Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Reski & Kisahnya Sepeninggalan Sang Ayah

Reski & Kisahnya Sepeninggalan Sang Ayah

19 December 2025

 

Tidak semua orang mampu menjalani lima peran sekaligus. Namun, Reski (22 tahun), perempuan muda dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, membuktikan bahwa cinta kepada keluarga mampu mengalahkan lelah dan membuatnya sanggup menjalani semuanya.  

Setelah kehilangan ayah tercinta pada Oktober 2025, Reski memikul tanggung jawab besar. Meski sedang berduka, ia tetap harus memastikan keluarganya bertahan. Kisah Reski adalah cerita tentang ketekunan, pengorbanan, dan upaya menjaga harapan. 

Kehilangan dan Titik Balik 
 

Kematian sang ayah menjadi titik balik dalam hidup Reski. Kehilangan sosok ayah bukan hanya meninggalkan duka, tetapi juga memberikan tanggung jawab yang besar. Kini, Reski dan kakaknya harus memastikan roda kehidupan keluarga tetap berputar. 

“Saya lakukan ini semua demi membantu ibu memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu adik-adik yang masih sekolah dan kuliah,” ungkapnya. 

Agar dapat menghidupi keluarganya, Reski menjalani rutinitas yang luar biasa padat. Dalam sehari, ia bekerja sebagai seorang guru SD, petani, peternak ayam petelur, penjaga Kios Gizi, serta mahasiswa jarak jauh. 

“Pagi saya ke sekolah untuk mengajar. Setelah dari sekolah, saya kembali ke rumah sebentar lalu pergi ke kandang ayam untuk bersih-bersih dan memberi makan ayam. Kemudian, saya ke kios untuk berjualan sambil kuliah jarak jauh. Sorenya, saya bersama teman-teman akan ke bedeng untuk menyiram sayuran,” jelas Reski. 

Semua aktivitas ini ia jalani dengan tekun dan disiplin. Dari Kios yang baru berdiri beberapa bulan, ia dan kelompoknya mendapatkan pendapatan lebih dari Rp 2 juta per bulan jika pengunjungnya ramai. Dari peternakan ayam petelur, penghasilannya mencapai Rp 2 juta untuk dibagi kepada tiga orang, termasuk dirinya. Sementara, untuk bertani, ia mendapatkan sekitar Rp 3 juta per panen (3 bulan sekali) dan sebagai guru SD, ia menerima honor Rp350 ribu per bulan. 

Seluruh pendapatan inilah yang menjadi penopang utama keluarga. Meski kelelahan tak terelakkan, A menjalani semuanya dengan penuh tanggung jawab.  

“Semua harus dilakukan untuk keberlangsungan hidup kami bersama,” ujarnya.

Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Masajeng Rahmiasri │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru  

Bagikan :