Yemima: Resiliensi Tulang Punggung Keluarga
19 December 2025
Yemima (34 tahun) adalah potret perjuangan seorang anak sulung yang memilih bertahan, berkorban, dan berjuang demi masa depan keluarga. Ia bukan sekadar petani atau kakak. Ia adalah pemimpin keluarga yang mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Pada 2009, Yemima menamatkan pendidikan di SMK dengan jurusan akuntansi. Seperti banyak orang muda lainnya, Yemima punya mimpi besar: Ia ingin menjadi seorang polisi perempuan. Ia sempat mengikuti proses seleksi, namun mimpinya harus terhenti karena keterbatasan biaya. Orang tuanya yang bekerja sebagai petani sederhana, tidak mampu membiayai proses seleksi yang membutuhkan biaya besar.
Orang tuanya sempat berencana menjual tanah untuk membiayai Yemima. Namun, ia menolak.
“Tanah ini kita tidak usah jual, karena kasihan adik-adik. Juga, kalau kita jual, nanti kita tinggal di mana?” kenang Yemima.
Keputusan itu bukan hal mudah. Ia tahu, dengan menolak, ia menutup pintu untuk mimpinya sendiri. Namun, ia lebih memilih keluarga dan masa depan adik-adiknya.
Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, Yemima memikul tanggung jawab besar. Dua adik laki-laki dan satu adik perempuannya masih membutuhkan tempat tinggal dan pendidikan. Kini, adik perempuannya bahkan dapat melanjutkan pendidikan di Jakarta—sebuah pencapaian yang tak lepas dari peran Yemima dalam menopang keluarga.
Meskipun gagal mewujudkan mimpi menjadi polisi, Yemima tidak menyerah. Ia mencari cara untuk tetap bermanfaat. Pada 2014, Yemima menjadi relawan di Plan Indonesia. Ketertarikannya berawal dari kecintaannya kepada anak-anak, juga karena adiknya sempat menjadi anak dampingan Plan Indonesia. Dari sering mengantar adiknya mengikuti kegiatan, ia akhirnya terlibat aktif sebagai relawan.
Selain menjadi relawan, Yemima juga mengabdikan diri sebagai guru PAUD. Selama 15 tahun, Yemima mendidik anak-anak usia dini di desanya. Akan tetapi, pada 2024, ia memutuskan berhenti untuk fokus pada pertanian dan peternakan, pilihan yang kelak mengubah hidupnya.
Menemukan Jalan Baru di Pertanian
Titik balik iu terjadi pada 2019, ketika Yemima bergabung dengan Green Skill, sebuah program yang memberikan pelatihan pertanian hortikultura. Melalui program itu, ia belajar banyak keterampilan baru, mulai dari cara mempersiapkan lahan, teknik menanam, hingga memasarkan hasil panen.
Yemima kemudian bergabung dengan program lanjutan, Youth-Led Agri-Food (YLAF) pada 2024. Program Plan Indonesia yang didukung Citi Foundation ini bertujuan mendukung kemandirian petani muda di Soe, NTT, khususnya di bidang pertanian agrikultur dan peternakan ayam petelur, untuk mendorong ketahanan pangan lokal dan mengurangi tingkat stunting pada jangka panjang.
Melalui program YLAF, Yemima mendapatkan pelatihan kepemimpinan, public speaking, hingga keterampilan teknis baru, seperti peternakan ayam petelur. Ia juga mendapatkan bantuan peralatan yang membantu usaha keluarganya berkembang.
“Saya dan keluarga menjadi bisa bertani dengan baik dan modern. Kami juga sudah bisa mengolah lahan yang lebih luas, karena kami mengolah dengan peralatan kultivator atau hand tractor dari Plan Indonesia. Kami juga mendapatkan bantuan lain, seperti perlengkapan irigasi tetes dan mesin penyedot air,” ungkap Yemima.
Sebelumnya, usaha pertanian keluarga Yemima dilakukan dengan sangat tradisional, dengan hasil panen dan penghasilan yang terbatas. Berkat pelatihan dan dukungan alat, kondisi itu berubah. Kini, Yemima dan keluarganya mampu memproduksi hingga sebanyak 300 kilogram sayuran per minggu, yang dipasarkan hingga ke Kabupaten Timor Tengah Utara dan mendukung program makanan bergizi gratis (MBG). Dari hasil ini, ia memperoleh pemasukan kotor sekitar Rp3 juta per minggu.
Selain pertanian, peternakan ayam petelur yang dilakoninya menjadi kantong pendapatan baru. Meski baru berjalan selama sekitar setengah tahun, peternakan ini telah menghasilkan Rp 5-7 juta per bulan, termasuk biaya pakan dan transportasi pengantaran telur ke pasar.
Babak Baru bagi Keluarga Yemima
Melalui semua pendapatan ini, Yemima dan keluarganya dapat membangun rumah baru di samping rumah lama mereka. Semua pembelian bahan untuk pembangunan rumah berasal dari hasil penjualan sayuran dan telur ayam.
“Minggu lalu, kami dapat uang dari hasil MBG itu sekitar Rp 3 jutaan, jadi ini langsung kami beli kayu untuk persiapan atap rumah. Pengeluarannya sekitar Rp1,5 juta,” cerita Yemima.
Yemima menambahkan, “Saya sangat bersyukur, karena saat ini selain bisa membiayai anak-anak sekolah, adik yang kuliah, saya juga bisa bantu orang tua untuk membangun rumah kami.”
Kini, Yemima sudah menjadi tulang punggung keluarga. Ketika kedua orang tuanya sudah lanjut usia dan tidak kuat lagi bertani, ia mengambil alih peran itu dengan penuh tanggung jawab.
Lebih dari sekadar menghidupi keluarga, Yemima juga menjadi inspirasi bagi orang muda di desanya.
“Jangan pernah menyerah. Kalau ada kesempatan, ambil. Jangan takut mencoba hal baru,” pesannya untuk orang muda lain.
Kisah Yemima menunjukkan bahwa dengan keberanian, kerja keras, dan dukungan yang tepat, mimpi bisa diwujudkan. Dari seorang perempuan muda yang harus mengubur impian, Yemima kini menjadi pengusaha pertanian dan peternakan yang sukses. Ia adalah contoh nyata bahwa perempuan bisa jadi pemimpin, penggerak, pencipta perubahan—bahkan di tengah keterbatasan.
Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Masajeng Rahmiasri │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru