Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Anak Muda Menyelamatkan Masa Depan Kota

Anak Muda Menyelamatkan Masa Depan Kota

04 August 2026

Saban tahun warga Kota Kupang dihantui krisis air bersih akibat kemarau panjang dan kerusakan lingkungan. Kini secercah harapan lahir dari tangan sekelompok anak muda. Mereka bergerak melakukan edukasi biopori.

===

Matahari belum sepenuhnya tinggi di ufuk Kota Kupang, namun peluh sudah bercucuran di sebuah pekarangan rumah pagi itu. Di atas tanah yang mengeras dan retak-retak karena kemarau, sekelompok anak muda berompi biru dengan logo Plan Indonesia tampak sibuk berbagi tugas.

Mereka bergantian mengayunkan linggis ke tanah, melubangi tanah untuk menanam pipa biopori, lalu mengisinya dengan sampah organik. Sebuah ikhtiar kecil untuk “menabung” air di tengah musim kering yang belum mau beranjak.

Derven Dwiky (20), salah seorang kaum muda dalam kegiatan itu meletakkan linggis dan mengusap tangan di celana jeansnya. Keringat masih membasahi dahinya. dahinya.

Dengan penuh rasa bangga, Ia bercerita betapa bangganya bisa ikut serta dalam kegiatan tersebut. Rasa lelah mereka terbayar karena aksi hari ini adalah untuk memperbaiki masa depan Kota Kupang.

Pemasangan biopori merupakan salah satu bagian dari program Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan (CERAH) dari Plan Indonesia untuk menempatkan kaum muda, perempuan, dan penyandang disabilitas sebagai aktor utama dalam upaya menjaga sumber daya air dan lahan. Melalui peningkatan kapasitas, kampanye lingkungan, dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan, generasi muda didorong untuk menjadi pemimpin yang mampu membangun masa depan yang lebih inklusif, sehat, dan tangguh terhadap perubahan iklim.

Lubang resapan biopori ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengembalikan cadangan air tanah, termasuk mengurangi genangan dan mencegah banjir. mengurangi genangan dan mencegah banjir.

“Kupang memang panas dan kering, tapi justru itu alasan kami bergerak. Kalau bukan kami yang jaga, siapa lagi?” ujar mahasiswa Politeknik Pertanian (Politani) Negeri Kupang ini.

Derven baru aktif dalam program CERAH setahun terakhir. Tapi dampak yang mereka rasakan sangat besar. Bersama kaum muda lain, ia belajar tentang siklus air, krisis lahan, dan cara kerja biopori. Tak berhenti di situ saja, Derven juga mendapatkan peningkatan kapasitas juga dalam berkampanye dan advokasi dari pelatihan yang diinisiasi oleh program CERAH. juga dalam berkampanye dan advokasi dari pelatihan yang diinisiasi oleh program CERAH.

Kini ia menjadi salah satu fasilitator muda yang mengajarkan teknik yang sama kepada warga dan kaum muda lainnya di kelurahan. “Kami sebagai kaum muda di Program CERAH tidak hanya belajar, tetapi juga mengambil peran langsung,” katanya, bangga.katanya, bangga.

Peran aktif kaum muda seperti Derven perlahan, namun pasti membawa perubahan nyata. Warga Kota Kupang kini mulai sadar pentingnya biopori untuk kehidupan lebih baik.  baik.

“Awalnya saya kira ini kegiatan biasa. Tapi setelah tahu bahwa lubang kecil ini bisa menyelamatkan air dan menyuburkan tanah rasanya berbeda,” ujar Ibu Dorti, salah seorang warga Kelurahan Batu Kadera.

Sebelumnya, istilah biopori masih terdengar asing di telinga sebagian warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini, berkat Program CERAH yang digagas Plan Indonesia, pemasangan biopori ibarat kewajiban setiap warga kota.

Kota Kupang sendiri memiliki masalah serius untuk akses air bersih. Ketika hujan turun air mengalir langsung ke laut. Kemudian  saat musim kemarau tiba, sumur warga mengering. Air bersih menjadi barang langka dan mahal.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Kupang mencatat, tutupan lahan hijau terus menyusut seiring pesatnya pembangunan. Lahan yang dulunya berfungsi menyerap air kini berubah menjadi permukiman padat dan jalan aspal. Akibatnya, air hujan tidak punya ruang untuk meresap ke dalam tanah, ia menggenang sesaat lalu pergi begitu saja ke laut.

Biopori hadir sebagai salah satu jawaban sederhana namun efektif. Lubang-lubang kecil berdiameter 10-30 centimeter (cm) dan kedalaman 50 – 100 cm ini diisi sampah organik yang kemudian akan diurai oleh mikroorganisme tanah. Proses ini menciptakan pori-pori alami yang membantu air meresap ke dalam tanah, sekaligus menyuburkan tanah.

Pemuda Menjadi Bagian Penting

Dalam edukasi biopori program CERAH, pemuda tidak hanya menjadi peserta. Mereka juga diajak untuk terlibat aktif membuat biopori sebagai salah satu solusi masalah laten ibu kota NTT ini.

Juliani Talan, penagnggung jawab program Plan Indonesia Kota Kupang menjelaskan, pelibatan kaum muda bukan tanpa alasan. Mereka dipilih karena peran strategis pemuda sebagai generasi penerus dan agen perubahan sosial.

“Melalui Program CERAH kami mendorong pemenuhan hak anak dan kesetaraan gender, sekaligus memperkuat kapasitas mereka agar mampu melakukan aksi konservasi air dan lahan secara berkelanjutan untuk masa depan,” ujarnya.

Sejak program ini bergulir, setidaknya belasan kelurahan di Kota Kupang telah mendapatkan edukasi tentang biopori. Ribuan lubang resapan telah ditanam di lahan-lahan sekolah, pekarangan warga, hingga area publik.

Edukasi biopori menjadi pengingat bahwa solusi krisis lingkungan tidak selalu harus datang dalam bentuk teknologi canggih atau proyek raksasa. Kadang, ia hadir dalam wujud lubang kecil di tanah, tangan muda yang mau kotor, dan komunitas yang percaya bahwa tindakan sederhana bisa berbuah nyata.

Biopori, kata Juliani Talan selaku Provincial Coordinator Program CERAH, hanyalah langkah awal. Ia berharap seluruh pemangku kepentingan, termasuk kaum muda, berani melangkah lebih jauh dengan melakukan aksi nyata konservasi air. konservasi air. Pemerintah pun diharapkan menunjukkan komitmen kuat melalui kebijakan yang berpihak pada implementasi yang konsisten. Sementara itu, Forum pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu dapat menjadi wadah kolaborasi yang saling mendukung demi memastikan kebutuhan air masyarakat terpenuhi secara adil dan berkelanjutan.

Ditulis oleh: Yutri Dadi

Bagikan :