. Banyak warga memandang mereka sebelah mata.

Namun semakin sering mereka berkumpul, semakin mereka sadar bahwa kebersamaan itu bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi desa. Kini komunitas ini memiliki 87 anggota yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pekerja harian, petani, dan pelaku usaha kecil. Keberagaman itu menjadi salah satu kekuatan mereka. Perjalanan mereka menunjukkan kepada saya bahwa gerakan besar bisa dimulai dari hal sederhana, ketika ada kemauan untuk berkumpul, berbagi gagasan, dan bergerak bersama.

Pesisir yang kehilangan pelindungnya

Aeramo berada di pesisir yang terus tertekan. Dalam sosialisasi yang digelar komunitas pada bulan Mei, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagekeo dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Nagekeo memaparkan seberapa besar tekanan itu. BPBD menyampaikan bahwa Nagekeo mengalami 278 kejadian bencana pesisir pada 2020–2025, dan Aeramo memiliki jumlah penduduk terpapar terbanyak di kabupaten ini, yaitu 6.508 jiwa. DLH menunjukkan bahwa luas mangrove Nagekeo menyusut dari sekitar 948 ha pada 2020 menjadi sekitar 653 ha pada 2023, sebagian besar dibuka untuk tambak. Di Aeramo, pada lokasi yang mangrovenya ditebang, BPBD memperkirakan garis pantai terkikis sekitar 5 meter per tahun.

Bill (29), ketua komunitas, menggambarkannya dalam talkshow Radio Republik Indonesia (RRI) Kupang bulan Juli lalu. “Dulu perubahan iklim itu terasa jauh,” katanya. “Sekarang dampaknya langsung ke pesisir.” Saat kemarau panjang El Niño, sumur-sumur di pesisir mengering atau berubah asin, dan hasil tangkapan nelayan menurun karena ikan menjauh.

Mangrove bukan hal baru bagi komunitas ini. Pada 2019, mereka menanam sekitar 3.000 anakan mangrove bersama mitra lain. Namun mereka terus melihat mangrove di pesisir Aeramo ditebang untuk kayu bakar dan dibuka untuk tambak, dan mereka ingin upaya perlindungan itu terus berlanjut. Karena itu, mereka mengajukan proposal Hijaukan Pesisir, Lestarikan Mangrove untuk Iklim ke IKI Small Grants melalui Plan Indonesia. Bill tegas soal maknanya bagi mereka: “Menanam mangrove bukan hanya sekadar menanam pohon. Ini aksi iklim yang melindungi pantai, mengunci karbon, dan menguatkan masyarakat Aeramo.”

Kaum muda dan Wakil Bupati Nagekeo dalam kegiatan penanaman anakan mangrove

Melakukannya dengan cara yang benar

Yang paling saya kagumi, mereka tidak terburu-buru menanam. Pada 28 April hingga 1 Mei, mereka menyusuri pesisir bersama Ketua Suku Nataia, pemegang hak ulayat atas lahan tersebut, dan Kepala Desa Aeramo. Penelusuran itu membawa kenyataan pahit: tidak ada lagi hamparan kosong seluas 2 hektare, hanya celah-celah sempit di sepanjang muara, terhimpit di antara mangrove tua dan tambak warga. Satu lokasi memiliki sengketa batas yang bisa memicu konflik, sehingga mereka melepaskannya. Alih-alih memaksakan rencana awal, mereka memilih untuk menyulam celah-celah di sepanjang muara.

Pada 4 Mei, mereka mengumpulkan 57 warga di kantor desa. BPBD dan DLH memaparkan risikonya, Unit Pelaksana Teknis Daerah Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPTD KPH) Nagekeo mengajarkan cara menanam dan merawat bibit, dan Dewan Pastoral Paroki Yesus Kerahiman Ilahi (YKI) Aeramo berbicara dari sisi iman. BPBD menutup dengan kalimat ini: “BPBD datang saat bencana terjadi; mangrove mencegah bencana datang.” Gereja mengingatkan semua orang bahwa “iman tanpa perbuatan adalah mati.” Ilmu pengetahuan menyentuh pikiran warga, dan iman menyentuh hati mereka.

Mereka juga sama telitinya dalam memilih bibit. Mereka meminta penawaran dari tiga pembibit. Penawaran yang lebih murah baru bisa mulai menyemai setelah dipesan, terlambat untuk musim tanam. Karena itu, mereka memilih pembibit di Nggolonio yang sudah memiliki 2.000 anakan Rhizophora berusia empat bulan, dengan jaminan penggantian untuk bibit yang mati hingga tiga bulan setelah tanam. Sebelum membayar, mereka datang langsung untuk menghitung dan memeriksa bibit satu per satu.

Penanaman dimulai pada 4 Agustus. Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo Gratianus Muga Sada, membuka kegiatan bersama DLH, BPBD, UPTD KPH, kepolisian, dan 95 warga, yang masing-masing membawa dua anakan ke pantai. Berdiri bersama kaum muda itu, ia mengajak semua pihak ikut bergerak: “Kita harus bergerak bersama selagi belum terlambat.” Ia menyebut mangrove ini sebagai titipan untuk generasi mendatang dan meminta warga terus merawat bibit-bibitnya. Pada hari-hari berikutnya, relawan dan warga terus menanam di lumpur, dan pada hari terakhir prajurit Komando Rayon Militer Aesesa dan Brigade Infanteri ikut bergabung. Pada 11 Agustus, seluruh 2.000 bibit sudah tertanam. Kaum muda menjalankan semuanya, dari perencanaan hingga pengambilan keputusan di lapangan. Seperti kata Bill, “Pesisir yang tangguh lahir saat perempuan dan laki-laki sama-sama memimpin.”

Penanaman Mangrove oleh Wakil Bupati Nagekeo

Manfaat dana hibah

“Dana hibah sangat membantu kami dalam pengadaan bibit dan operasional penanaman di lapangan,” kata para anggota kepada saya. “Dengan adanya dana ini, kegiatan aksi iklim kami bisa berjalan lebih terencana dan rutin.” Dana tersebut menutup kebutuhan bibit, transportasi, dan kebutuhan teknis penanaman. Hal yang tak kalah penting, kaum muda sendiri yang menerima dana dan menjalankan setiap kegiatan.

Saya melihat sendiri perubahan para anggota. Mereka kini jauh lebih memahami pentingnya mangrove, dan punya pengalaman nyata dalam mengelola proyek. “Kami mendapat pengalaman baru dalam melaksanakan proyek, mulai dari perencanaan, pelaksanaan di lapangan, sampai pelaporan,” kata mereka. Kegiatan ini juga membuat mereka semakin kompak. Komunitas kini lebih dikenal di desa, dan anggota makin bersemangat terlibat dalam kegiatan positif. Pemerintah desa terus mendukung mereka, dan warga semakin memahami mengapa mangrove harus dijaga. Seorang ketua suku, pemerintah desa, empat instansi kabupaten, gereja, polisi, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) semuanya berdiri di belakang rencana yang dipimpin kaum muda, kaum muda yang dulu dipandang sebelah mata oleh banyak warga.

Jalan ke depan

Bagian tersulit masih ada di depan, dan Bill jujur soal itu. “Banyak masyarakat di pesisir prinsip hidupnya itu hidup untuk hari ini,” katanya. Mangrove baru terasa manfaatnya setelah tiga sampai lima tahun, sementara menebang kayu atau membuka tambak langsung menghasilkan uang. Ia berharap mangrove Aeramo suatu hari bisa menjadi kawasan ekowisata yang memberi penghasilan bagi keluarga di sekitarnya. Untuk itu, katanya, komunitas membutuhkan “ekonomi yang hidup, ilmu yang naik kelas, dan hukum yang jelas,” karena banyak warga takut menjaga mangrove di lahan yang sewaktu-waktu bisa dialihfungsikan.

Bibit-bibit itu juga perlu dirawat. KPH menilai penanaman berhasil hanya jika lebih dari 70% bibit bertahan hidup, sementara mangrove muda bisa tercabut ombak, tertimbun lumpur, atau terlilit sampah. Relawan komunitas akan terus memantau pertumbuhan, membersihkan sampah, dan mengganti bibit yang mati.

Harapan saya, apa yang mereka pelajari lewat proyek ini menjadi bekal: untuk merencanakan dan mengelola kegiatan sendiri secara lebih mandiri, mengajak lebih banyak anggota dan mitra, dan menjaga gerakan ini tetap berjalan jauh setelah pendanaan berakhir. Mimpi mereka adalah terus menjadi penggerak kegiatan positif di Aeramo, terutama di kalangan generasi muda.

Pesan Bill untuk kaum muda lainnya merangkum semuanya. “Pesisir ini rumah kita,” katanya. “Jangan tunggu pemerintah. Kamu punya tenaga, punya HP, punya ide. Mulai dari 10 bibit dan 3 teman.”


Mengenang Gonzalo Gratianus Muga Sada (1968-2026), Wakil Bupati Nagekeo, yang berdiri bersama kaum muda ini di pantai Nagelewa untuk membuka kegiatan penanaman. Kami mengenang dukungannya bagi pesisir Aeramo dan kaum muda IKI Small Grants dengan penuh rasa terima kasih.


This project is supported by the IKI Small Grants programme strengthening local solutions for effective climate and Billdiversity action. IKI Small Grants is funded by the Federal Ministry for the Environment, Climate Action, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMUKN) and is run by Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. It is part of Germany’s International Climate Initiative (IKI).

Bagikan :