Septian: “Sejak Saat itu, Saya Tidak Pernah Membedakan-bedakan Laki-laki dan Perempuan Ketika Melatih Sepak Bola!”
21 May 2026
Pritttttttt!
Peluit panjang melengking, membelah hiruk-pikuk sore itu. Detik berikutnya, tumpah ruah sorak-sorai penonton pecah. Mereka berlarian, merangsek masuk ke tengah lapangan untuk menyongsong para pahlawan mereka. Di tengah lautan manusia itu, Septian berdiri dengan napas memburu dan mata yang berkaca-kaca.
Ada tangis bahagia yang pecah di tengah teriakan lantang yang merayakan kemenangan. Sore itu, sejarah baru tercipta. Tim asuhan Septian resmi menyandang gelar juara Girls Football 3.0 setelah pertarungan intens yang menguras emosi. Skor tipis 4-3 menjadi bukti betapa sengitnya drama adu penalti yang baru saja mereka lalui.
Siapa sangka, kaki-kaki lincah yang melibas rumput lapangan itu adalah milik anak-anak perempuan hebat. Di balik wajah mereka yang berpeluh, terpancar kebahagiaan paling murni. Sesekali tawa lepas terdengar di antara mereka, namun sportivitas tetap mereka junjung tinggi sebelum berpesta ria, mereka berbaris, menjabat tangan, dan memberikan penghormatan tulus kepada tim lawan yang telah memberikan perlawanan tangguh.
Puncaknya, dengan langkah tegap penuh kebanggaan, Septian melangkah bersama anak-anak asuhnya menuju podium utama. Di bawah matahari Ruteng yang teduh, mereka merayakan hasil dari kerja keras, air mata, dan mimpi tim sepakbola yang menjadi nyata.
***
Tumbuh Bersama Sepak Bola
Di usianya yang menginjak 31 tahun, hidup Septian adalah sebuah ritme yang terjaga rapi antara peluit sekolah dan tawa di rumah. Ia menjalani peran multifaset: seorang guru olahraga yang berdedikasi, seorang suami, dan ayah dari dua buah hati. Baginya, setiap pagi di sekolah adalah tantangan untuk mengubah lapangan menjadi taman bermain yang penuh energi.
“Dinamika di kelas itu luar biasa beragam,” tuturnya.
“Tugas saya bukan sekadar mengajar teknik, tapi bagaimana membuat anak-anak jatuh cinta pada gerak. Pelajaran olahraga harus jadi momen yang paling mereka tunggu.”
Namun, ketika lonceng pulang berbunyi, Septian seringkali kembali ke habitat aslinya. Lapangan bola. Baginya, berlari dan menggiring bola adalah “menu wajib” yang sudah ia santap sejak kecil. Akar itu tumbuh di tanah Manggarai, tempat ia menghabiskan masa kecil dengan debu lapangan kampung dan riuh rendah turnamen antarkampung (tarkam) yang keras namun jujur.
Titik balik hidupnya terjadi di tahun 2025 saat sebuah nama yang asing menyapanya Girls Football. Pertemuannya dengan tim Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dan Rumah Solusi Beta Indonesia (RSBI) membuka cakrawala baru. “Saat pertama kali mendengar tentang Girls Football, saya langsung merasa tertantang,” kenang Septian. “Ada keinginan besar untuk terlibat. Saya ingin membuktikan bahwa di bawah bimbingan yang tepat, anak-anak perempuan kita bisa menguasai lapangan dengan cara yang sama hebatnya.”

Mendobrak Tembok Stereotip di Lapangan Sepakbola
Dahulu, sebelum program itu datang, garis putih di lapangan sekolah seolah-olah menjadi batas tak kasatmata bagi anak perempuan. Sepak bola adalah wilayah eksklusif milik anak laki-laki. Suara peluit, debu yang beterbangan, dan perebutan bola hanya menjadi pemandangan yang disaksikan dari pinggir lapangan oleh anak perempuan.
Stereotip lama masih berakar kuat. Anggapan bahwa sepak bola terlalu kasar, terlalu fisik, dan “bukan tempatnya perempuan” menjadi tembok penghalang yang tebal. “Hampir di semua lapangan, sepak bola itu mutlak milik laki-laki,” kenang Septian dengan nada serius. “Anak perempuan minim kesempatan. Kita merasa mereka tidak sanggup atau tidak pantas melakukan aktivitas fisik sekeras itu.”
Namun, keterlibatan Septian dalam pelatihan dan pendampingan yang intensif mulai meruntuhkan tembok tersebut. Baginya, Girls Football 3.0 itu bukan sekadar kursus lisensi kepelatihan biasa untuk mempelajari teknik dribbling atau passing. Program tersebut membuka jendela perspektif yang lebih lebar di benaknya. Septian mulai menyadari bahwa setiap anak, tanpa memandang gender, memiliki hak yang sama untuk beraktivitas di bawah terik matahari dan mengejar bola.
Lebih dari Sekadar Teknik di Lapangan
Melatih tim perempuan ternyata membawa Septian pada petualangan batin yang berbeda. Baginya, tantangan terbesar bukanlah mengajarkan cara menendang bola yang benar atau strategi offside. Hal-hal teknis itu, menurutnya, hanya soal pengulangan dan jam terbang.
“Kalau teknik dasar sepak bola, semua bisa dilatih yang penting disiplin,” ujar Septian.
“Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana biar mereka yakin dan tidak ragu dengan mereka punya diri. Membangun kepercayaan diri biar mereka rasa setara dan berani ambil peran di tengah lapangan, itu tantangan sebenarnya dan butuh perjuangan panjang.”
Perlahan semua itu bisa terwujud. Lapangan semen dan lapangan rumput jadi saksi anak-anak perempuan yang dulunya ragu untuk mengejar bola, kini mulai berani beradu lari dengan tangkas. Mental mereka terpahat keras, lebih keras dari sekadar fisik itu sendiri.
Keberanian itu pun meluap keluar garis lapangan. Sepak bola telah menjadi bahasa baru bagi mereka untuk menyuarakan hak-haknya. Di lorong-lorong sekolah, di ruang kelas, anak-anak asuh Septian kini bukan lagi sekadar murid pendiam; mereka adalah pionir sepakbola perempuan yang jadi juara turnamen. Mereka juga lantang bicara tentang kesetaraan gender kepada teman sebaya mereka.
“Mereka sekarang sudah berani tampil dan bicara di depan umum,” kata Septian, senyum bangga tersimpul di wajahnya. “Bahkan, mereka sering mengajak teman-temannya untuk paham bahwa kesempatan itu milik siapa saja, bukan cuma milik satu gender. Melihat mereka setangguh itu, bagi saya, adalah kemenangan yang sesungguhnya.”
Lisensi D dan Gol yang Mengubah Segalanya
Titik balik karier profesional Septian bermula saat ia berhasil meraih Lisensi D Nasional, sebuah sertifikat resmi yang menjadi bukti kapasitasnya sebagai pelatih di bawah naungan PSSI. Lisensi ini adalah gerbang utama sekaligus syarat mutlak bagi siapa pun yang ingin meniti karier di dunia kepelatihan formal. Sebagai fondasi awal, fokusnya bukan sekadar strategi menang, melainkan metode mengajar di level grassroots atau Sekolah Sepak Bola (SSB). Di sini, Septian dibekali keahlian untuk memadukan teknik dasar dengan pemahaman psikologi anak, guna menciptakan sesi latihan yang edukatif namun tetap menyenangkan. Sertifikat ini bukan sekadar pencapaian, melainkan kunci pembuka bagi Septian untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, seperti Lisensi C hingga level Pro Diploma di masa depan.
“Terima kasih kepada Plan Indonesia, RSBI, dan Adidas Foundation yang sudah fasilitasi ini,” ungkapnya. “Kesempatan ini sangat langka bagi kami di daerah. Meskipun modul pelatihannya menantang dan tidak selalu mudah, semangat saya tidak pernah surut.”
Ilmu yang ia serap segera diuji di medan laga. Puncaknya terjadi pada 31 Januari dan 01 Februari 2026, dalam sebuah momen yang akan selalu ia ingat. Tim Girls Football yang ia asuh berhasil berdiri di podium tertinggi sebagai Juara I.
Bagi orang banyak, itu mungkin hanya kemenangan turnamen biasa. Namun bagi Septian, itu adalah ledakan emosi dari proses panjang yang melelahkan. “Saya air mata jatuh lihat mereka angkat piala. Semua pengorbanan anak-anak terbayar lunas,” kenangnya. Di lapangan itu, mereka tidak hanya mencetak gol ke gawang lawan, tapi juga mencetak menang rasa tidak percaya diri mereka sendiri.
Memandang Dunia dengan Mata yang Baru
Perjalanan ini secara fundamental telah mengubah cara pandang Septian sebagai pendidik. Jika dulu ia secara tidak sadar sering membedakan antara anak laki-laki dan perempuan dalam olahraga sepakbola, kini kacamata itu telah berganti.
“Saya jadi lebih paham hak-hak anak,” jelasnya. “Sekarang, tidak ada lagi perlakuan berbeda. Di lapangan, mereka semua adalah atlet, punya hak yang sama untuk berkembang.”
Mimpi yang Lebih Besar: Sebuah Warisan
Namun, bagi mimpi besarnya peluit akhir belum berbunyi. Mimpinya jadi lebih luas: mendirikan Sekolah Sepak Bola (SSB) di lingkungannya. Ia ingin menciptakan ruang aman di mana setiap anak, tanpa memandang perempuan atau laki-laki, bisa belajar menendang bola dan mengejar mimpi mereka menjadi pesepakbola.
Kepada anak-anak perempuan yang masih ragu, yang masih takut pada stigma atau pandangan miring tetangga ketika mereka main sepak bola, Septian hanya punya satu pesan sederhana:
“Berani saja mencoba. Semua hal besar berawal dari keberanian untuk melangkah ke dalam lapangan. Jangan sampai stigma mengubur bakatmu.”
Hari sudah sore ketika Septian membunyikan peluit tanda latihan untuk hari ini sudah selesai. Saat ini dia sudah membuktikan satu hal sederhana, sepak bola adalah bahasa universal yang tidak mengenal gender. Di tangannya, sepak bola tidak hanya sebuah permainan, tapi media untuk sebuah perubahan yang lebih setara.
Ditulis Oleh: Alfred Ike Wurin | Editor: Annisa Hanifa | Foto: Alfred Ike Wurin/Plan Indonesia