Chevron Right Black Berita Kami Chevron Right Gray Berbagi Ruang, Saling Terhubung lewat ‘Partnership Knowledge Exchange and Learning’
Plan Indonesia - Partnership Knowledge Exchange and Learning

Berbagi Ruang, Saling Terhubung lewat ‘Partnership Knowledge Exchange and Learning’

12 June 2026

Jakarta – Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) menggelar forum Partnership Knowledge Exchange and Learning di Jakarta pada Selasa (9/6). Forum lintas sektor ini mengundang berbagai mitra mulai dari instansi pemerintah, lembaga internasional, NGO lokal, hingga organisasi kaum muda untuk saling berkolaborasi dan mewujudkan aksi nyata bersama.

Partnership Knowledge Exchange and Learning bertujuan untuk membagikan jaringan kerja yang dimiliki Plan Indonesia agar dapat diakses oleh para mitra lokal. Melalui inisiatif ini, seluruh pihak diharapkan bisa saling terhubung, bertukar pengalaman, dan tumbuh bersama.

“Kesempatan networking itu yang ingin kami tularkan karena kami punya privilege (hak istimewa). Dulu, isu tunggal mungkin masih bisa kita kelola sendiri. Namun sekarang, tantangannya semakin kompleks dan membutuhkan kolaborasi. Ini adalah inisiatif untuk menyelesaikan isu bersama-sama. Namun pertama-tama, kita harus saling mengenal dan belajar. Belajar bersama untuk bekerja bersama,” jelas Muchammad Umam, Direktur Program Quality Development & Partnership Plan Indonesia, saat membuka acara.

Plan Indonesia - Partnership Knowledge Exchange and Learning

Acara dilanjutkan dengan sesi talkshow hangat yang dipandu oleh Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, bersama Yoris, alumnus Youth Advisory Panel (YAP). Sesi ini menghadirkan perspektif kaya dari para pembicara muda, yaitu Alya (YAP Plan Indonesia), Ervina Dian Irawati (kawula17.id), Rafsi Albar (IIER), dan Kanaya Malika (Youth Advocate).

Dalam sesi tersebut, para pembicara menyampaikan keresahan nyata dari daerah masing-masing. Berbagai tantangan yang dihadapi oleh kaum muda selama ini sering kali dibahas tanpa keterwakilan suara mereka, sehingga berujung pada penyelesaian masalah yang tidak tepat sasaran. Melalui diskusi ini, peserta diingatkan bahwa partisipasi kaum muda tidak boleh bersifat formalitas atau sekadar tokenistik. Kaum muda harus diberdayakan terlebih dahulu agar mampu menyuarakan aspirasi mereka secara bermakna (meaningful). Oleh karena itu, keterlibatan mereka mutlak diperlukan sejak awal, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Atmosfer kesetaraan semakin terasa saat memasuki sesi World Cafe. Sesi interaktif ini memfasilitasi tujuh mitra lokal dari berbagai wilayah untuk berbagi kisah sukses, tantangan, dan ruang kolaborasi. Ketujuh mitra tersebut adalah Kapal Perempuan, Teens Go Green, Youth Accelerator Fund, Yayasan Bina Sejahtera Baru, Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dan Jurnal Perempuan.

Salah satu cerita inspiratif datang dari Teens Go Green yang berbasis di Depok. Mereka membagikan visi tentang masa depan bumi melalui gerakan perbaikan lingkungan yang terstruktur, yaitu dengan membangun pola pikir hijau (green mindset) pada kaum muda, mengasahnya menjadi keterampilan hijau (green skills), hingga mengantarkan mereka siap mengisi lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs).

Sementara itu, cerita dari Indonesia Timur dibawa oleh Yayasan Bina Sejahtera Baru (YBS Baru) yang mengajak peserta menyelami pesisir Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka berbagi kisah tentang MURO, sebuah sistem kearifan lokal untuk menyelamatkan laut yang sempat rusak akibat praktik penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Melalui MURO, warga sepakat menutup sebagian wilayah laut secara berkala agar terumbu karang dan mangrove bisa memulihkan diri, sekaligus menjadi tempat yang aman bagi ikan untuk berkembang biak.

Selain World Cafe, para mitra juga mengikuti diskusi mendalam melalui tiga kelas Klinik Tematik Kemitraan yang berlangsung secara paralel. Ketiga kelas tersebut adalah Klinik 1: “Melaporkan Kontribusi Organisasi ke SDGs Bappenas”, Klinik 2: “Financial Sustainability untuk Organisasi”, dan Klinik 3: “GEDSI dan Safeguarding: Organizational Sustainability dan Mewujudkan Organisasi yang Lebih Inklusif”. Dalam sesi klinik ini, para mitra saling bertukar pengalaman bersama narasumber ahli dari Filantropi Indonesia, Sekretariat Nasional SDGs Bappenas, Bina Swadaya, Perkumpulan Tuna Daksa Kristiani (PERSANI) NTT, dan Dreamity.

Pada Klinik 3, diskusi berfokus pada tantangan kelompok disabilitas dan kaum muda yang selama ini sering kali hanya dijadikan objek penerima bantuan atau sekadar pemenuh kuota dokumen program, tanpa pernah diajak ikut merancang masa depan mereka sendiri karena dianggap tidak berdaya atau tidak memiliki keahlian.

Forum ini membuktikan bahwa ketika ruang aman dan setara dibuka, potensi kaum muda dan kelompok marjinal menjadi tidak terbatas. Hal inilah yang dirasakan langsung oleh Kinara dari Dreamity. “Di acara ini, kaum muda benar-benar diposisikan sebagai rekan kolaborasi. Padahal biasanya di tempat lain, kami kerap hanya dijadikan perwakilan formalitas yang tidak diajak bicara dan tidak dianggap punya keahlian,” ungkap Kinara.

Melalui momentum ini, Plan Indonesia mendorong seluruh mitra yang hadir untuk berkomitmen tetap saling terhubung. Forum ini diharapkan dapat kembali terlaksana di masa depan, dengan menempatkan para mitra yang hadir hari ini sebagai co-creator yang ikut merancang perubahan bersama sejak awal.

Bagikan :