Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Ruang Aman untuk Karla di Tengah Dampak Gempa Flores

Ruang Aman untuk Karla di Tengah Dampak Gempa Flores

26 August 2026

Di antara tenda-tenda pengungsian yang berdiri setelah gempa bumi magnitudo 7,7 mengguncang wilayah utara Pulau Flores beberapa waktu lalu, tawa anak-anak perlahan mulai terdengar kembali. Bagi Karla (9), suara tawa itu menjadi pertanda bahwa harapan masih ada, meski hidupnya telah berkali-kali diuji oleh kehilangan dan bencana.

Karla adalah seorang anak perempuan dengan cita-cita besar. Kelak, ia ingin menjadi dokter agar dapat membantu banyak orang. Ia tinggal di salah satu desa di Kabupaten Manggarai yang turut terdampak gempa. Sejak bayi, Karla telah kehilangan ayahnya. Kini, ia tinggal bersama saudari perempuan dari kakeknya, sementara sang ibu merantau ke Pulau Jawa untuk bekerja.

Setiap hari sebelum gempa terjadi, Karla berjalan kaki lebih dari satu kilometer menuju sekolah. Baginya, jarak bukanlah penghalang untuk belajar. Sekolah adalah tempat yang ia sukai, tempat ia bisa bertemu teman-temannya dan mendekatkan diri pada impiannya menjadi seorang dokter.

Pagi itu ketika gempa besar terjadi, Karla sudah terbangun saat guncangan kuat menggoyang rumahnya. Dalam kepanikan, ia berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Namun saat berusaha keluar rumah, kakinya sempat terkena reruntuhan tembok yang roboh dan mengalami luka ringan.

“Saya langsung lari keluar rumah,” kenangnya pelan.

Meski luka fisiknya tidak serius, pengalaman tersebut meninggalkan ketakutan yang masih membekas. Seperti banyak anak lainnya, Karla harus beradaptasi dengan kehidupan di sekitar pengungsian sambil menunggu situasi kembali aman.

Di tengah kondisi tersebut, Emergency Response Team (ERT) Plan Indonesia hadir memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak gempa. Saat tim berkunjung ke lokasi pengungsian, Karla dan sejumlah anak lainnya sedang berkumpul di dekat kamp pengungsian.

Mereka kemudian diajak bermain, bernyanyi, dan mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan, mengurangi kecemasan, serta menghadirkan kembali rasa aman setelah mengalami peristiwa traumatis.

Semula Karla tampak pemalu. Namun seiring berjalannya kegiatan, senyumnya mulai mengembang. Ia bernyanyi bersama teman-temannya, mengikuti permainan, dan sesekali tertawa ketika kakak-kakak dari Plan Indonesia mengajak mereka berinteraksi.

Di momen itu pula Karla menerima paket permainan yang akan digunakan bersama anak-anak lain di lokasi pengungsian yang saat itu dibagikan oleh Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti

Bagi banyak orang, paket permainan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak seperti Karla, permainan adalah ruang untuk kembali merasakan kebahagiaan di tengah situasi yang tidak menentu. Bermain membantu mereka memulihkan rasa percaya diri, memperkuat hubungan dengan teman sebaya, dan untuk sesaat melupakan ketakutan yang muncul akibat bencana.

Di sela-sela kegiatan, Karla juga bercerita tentang kerinduannya yang besar untuk kembali ke sekolah. Akibat dampak gempa, kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara hingga 29 Agustus. Baginya, yang paling dirindukan bukan hanya pelajaran di kelas, tetapi juga teman-teman yang setiap hari menemaninya belajar dan bermain.

“Saya kepingin cepat sekolah lagi,” ujarnya.

Harapan sederhana itu menjadi pengingat bahwa dalam setiap situasi darurat, kebutuhan anak tidak hanya sebatas makanan, air bersih, dan tempat tinggal yang aman. Mereka juga membutuhkan dukungan emosional agar dapat pulih dari pengalaman yang mengguncang kehidupan mereka.

Melalui layanan dukungan psikososial, Plan Indonesia berupaya memastikan anak-anak yang terdampak gempa tetap memiliki ruang aman untuk bermain, belajar, dan menumbuhkan kembali harapan. Sebab pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang rusak, tetapi juga membantu memulihkan semangat dan kesehatan mental anak-anak yang menjadi generasi masa depan.

Di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti wilayah terdampak gempa, Karla memilih untuk tetap bermimpi. Ia masih ingin menjadi dokter. Dan di balik senyumnya yang mulai kembali merekah, tersimpan keyakinan bahwa suatu hari nanti ia akan kembali mengenakan seragam sekolah, belajar bersama teman-temannya, dan melangkah lebih dekat menuju cita-citanya.

Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Dewi Sumanah │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru

Bagikan :