Anak-Anak dalam Risiko Tertinggi, Akses Kemanusiaan Terputus Pasca Banjir dan Longsor Sumatra
09 December 2025
Aceh, 9 Desember 2025 — Krisis kemanusiaan di Sumatra terus memburuk seiring masyarakat menghadapi dampak salah satu bencana banjir–longsor paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut pembaruan terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin sore (8/12), jumlah korban meninggal meningkat menjadi 921 orang, 392 orang masih hilang, dan lebih dari 975.079 orang mengungsi. Skala kerusakan sangat luas, meliputi 51 kabupaten/kota, dengan lebih dari 121.000 rumah, 1.009 sekolah, 270 fasilitas kesehatan, dan 405 jembatan rusak atau hancur.
Di Aceh, tempat Tim Tanggap Darurat Plan Indonesia telah berada sejak 29 November, banyak desa masih tertimbun lumpur dan material longsoran. Sejumlah komunitas yang dikunjungi tetap terisolasi akibat jembatan runtuh dan longsor, memperlambat upaya penyelamatan dan menghambat penyaluran bantuan. Keluarga terpaksa berlindung di hunian sementara dan ruang-ruang penuh sesak tanpa privasi, sementara kebutuhan dasar mereka belum terpenuhi.
“Kami menyaksikan langsung masyarakat yang kehilangan segalanya. Keluarga tidur di lantai tanpa alas maupun selimut. Anak-anak tinggal di ruang pengungsian tanpa sanitasi layak atau air bersih. Kondisinya sangat berat, dan risiko bagi perempuan dan anak perempuan sangat mengkhawatirkan,” ujar Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia, dari Pidie Jaya, Aceh, di mana sekitar 67.000 orang mengungsi.
Di beberapa titik pengungsian di Sumatra Barat, akses terhadap air bersih menjadi kondisi darurat. Tim Plan Indonesia menemukan hanya satu sumber air yang digunakan seluruh warga sekaligus untuk mandi, mencuci, dan buang air — oleh laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak. Minimnya privasi dan fasilitas layak telah menyebabkan anak-anak mengalami ruam kulit, infeksi luka akibat evakuasi, serta tanda-tanda awal infeksi saluran pernapasan. Kondisi ini diperparah oleh terbatasnya penerangan pada malam hari yang meningkatkan risiko perlindungan bagi perempuan dan anak perempuan.
Sumber penghidupan masyarakat juga terdampak berat. Banyak keluarga di Aceh bergantung pada sektor pertanian, namun ladang mereka tersapu banjir atau terkubur longsoran. Tanpa lahan untuk digarap, rumah tangga menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan yang akan menghambat pemulihan jauh setelah air surut.
Akses kemanusiaan menjadi tantangan paling mendesak. Di Kabupaten Bireuen, keruntuhan beberapa jembatan membuat banyak wilayah terputus dari bantuan. Tim Plan Indonesia menyaksikan langsung sedikitnya 48 desa masih terisolasi, sepenuhnya bergantung pada cara-cara berbahaya untuk menyeberangi sungai berarus deras. Tanpa jembatan yang berfungsi, warga menggunakan perahu kayu kecil atau kereta besi rakitan dengan sistem katrol manual yang ditarik warga hanya untuk membawa barang kebutuhan pokok, mencari pertolongan medis, atau mencapai titik evakuasi. Hambatan ekstrem ini memperlambat secara signifikan pengiriman bantuan, terutama bagi anak-anak, remaja perempuan, ibu hamil, serta lansia yang tidak dapat menyeberang dengan aman. Selama jalur ini tetap terputus, kelompok rentan akan terus menghadapi risiko kesehatan dan perlindungan yang meningkat.
Pendidikan pun terhenti total. Anak-anak sudah lebih dari satu minggu tidak bersekolah, dan banyak ruang kelas terkubur lumpur atau rusak parah. Karena ruang belajar darurat belum tersedia, ribuan anak kehilangan akses pendidikan dan dukungan psikososial di masa penuh tekanan ini.
“Bencana ini mendorong pendidikan anak ke dalam situasi darurat. Ratusan ribu anak tiba-tiba kehilangan akses terhadap pembelajaran, perlindungan, dan stabilitas yang mereka butuhkan. Tanpa ruang belajar darurat dan dukungan psikososial, anak-anak berisiko tertinggal secara akademik sekaligus mengalami dampak emosional jangka panjang. Kami mendesak semua pihak mempercepat pemulihan layanan pendidikan, termasuk penyediaan ruang belajar yang aman dan ramah anak, agar mereka dapat kembali merasakan harapan dan rutinitas,” tambah Dini.
Respons Darurat di Sumatra
Plan Indonesia telah mengerahkan tim tanggap darurat di Aceh dan Sumatra Barat untuk menyalurkan 23 ton bantuan, termasuk 150 paket shelter kit (terpal dan tali), 150 hygiene kit, 200 paket manajemen kebersihan menstruasi, 404 selimut, 787 tikar, serta berbagai kebutuhan esensial lainnya.
Koordinasi dilakukan di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten. Di tingkat nasional, Plan Indonesia berpartisipasi aktif dalam Indonesian Humanitarian Country Team (IHCT) serta klaster-klaster teraktivasi seperti Pendidikan, Perlindungan, WASH, dan Logistik. Di tingkat daerah, tim Tanggap Darurat mengikuti rapat koordinasi harian dengan otoritas kebencanaan dan bekerja erat dengan NGO lokal, CSO, dan tokoh masyarakat untuk memastikan respons sesuai kebutuhan komunitas. Plan Indonesia juga terus menilai dan menjalin potensi kemitraan dengan organisasi lokal untuk mengantisipasi kebutuhan yang berkembang.
Plan Indonesia bekerja sama dengan sejumlah donor dan mitra seperti UNIQLO, Lion Parcel, Kitabisa.com, serta publik figur dan aktivis Indonesia seperti Ferry Irwandi, kreator konten Jerhemy Owen, dan aktor Joe Taslim, untuk memperluas jangkauan bantuan penyelamatan jiwa.
Namun dengan infrastruktur yang rusak berat dan kebutuhan yang terus meningkat setiap hari, ketersediaan sumber daya masih jauh dari cukup.
“Kebutuhan di sini luar biasa besar. Di balik setiap angka ada seorang anak, orang tua, dan keluarga yang sedang berjuang untuk bertahan hidup. Kita harus terus bekerja bersama memastikan bantuan menjangkau mereka yang paling membutuhkan, terutama anak-anak dan perempuan yang menghadapi risiko tertinggi dalam situasi krisis seperti ini,” tegas Dini.
Plan Indonesia mengajak mitra nasional dan internasional, para donor, serta publik untuk terus mendukung upaya tanggap darurat di Sumatra — salah satunya melalui bit.ly/bantusumatra. Dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk memulihkan akses air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, perlindungan, pendidikan, serta membantu keluarga membangun kembali kehidupan dan penghidupan mereka di bulan-bulan mendatang.