Chevron Right Black Berita Kami Chevron Right Gray Warga Desa di NTT Ikuti Pelatihan Advokasi, Mampu Dorong Dukungan Pendanaan dari Pemerintah

Warga Desa di NTT Ikuti Pelatihan Advokasi, Mampu Dorong Dukungan Pendanaan dari Pemerintah

27 May 2025

Plan Indonesia melalui Program Peningkatan kapasitas Kader Keluarga Berencana dalam Pencegahan Stunting (PARENTS) berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Kuanheun, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, sukses menyelenggarakan pelatihan advokasi program pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bagi para kader desa pada tanggal 28 – 29 Maret 2025.

Pelatihan ini diikuti oleh 50 peserta yang merupakan representasi dari berbagai elemen penting dalam upaya pencegahan stunting di tingkat desa. Mereka terdiri dari kader Bina Keluarga Balita (BKB), kader Posyandu, kader Keluarga Berencana (KB), kader lansia, kader pembangunan manusia (KPM), kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta melibatkan pula kader laki-laki dewasa dan orang muda berusia 18 hingga 24 tahun.

Ramli Us Lanan Sabon, Konsultan program PARENTS untuk Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan mengatakan, “keterlibatan beragam elemen ini menunjukkan komitmen Desa Kuanheun untuk melibatkan seluruh potensi yang ada dalam pencegahan stunting”.

Pada hari pertama pelatihan, para peserta mendapatkan materi dari Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) yang telah memiliki sertifikat sebagai fasilitator Modul Advokasi 1000 HPK. Secara bergantian, Erin D.S. Sukka dan Elphince Seubelan menyampaikan materi yang fokus pada pemahaman mendalam mengenai Profil Keluarga Dampingan, esensi dan pengembangan program 1.000 HPK, serta strategi efektif dalam melakukan advokasi kepada pemerintah desa. Mereka dengan lugas menyampaikan pentingnya intervensi awal, mulai dari anak dalam kandungan hingga usia dua tahun, sebagai fondasi krusial bagi tumbuh kembang anak serta mencegah terjadinya stunting. Pemahaman ini menjadi bekal penting bagi para kader untuk meyakinkan para pengambil kebijakan di tingkat desa akan urgensi program ini.

Memasuki hari kedua, para kader, mempraktikkan kemampuan mereka dalam menyusun program tumbuh kembang anak yang konkret dan aplikatif di Desa Kuanheun. Hasil dari praktik ini adalah rancangan program pelatihan kader BKB untuk Kelas Ibu dan Kelas Ayah, serta implementasi program Bina Keluarga Balita Eliminasi Masalah Anak Stunting (BKB Emas) di Desa Kuanheun. Kedua program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam memberikan pengasuhan yang berkualitas dan pemenuhan gizi yang tepat bagi anak-anak mereka sejak awal kehidupan.

Erin mengungkapkan bahwa program kelas ayah menjadi salah satu yang diusulkan mengingat selama ini  persoalan pengasuhan lebih banyak dibebankan kepada figur perempuan dan ibu. Padahal, figur seorang ayah memiliki pengaruh signifikan dalam tumbuh kembang anak.

”Kehadiran sosok ayah yang baik dalam pengasuhan anak dapat menambah rasa aman, terlindungi dan disayangi pada anak. Sehingga mereka bisa tumbuh lebih percaya diri dan memiliki kestabilan emosi,” ungkap Erin.

Sementara, program BKB Emas, menurut Elphince, dapat memberikan pelayanan yang holistik dan integratif dalam pencegahan stunting, melalui stimulasi, deteksi dini, intervensi dan rujukan yang terintegrasi dengan layanan lainnya. “Stimulasi dan deteksi awal bertujuan untuk mengoptimalkan potensi anak serta mengenali tanda-tanda penyimpangan tumbuh kembang anak. Sehingga, jika terjadi masalah dalam tumbuh kembang anak bisa dintervensi dan dirujuk ke fasilitas layanan kesehatan yang relevan,” tambah Elphince.

Dukungan Pemerintah Desa untuk Cegah Stunting

Gayung bersambut. Kepala Desa Kuanheun menunjukkan komitmen yang kuat untuk mendukung penuh program 1.000 HPK yang telah dirancang oleh para kader dengan alokasi anggaran perubahan di tahun 2025. Rencananya alokasi ini untuk membiayai pelatihan kader khusus untuk Kelas Ibu dan Kelas Ayah serta menerbitkan Surat Keputusan (SK) Kepala Desa untuk 50 kader terlatih dan 28 kader BKB Emas untuk mendukung kegiatan mereka.

Kemudian, sebagai bentuk dukungan berkelanjutan, Pemerintah Desa Kuanheun juga merencanakan dukungan insentif untuk 20 orang kader kelas ibu dan 8 orang kader kelas ayah yang bertugas di 4 Posyandu serta penyediaan snack untuk setiap pelaksanaan kegiatan BKB Emas. Dukungan finansial ini rencananya akan dianggarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun anggaran 2026.

Semin R. Polin, Kepala Desa Kuan Heun menegaskan, “Selain program kelas ibu, kelas ayah dan BKB Emas, kami pemerintah desa juga berkomitmen dalam meningkatkan akses air bersih dan sanitasi, serta PMT untuk ibu hamil dan anak stunting”. Semin menambahkan bahwa total anggaran untuk mendukung program 1000 HPK di Desa Kuanheun untuk tahun anggaran 2025 mencapai Rp234.150.000 dengan rincian program PMT: Rp85.000.000,-; Program air bersih dan sanitasi: Rp. 146.000.000,-; Pelatihan Kader BKB Emas: Rp3.150.000,-.

Komitmen ini, bagi para kader, menjadi motivasi besar bagi untuk terus aktif dan bersemangat dalam menjalankan tugas mereka. Tehni Y. Lanus mengungkapkan, “dukungan dari pemerintah desa menjadi motivasi tersendiri bagi kami dalam menjalankan tugas-tugas sebagai kader di desa. Melalui pelatihan BKB Emas, kami mendapatkan peningkatan kapasitas”.

Kesuksesan penyelenggaraan pelatihan advokasi program 1.000 HPK di Desa Kuanheun ini diharapkan dapat menjadi inspirasi dan contoh yang baik bagi 59 desa lainnya yang menjadi sasaran Program PARENTS di 10 kabupaten lainnya. Keberhasilan Desa Kuanheun menunjukkan bahwa dengan adanya kolaborasi yang kuat antara organisasi masyarakat sipil seperti Plan Indonesia dan komitmen yang tinggi dari pemerintah desa, upaya pencegahan stunting di tingkat akar rumput dapat berjalan efektif dan memberikan dampak yang signifikan bagi kesehatan dan masa depan anak-anak Indonesia. Semangat dan inovasi yang ditunjukkan oleh Desa Kuanheun diharapkan dapat direplikasi di desa-desa lain, sehingga target penurunan angka stunting secara nasional dapat tercapai.

Bagikan :