Shela: Jantung Permainan yang Tak Pernah Berhenti Berlari
25 May 2026
Shela melompat tinggi, matanya terbuka lebar, dengan berani ia menatap bola udara yang diincarnya. Instingnya yang tajam selalu membuat dia menang ketika duel bola udara. Tubuhnya memang tidak tinggi, bahkan terlihat kecil di antara pemain lain. Namun, cara ia bergerak membuatnya terasa jauh lebih besar. Bola seolah menempel di kakinya, mengikuti setiap liukan cepat yang ia buat di ruang sempit.
Banyak yang terpaku pada kemampuannya menyelinap di antara dua atau tiga pemain lawan. Namun, keistimewaan sejati Shela musim ini bukan hanya soal dribel. Ia adalah ‘motor lini tengah’ yang gigih.
Dalam setiap pertandingan, Shela adalah sosok yang menjaga keseimbangan. Ia bisa muncul di mana saja: sedetik ia menusuk dari sayap, sesaat kemudian ia sudah turun jauh ke belakang untuk mematahkan serangan balik lawan. Meski sepanjang turnamen namanya mungkin tidak tercatat di papan skor sebagai pencetak gol, kontribusinya dalam menjaga transisi antara menyerang dan bertahan adalah kunci yang tak tergantikan.
Final Aloisius: Sebuah Bukti dan Kebanggaan
Sebagai salah satu partisipan Girls Football 3.0, bagi Shela, sepak bola bukan sekadar teknik individu, melainkan tentang kerja keras kolektif. Momen yang paling berkesan baginya adalah saat bertanding di Final Aloisius pada 1 februari 2026. Di sana, ia dan teman-temannya berjuang habis-habisan untuk merebut posisi di podium juara I.
“Merebut juara satu itu bukan hal yang mudah bagi kami,” kenang Shela. “Tapi saya sangat bangga karena kami tampil kompak dan saling memberikan dukungan penuh di lapangan.”
Kemenangan di Lapangan Aloisius menjadi bukti nyata bagi Shela bahwa kemampuan yang ia miliki bisa membawa timnya berdiri di titik tertinggi. Ada rasa bangga yang mendalam saat ia menyadari bahwa kerja kerasnya sebagai gelandang box to box membuahkan hasil yang manis.

Melawan Keraguan, Mengejar Mimpi
Motivasi Shela terdengar sederhana namun punya makna yang sangat kuat. Ia ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki keberanian dan kemampuan yang sama di lapangan hijau. Ia sering mendengar suara-suara yang meremehkan, yang menganggap sepak bola terlalu keras bagi anak perempuan. Namun, setiap kali keraguan itu muncul, Shela justru semakin bersemangat untuk berlari lebih kencang.
Bagi Shela, lapangan adalah tempat untuk bersuara. Setiap keringat yang jatuh adalah langkah menuju mimpinya yang besar. Ia tidak ingin berhenti di sini saja; dengan bakat dan kegigihan yang dimiliki, Shela bermimpi untuk menjadi pemain sepak bola terkenal di masa depan.
“Untuk anak-anak perempuan, kamu jangan takut. Kita juga bisa main bola dengan baik, kita bisa beraspirasi di lapangan. Kita tidak hanya selalu di dapur. Kita punya kesempatan yang sama untuk semua peluang dan fasilitas. Karena kita jangan takut mewujudkan cita-cita kita,” Pungkasnya.
Ditulis Oleh: Alfred Ike Wurin | Editor: Annisa Hanifa | Foto: Alfred Ike Wurin/Plan Indonesia