Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Sekolah Aman Dimulai dari Kepedulian

Sekolah Aman Dimulai dari Kepedulian

24 February 2026

Pagi itu, di sebuah SMP sederhana di Kabupaten Nagekeo, suasana sekolah terasa berbeda. Di ruang laboratorium, bukan hanya meja dan kursi yang tersusun rapi, tetapi juga harapan yang perlahan tumbuh. Hari itu bukan sekadar kegiatan biasa, ini adalah langkah nyata menuju terciptanya sekolah yang aman bagi setiap anak.

Di tengah persiapan, berdiri Ibu Frida, Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan (TPPKSP). Dengan senyum hangat dan tatapan penuh perhatian, ia menyambut para pelajar dan guru yang hadir. Baginya, sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang di mana setiap anak harus merasa aman, dihargai, dan didengar.

“Sekolah harus menjadi rumah kedua, bukan tempat yang menakutkan,” ujarnya, sebuah prinsip yang ia pegang sejak awal menjalankan perannya.

Selama ini, Ibu Frida memahami bahwa kekerasan di sekolah tidak selalu terlihat. Ia hadir dalam bentuk kata-kata yang merendahkan, candaan yang melukai, atau pengucilan yang membuat anak merasa sendirian. Pengalaman mendampingi pelajar yang datang dengan mata sembab dan suara lirih menjadi pengingat bahwa menciptakan sekolah aman adalah kebutuhan yang mendesak, bukan pilihan.

Upaya itu mendapat penguatan ketika Plan Indonesia hadir memberikan pelatihan bagi TPPKSP di sekolah tersebut. Kegiatan ini membuka ruang belajar bersama antara guru dan pelajar untuk memahami bentuk-bentuk kekerasan, mengenali risiko, serta membangun mekanisme pelaporan yang aman dan responsif.

Ruang laboratorium yang biasanya sunyi pun berubah menjadi ruang dialog. Para guru, anggota TPPKSP, dan 45 pelajar, termasuk pengurus OSIS, duduk melingkar, sebuah simbol bahwa setiap suara memiliki tempat yang setara.

Dalam sesi diskusi, realita pun mulai terungkap. Seorang pelajar mengaku sering merasa marah saat melihat temannya diperlakukan tidak adil, tetapi tidak tahu harus berbuat apa. Seorang pelajar lainnya bercerita tentang temannya yang terus diejek, sementara ia sendiri takut untuk membela. Bahkan, guru pun menyadari bahwa selama ini mereka belum sepenuhnya memahami langkah-langkah penanganan yang tepat.

Momen-momen ini menjadi titik balik. Semua pihak mulai menyadari bahwa menciptakan sekolah aman bukan hanya tanggung jawab satu orang, tetapi kerja bersama yang membutuhkan pemahaman, keberanian, dan sistem yang jelas.

Bagi Ibu Frida, kejujuran yang muncul hari itu adalah awal dari perubahan. Dalam sesi refleksi, ia menyampaikan dengan suara bergetar namun penuh keyakinan:

“Kita mungkin tidak bisa menghapus semua tantangan dalam semalam. Tapi hari ini kita sudah mulai, bersama-sama.”

Kalimat itu menggema di ruangan, menegaskan bahwa perjalanan menuju sekolah aman memang tidak instan, tetapi sangat mungkin dicapai.

Kegiatan hari itu menjadi titik awal. Guru mulai berdiskusi lebih terbuka, pelajar merasa lebih berani untuk bersuara, dan TPPKSP memiliki arah yang lebih jelas dalam menjalankan perannya. Lebih dari itu, terbentuk kesadaran kolektif bahwa setiap anak berhak merasa aman di sekolah.

Di Nagekeo, langkah kecil ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari ruang sederhana dengan kepedulian, kolaborasi, dan keberanian untuk mendengarkan.

Sekolah aman bukan sekadar konsep.Ia adalah komitmen bersama untuk memastikan setiap anak tumbuh tanpa rasa takut, dan dengan keyakinan bahwa mereka dilindungi.

Ditulis oleh: John Orlando│Editor: Agus Haru│Foto: Plan Indonesia/John Orlando

Bagikan :