Praktik dan Tantangan Implementasi GATI, Gerakan Ayah Teladan indonesia
08 October 2025
Baiq Sriani Astuti, atau yang akrab disapa Tuti, adalah seorang Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dari Lombok Timur yang aktif mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Salah satu upayanya adalah mengajak para ayah di Desa Setanggor Selatan untuk tidak hanya sekadar mengantar anak ke Posyandu, tetapi juga terlibat langsung dalam proses layanan—mulai dari pendaftaran, penimbangan, pengukuran tinggi badan, pencatatan, hingga penyuluhan dan pemberian makanan tambahan (PMT).
Komitmen Tuti ini muncul setelah ia mengikuti Sosialisasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Sharing Kelas Ayah yang diselenggarakan oleh Program Peningkatan Kapasitas Kader Keluarga Berencana untuk Pencegahan Stunting (PARENTS) Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Melalui kegiatan tersebut, ia bertekad mendorong peran ayah dalam pengasuhan anak dan bagaimana mengimplementasikan Kelas Ayah di tingkat desa.
Menurut Tuti, tantangan terbesar dalam mengajak ayah berpartisipasi adalah faktor pekerjaan. Sebagian besar warga Desa Setanggor Selatan bekerja sebagai petani dan buruh tani, yang mengharuskan mereka beraktivitas sejak pagi hari. Namun, perlahan mulai ada perubahan. Beberapa ayah kini mulai hadir di Posyandu berkat contoh yang diberikan oleh tokoh masyarakat yang turut serta mendampingi.
“Tidak hanya sekadar menghimbau, para tokoh ini juga memberi contoh dengan datang langsung ke Posyandu,” ujar Tuti.
Rencana Implementasi Kelas Ayah di Desa Setanggor Selatan
Tuti berencana mengusulkan implementasi Kelas Ayah di desanya. Ia telah melakukan advokasi dengan Sekretaris Desa Setanggor Selatan, M. Azhari, agar program ini dapat masuk dalam dokumen perencanaan desa tahun 2026.
Azhari menyambut baik usulan tersebut. Menurutnya, seorang ayah memiliki peran besar dalam pengasuhan anak karena sebagai kepala keluarga, ia bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak, termasuk gizi dan kasih sayang.
“Seorang ayah harus tahu kebutuhan gizi anak agar bisa memenuhinya. Selain itu, sosok ayah sangat penting dalam pengasuhan agar anak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua,” jelas Azhari.
Rencana penyelenggaraan kelas ayah ini bisa melengkapi Inovasi program SIPATAS (Aksi Cepat Tepat Atasi Stunting), yang terdiri dari berbagai program seperti Kelas Ibu Hamil, Kelas Ibu Bayi dan Balita, Peningkatan Kapasitas Kader, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk anak berisiko stunting, Pemantauan perkembangan anak berisiko stunting, Kelas Remaja untuk Pendewasaan Usia Perkawinan. Inovasi ini membawa Desa Setanggor Selatan meraih penghargaan sebagai Desa Berkinerja Baik dalam Pencegahan Stunting Tingkat Nasional dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) serta Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) RI.
Azhari mengakui bahwa tantangan utama dalam melaksanakan Kelas Ayah adalah kesibukan para ayah bekerja. Oleh karena itu, ia menyarankan agar kegiatan ini diadakan pada sore atau malam hari dengan suasana santai dan menyenangkan agar lebih menarik minat ayah di desa.
“Selalu ada tantangan dalam setiap niat baik. Karena itu, komitmen dari desa dan masyarakat sangat penting untuk mengatasi hambatan ini,” tegas Azhari