Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Bermain dan Pulih Bersama: Dukungan Psikososial Membantu Anak-Anak Bangkit Pascagempa Flores

Bermain dan Pulih Bersama: Dukungan Psikososial Membantu Anak-Anak Bangkit Pascagempa Flores

11 September 2026

Tawa dan riang anak-anak kembali terdengar di halaman sekolah dan lokasi pengungsian di Kabupaten Manggarai. Melalui berbagai permainan, aktivitas kreatif, dan pendampingan yang menyenangkan, anak-anak perlahan mulai bangkit dari pengalaman menegangkan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang sebagian besar wilayah Pulau Flores pada 15 Agustus lalu.

Bencana tersebut tidak hanya merusak bangunan dan mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis bagi anak-anak. Banyak anak mengalami ketakutan, kecemasan, sulit tidur, serta kehilangan rutinitas sehari-hari. Sekolah yang biasanya menjadi tempat belajar dan bermain terpaksa ditutup selama lebih dari dua minggu untuk memastikan keamanan warga sekolah.

Seperti anak-anak lainnya, Riani dan Fino merasakan langsung pengalaman menegangkan saat gempa terjadi. Selain rasa takut yang mereka alami, keduanya juga merasakan kerinduan yang sama, yaitu ingin segera kembali bersekolah dan bertemu teman-teman mereka.

Melihat kebutuhan tersebut, Plan Indonesia bergerak cepat menghadirkan dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak. Program ini dilaksanakan di 60 titik yang tersebar di sekolah dan lokasi pengungsian. Khusus di Kabupaten Manggarai, kegiatan dukungan psikososial dilakukan selama satu bulan penuh dengan melibatkan sepuluh fasilitator terlatih.

Melalui pendekatan yang ramah anak, para fasilitator mengajak anak-anak mengikuti berbagai kegiatan seperti permainan kelompok, bernyanyi, menggambar, bercerita, serta aktivitas lain yang membantu mereka mengekspresikan perasaan dan membangun kembali rasa aman. Kegiatan ini menjadi ruang yang penting bagi anak-anak untuk kembali merasakan kegembiraan di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.

“Kami senang bisa bermain lagi bersama teman-teman,” ungkap Fino, murid berusia 11 tahun yang mengikuti kegiatan dukungan psikososial di wilayahnya.

Fino masih mengingat dengan jelas detik-detik ketika gempa besar terjadi. Saat itu ia baru saja terbangun dari tidur ketika guncangan kuat mulai terasa.

“Pas gempa, saya baru bangun. Saya langsung lari keluar rumah,” ceritanya.

Meskipun sempat merasa takut, Fino kini mulai kembali bersemangat setelah mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan. Baginya, bermain bersama teman-teman membantu mengurangi rasa cemas sekaligus membuatnya lebih bahagia.

Di balik senyumnya, Fino menyimpan sebuah impian besar. Ia bercita-cita menjadi seorang penyanyi terkenal. Inspirasi tersebut datang dari penyanyi asal Manggarai, Betrat Peto, yang menjadi idolanya.

“Saya ingin jadi penyanyi seperti Betrat Peto,” katanya dengan penuh semangat.

Selain senang bernyanyi, Fino juga aktif mengikuti permainan dan aktivitas kelompok yang dipandu oleh fasilitator. Melalui kegiatan tersebut, ia belajar untuk kembali percaya diri dan berani berinteraksi dengan teman-temannya setelah mengalami peristiwa yang mengagetkan.

Tidak jauh berbeda dengan Fino, Riani yang juga berusia 11 tahun masih mengingat pengalaman saat gempa mengguncang rumahnya. Saat itu ia sedang tertidur lelap dan belum menyadari adanya bencana.

“Saya masih tidur waktu gempa. Kakak saya langsung menarik saya dari tempat tidur supaya cepat keluar rumah,” kenangnya.

Peristiwa itu membuat Riani merasa takut. Namun, kehadiran kegiatan dukungan psikososial membantunya perlahan merasa lebih tenang. Salah satu kegiatan yang paling ia sukai adalah menggambar karena dapat menyalurkan imajinasinya sekaligus mengekspresikan perasaannya.

Riani memiliki cita-cita menjadi seorang desainer. Sejak kecil ia senang menggambar berbagai bentuk dan warna. Baginya, belajar dengan rajin dan terus berlatih menggambar menjadi kunci untuk menggapai impiannya.

“Kalau mau jadi desainer harus rajin belajar dan sering menggambar,” ujar Riani.

Dukungan psikososial yang diberikan tidak hanya membantu anak-anak mengatasi ketakutan setelah bencana, tetapi juga memberikan ruang bagi mereka untuk tetap bermimpi tentang masa depan. Melalui aktivitas yang menyenangkan, anak-anak didorong untuk mengenali kemampuan diri, membangun kepercayaan diri, serta mempertahankan semangat belajar meskipun menghadapi keadaan sulit.

Bagi banyak anak, kesempatan untuk bermain bersama teman sebaya menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Melalui permainan dan interaksi sosial yang positif, mereka dapat kembali merasakan kebersamaan, mengurangi stres, dan membangun kembali rutinitas yang sempat terputus akibat bencana.

Selama pelaksanaan program, para fasilitator juga memastikan setiap anak mendapatkan perhatian yang sesuai dengan kebutuhannya. Mereka menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman sehingga anak-anak merasa bebas untuk berbicara, bermain, maupun mengungkapkan perasaan mereka.

Program dukungan psikososial yang dilakukan oleh Plan Indonesia menunjukkan bahwa respons terhadap bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga kesehatan mental dan kesejahteraan emosional anak-anak. Pemulihan psikologis merupakan bagian penting agar anak-anak dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dengan baik.

Kini, di tengah proses pemulihan pascagempa yang masih berlangsung, senyum Riani dan Fino kembali hadir. Mereka bermain, tertawa, dan belajar bersama teman-teman mereka. Di balik pengalaman sulit yang pernah mereka alami, keduanya tetap menyimpan mimpi besar untuk masa depan. Fino ingin menjadi penyanyi yang menginspirasi banyak orang, sementara Riani ingin menjadi desainer yang kreatif. Melalui dukungan yang tepat, anak-anak seperti mereka memiliki kesempatan untuk pulih, tumbuh, dan terus mengejar cita-cita mereka dengan penuh harapan.

Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Dewi Sumanah │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru

Bagikan :