Plan Indonesia Salurkan 23 Ton Paket Bantuan Bencana Sumatra, Fokus Pemulihan bagi Anak dan Perempuan
30 November 2025
Banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah meninggalkan dampak kemanusiaan yang sangat besar. Per 2 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 604 jiwa meninggal dunia dan 464 orang masih hilang dan lebih dari 600 ribu masyakarat terdampak yang tersebar pada 29 Kab/Kota. Situasi ini tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga memaksa ribuan keluarga, termasuk anak-anak, perempuan, dan kelompok disabilitas hidup dalam kondisi darurat di tempat pengungsian yang penuh keterbatasan.
Untuk merespons kondisi tersebut, Plan Indonesia mengerahkan Emergency Response Team (ERT) ke Aceh dan Sumatera Barat untuk melakukan kaji cepat kebutuhan situasi darurat (Rapid need assessment), dukungan psikososial, dan distribusi 23 ton bantuan Non-Food Items (NFI) yang kini mulai didistribusikan ke wilayah terdampak. Bantuan tersebut mencakup hygiene kit termasuk kebutuhan kebersihan menstruasi, shelter kit, serta sleeping mat yang sangat dibutuhkan para penyintas di tengah keterbatasan fasilitas dan layanan dasar di lokasi pengungsian.
Dalam melakukan rapid need assessment fokus utama mencakup layanan sanitasi dan air bersih (WASH), perlindungan, serta pendidikan yang menjadi tiga sektor vital yang sangat menentukan keselamatan dan pemulihan para penyintas, terutama anak dan perempuan, juga menggali informasi dari kebutuhan spesifik anak.
Direktur Program Plan Indonesia, Ida Ngurah, menegaskan bahwa para penyintas terutama anak, anak perempuan, dan kelompok rentan lainnya masih menghadapi berbagai hambatan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka. Meskipun bantuan terus berdatangan, akses warga terhadap bantuan tidak selalu mudah karena beragam keterbatasan.
Dari hasil RNA awal di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sejumlah warga di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh masih kesulitan air bersih dan paket kebersihan diri, termasuk untuk menstruasi. Sementara itu di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, para penyintas membutuhkan shelter kit seperti selimut di pengungsian.
Ngurah menambahkan bahwa kebutuhan mendesak lainnya yang harus segera dipenuhi meliputi air bersih, akses sanitasi yang memadai, serta paket kebersihan pribadi termasuk pembalut, selimut, dan terpal.
Anak dan Perempuan Semakin Rentan Saat Bencana
Kondisi ini kembali menegaskan urgensi memprioritaskan layanan perlindungan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak, perempuan, ibu hamil, dan penyandang disabilitas dalam setiap respons kemanusiaan.
“Plan Indonesia menegaskan bahwa hak anak dan perempuan harus menjadi pusat dalam setiap upaya respons bencana. Tanpa pendekatan yang peka gender dan inklusif, bencana tidak hanya merusak hari ini, tetapi juga memperparah ketidaksetaraan dan meninggalkan dampak sosial jangka panjang bagi generasi muda,” pungkas Ngurah.
Di balik kebutuhan logistik yang mendesak, terdapat dimensi lain yang sering kali tidak terlihat: kerentanan berlapis yang dialami anak dan perempuan dalam situasi bencana. Ketika akses pendidikan terhenti, banyak anak, khususnya anak perempuan, berisiko putus sekolah dan kehilangan masa depan pendidikan mereka.
Di lokasi pengungsian, minimnya ruang aman dan penerangan meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender dan eksploitasi. Bagi keluarga yang kehilangan mata pencaharian, tekanan ekonomi dapat mendorong praktik perkawinan anak sebagai strategi bertahan hidup, sebuah konsekuensi jangka panjang yang dapat merusak masa depan anak perempuan.
Selain itu, perempuan dan anak perempuan masih sulit mengakses sanitasi dan layanan kesehatan reproduksi yang layak, membuat mereka rentan terhadap penyakit, infeksi, hingga kehamilan yang tidak direncanakan. Pada saat yang sama, suara mereka dalam proses perencanaan bantuan sering kali tidak terdengar, sehingga respons bencana menjadi kurang sensitif terhadap kebutuhan spesifik berdasarkan gender dan usia.
Donasi Bantu Korban Bencana Sumatera
Untuk mendukung pemulihan para penyintas, Plan Indonesia membuka kesempatan bagi publik untuk turut berkontribusi melalui donasi kemanusiaan di bit.ly/bantusumatra. Setiap dukungan sangat berarti untuk memastikan anak dan perempuan mendapatkan perlindungan dan pemenuhan hak yang layak dalam situasi bencana.
Tentang Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia)
Plan International telah bekerja di Indonesia sejak 1969 dan resmi menjadi Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada 2017. Kami bekerja untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan. Kami juga bekerja bersama kaum muda, untuk memastikan partisipasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan terkait hidup mereka. Sebagai bagian dari Plan International Inc., Plan Indonesia memiliki program anak sponsor. Plan Indonesia telah membina 32 ribu anak perempuan dan laki-laki di Nusa Tenggara Timur, dengan lima komitmen untuk memenuhi hak dasar mereka, yaitu hak atas akta kelahiran, vaksin dasar, air bersih, sanitasi, dan kebersihan, juga pendidikan. Plan Indonesia bekerja pada 8 provinsi dengan program-program yang bertujuan untuk membangun generasi yang Sehat, Teredukasi, Berdaya, Aman dan Tangguh. Program-program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, agensi, dan gerakan sosial yang melibatkan dan menargetkan agar 3 juta anak perempuan mendapatkan kekuatan yang setara, kebebasan yang setara, dan representasi yang setara. Informasi lebih lanjut: planindonesia.org
Kontak Media
Hesti Widianingtyas – External Communication Coordinator
[email protected] – (+62) 812 9021 0072