Bertahan di Tengah Keterbatasan: Kisah Ibu Erna Menjalani Hari Pascagempa Flores
20 August 2026
Kala itu menjadi malam ketiga bagi Ibu Erna berlindung di posko pengungsian, setelah guncangan hebat menghantam Pulau Flores.
Sabtu pagi, 15 Agustus, hari berjalan tidak seperti biasanya. Pagi yang seharusnya diawali dengan rutinitas domestik mendadak berubah menjadi kepanikan luar biasa. Tanah berguncang hebat. Barang-barang berjatuhan, piring pecah berkeping-keping, dan rasa takut menyelimuti seluruh ruangan. Bersama suami dan anaknya yang masih balita, Ibu Erna bergegas berlari keluar rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.
Secara mandiri, warga berbondong-bondong mencari lahan lapang untuk bernaung. Tenda-tenda darurat didirikan seadanya, dengan harapan cukup kokoh untuk melindungi mereka dari cuaca buruk. Guncangan susulan terus terjadi hingga keesokan harinya, membuat Ibu Erna dan warga lainnya tak memiliki jeda untuk sekadar bernapas lega.
Malam demi malam, Ibu Erna bersama suami dan buah hatinya berusaha tidur berdesakkan dengan keluarga lain yang juga mencoba beristirahat. Namun, keadaan yang serba terbatas membuat kenyamanan menjadi hal yang mahal. Atap tenda yang rendah dan minim sirkulasi udara membuat suasana di dalam terasa sangat pengap dan panas. Anak-anak kecil sering kali rewel karena tidak betah, sehingga terpaksa lebih banyak diajak beraktivitas di luar tenda.
Kondisi sanitasi pun tak kalah memprihatinkan. Fasilitas MCK berada cukup jauh dan warga harus mengantre untuk menggunakan toilet umum. Karena pengungsi yang sangat ramai, tak jarang warga tidak kebagian air bersih dan harus berjalan mencari lokasi lain hanya untuk mandi atau berganti pakaian.
Meski harus mengorbankan kenyamanan fisik, rasa aman dari bencana susulan menjadi satu-satunya alasan yang membuat warga memilih untuk tidak langsung kembali ke rumah.
“Di sini terasa lebih aman. Kalau di area bawah (wilayah rumah) posisinya lebih rawan dan dekat dengan laut. Meski di tenda pengungsian ini serba tidak nyaman, yang penting tempatnya aman.” tutur Ibu Erna.

Di tengah kondisi darurat bencana, perempuan dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan. Minimnya ruang privasi dan fasilitas sanitasi yang tidak memadai di lokasi pengungsian sering kali menciptakan rasa tidak aman. Lebih dari itu, dalam situasi krisis yang serba terbatas ini, anak-anak berpotensi besar menjadi korban kekerasan dan trauma psikologis.
Melihat kondisi tersebut, saat ini Plan Indonesia bekerja sama dengan berbagai pihak bergerak cepat untuk hadir di lapangan. Plan Indonesia berkomitmen memastikan anak-anak, terutama anak perempuan dan kelompok rentan, mendapatkan rasa aman serta perlindungan yang mereka butuhkan walau berada di situasi darurat.
Melalui penyediaan sarana ramah anak, pendampingan psikososial, hingga distribusi kebutuhan dasar sanitasi dan kebersihan, pendampingan terus berlanjut agar anak-anak dapat kembali tersenyum dan terlindungi. Bersama-sama, mari kita pastikan tidak ada satu pun anak yang terabaikan dan kehilangan haknya untuk merasa aman di masa-masa sulit ini.