Ramah Lino: Rawat Alam Mata Air Hulu, Lingkungan Indah Niaga Oksigen
11 July 2026
Suatu sore di Manggarai, tempat asal saya di Nusa Tenggara Timur, hujan turun tanpa henti selama berjam-jam. Jalan yang menghubungkan desa kami dengan pusat kota perlahan dipenuhi sampah plastik dan batuan kecil yang tak jarang membuat orang tergelincir. Aktivitas ekonomi berhenti, pertanian terganggu, beberapa anak-anak berjalan dengan payung, beberapa berlarian, dan beberapa tidak dapat pergi ke sekolah karena sakit. Dalam keterbatasan itu, saya menyaksikan bagaimana sampah di aliran air menumpuk dan genangan air merusak jalan. Lama merenung, saya meyakini permasalahan ini bukan sekadar persoalan fisik, tetapi persoalan lingkungan hidup yang perlahan rusak. Curah hujan yang sulit diprediksi mengganggu jadwal petani menanam, bencana tanah longsor mengancam kapan saja, dan pelaut enggan melaut. Saya menyadari betapa kompleksnya permasalahan sampah, kebutuhan air, dan perubahan iklim. Hingga pertanyaan selalu terngiang dalam benak saya, seberapa pentingnya air bagi kehidupan kita?
Air memiliki peranan penting dalam menunjang kebutuhan makhluk hidup, terutama manusia. Beberapa di antaranya adalah pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, tempat hidup biota air, sumber energi terbarukan, sarana rekreasi, dan berbagai fungsi vital lainnya.
Namun, potensi krisis air yang sama kini dapat dijumpai di lingkungan sekitar Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Wilayah ini memiliki keuntungan topografi yang membuat ketersediaan mata air melimpah. Sayangnya, keuntungan topografi kini terancam krisis air bersih dan permasalahan sampah. Jika terus dibiarkan dapat berdampak bagi sektor pertanian, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.
Berdasarkan permasalahan ini dibutuhkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air yang adaptif, konservatif, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Penggerak Muda Dongang III, menginisiasi terbentuknya program Ramah Lino #Tranformation_Habit. Filosofi ramah mengarah pada perilaku bijak terhadap lino yang merupakan bumi dalam terjemahan bahasa Manggarai. Penggerak Muda mengharapkan perubahan kepedulian terhadap lingkungan dimulai dari kebiasaan kecil yang ramah lingkungan. Ramah Lino pada periode kali ini berfokus pada program peduli kelestarian mata air Wae Uwu di wilayah Dongang III, RT 24, Kelurahan Pau.

Gambar 1 memperlihatkan situasi di mata air Wae Uwu yang sudah tercemar sampah plastik, limbah ternak, dan beberapa industri rumahan. Berdasarkan sejarah yang dituturkan Bapak Yoseph Jehalut, tokoh adat wilayah setempat, hingga tahun 1990-2000-an mata air ini masih aktif digunakan sebagai air minum bagi masyarakat Kelurahan Pau. Beberapa ritus budaya bahkan kerap dilakukan di wilayah mata air tersebut yang dikenal dengan istilah Wae Barong di wilayah Linko Beon Pau. Kini perlahan namun pasti, ketersediaan air melimpah menjadi cerita bak kering yang dipenuhi sampah.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026)
Gambar 2 memperlihatkan kondisi aliran air di keran bak penampung tersendat. Aliran semula berasal dari keempat keran kini tersisa 1 keran dengan debit kecil. Bersama Plan Indonesia melalui program IKI Small Grants, Penggerak Muda Ramah Lino mulai melakukan aksi pelestarian mata air dengan skema Dana Hibah Kaum Muda Untuk Aksi Iklim Yang Responsif Gender dan Partisipasi Komunitas Marginal.

Kegiatan Ramah Lino terdiri dari 3 aktivitas penting yakni 1) sosialisasi, 2) aksi grebeg mata air, dan 3) penanaman pohon konservatif. Kegiatan diawali dengan Fun Group Discussion (FGD) bersama kaum muda (usia 15-19 tahun) pada tanggal 18 April 2026. Tema yang diusung adalah “Selamatkan Mata Air, Selamatkan Masa Depan”. Dr. Yosefina Rosdiana Su, S.S, M.Pd sebagai narasumber menyampaikan bahwa mata air merupakan power bank kehidupan. Dengan menjaga kestabilan sumber mata air, maka seluruh kebutuhan dasar akan air terpenuhi. Oleh karena itu, ancaman sampah plastik merupakan masalah serius yang mengganggu ekosistem mata air.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026)
Tak hanya diskusi, Kaum Muda Ranah Lino juga menandatangani kesepakatan menjaga lingkungan bersama. Kaum muda sepakat akan menjaga lingkungan mata air dengan menginvestasikan pohon konservatif, membersihkan sampah plastik di daerah mata air, dan membiasakan diri mengurangi penggunaan material plastik sekali pakai.

(Sumber: Dokumentasi Pribadi Penulis, 2026)
“Suatu hari nanti, saya ingin kembali berdiri di Wae Uwu, menyaksikan pohon konservatif tumbuh, memastikan bahwa air dapat mengalir tanpa hambatan, dan masyarakat dapat menikmati kemurahan air melimpah sehingga kebutuhan air terpenuhi. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan itu. Melalui pendidikan, dedikasi, dan pengabdian, saya berkomitmen untuk menjadikan Ramah Lino sebagai jalan pulang: jalan untuk membangun ketahanan, keadilan, dan masa depan Mata Air yang lebih kuat”.
*Tentang Penulis: Eldisya Martha Jebatu, penerima Dana Hibah Kaum Muda Untuk Aksi Iklim Yang Responsif Gender Dan Partisipasi Komunitas Marginal. Bekerja sama dengan warga Kelompok Dongang III, RT 24, Kelurahan Pau. Tujuan kegiatan Ramah Lino adalah melestarikan mata air Wae Uwu melalui pemberdayaan berbasis masyarakat dan pelestarian budaya lokal.
Tentang IKI Small Grants
This project is supported by the IKI Small Grants programme strengthening local solutions for effective climate and biodiversity action. IKI Small Grants is funded by the Federal Ministry for the Environment, Climate Action, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMUKN) and is run by Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. It is part of Germany’s International Climate Initiative (IKI).