Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Pencegahan Stunting dengan Perilaku Hidup Sehat Keluarga

Pencegahan Stunting dengan Perilaku Hidup Sehat Keluarga

05 October 2024

Tidak semua keluarga paham bagaimana cara mencegah agar anak tidak stunting. Akibatnya pola asuh orang tua kerap keliru. Persoalan ini secara perlahan mulai terjawab, para kader posyandu aktif memberikan pendampingan. Salah satu contohnya di Desa Mambalan, Lombok Barat.  

===

Siang itu, Husnul Patimah (33) tengah menggendong buah hatinya, Muhammad 1,8 tahun, di halaman rumahnya. Sementara anak pertamanya Gibran (7) asik bermain. Sesekali terdengar tawa ceria Gibran bersama teman-temannya.

Husnul Patimah sangat bersyukur kedua anaknya dalam kondisi sehat dan ceria. Sejauh ini pertumbuhan mereka normal, tidak ada gejala yang mengarah ke masalah tumbuh kembang anak atau stunting. Berat dan tinggi badan selalu ia cek saat kegiatan posyandu. Asupan makanan juga tetap dijaga agar gizinya memadai.

Untuk asupan gizi anaknya, Husnul Patimah mengaku selalu berusaha memenuhi empat unsur gizi seperti karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayuran. Makanan yang sering diberikan ke anaknya berupa telur, nasi, sayur kelor, dan tempe. Ilmu itu dia dapatkan dari para kader posyandu yang mendampinginya.

“Sayuran, apa namanya 4 bintang itu? Saya kan pernah sekolah (pelatihan di posyandu), diajarkan unsur gizi ada protein nabati, protein hewani, karbohidrat, vitamin dan mineral,” kata wanita tamatan SMP ini.

Ia mengakui, setelah mengikuti beberapa kegiatan di Posyandu Permata Hati Desa Mambalan yang merupakan salah satu intervensi Yayasan Plan International (Plan Indonesia) melalui program peningkatan kapasitas kader keluarga berencana untuk pencegahan stunting (Parents), Husnul Patimah mengaku mendapat banyak ilmu. Sedikit demi sedikit dia mulai memahami apa itu stunting dan bagaimana cara mencegahnya.

Salah satu materi yang dia ingat adalah bagaimana menjaga asupan gizi untuk anak dan sanitasi yang sehat di rumahnya. “Alhamdulillah, bagaimana mengatasi anak stunting, kemudian cara pertumbuhan anak itu, Insyaallah paham. Saya coba terapkan di rumah sedikit-sedikit,” katanya.

Meski demikian, Husnul Patimah menyadari banyak yang belum dia pahami secara detail soal stunting. Sehingga dia kerap bertanya langsung ke para kader posyandu Permata Hati Desa Mambalan. “Misalnya, anak saya kuat dia makan, tetapi kenapa berat dan tinggi badannya enggak naik buk? Dikasilah pemahaman sama ibu kader apa yang kurang,” tuturnya.

Sebelumnya ia belum memiliki pemahaman sama sekali terkait stunting dan cara mencegahnya. Pendampingan yang dilakukan para kader posyandu menurutnya sangat membantu. Dia tentu berharap dengan pola asuh yang tepat kedua anaknya tumbuh dengan bagus.

Pola Hidup Sehat

Armah (37), ibu rumah tangga lainnya di Desa Mambalan mengakui, dia baru mulai paham bagaimana pola asuh yang baik setelah rutin mengikuti kegiatan posyandu. Untuk mencegah stunting, dia tidak hanya menjaga pola makan tetapi juga santitasi di rumahnya harus tetap baik.

Sanitasi yang buruk dapat menimbulkan penyakit pada balita serta diare yang mengganggu pencernaan dan pertumbuhan anak. Karena itu menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi salah satu langkah mencegah stunting.

“Saya selalu berusaha agar anak-anak saya terbiasa menjaga kebersihan, minimal anak-anak tidak buang air sembarangan,” katanya.

Armah memiliki tiga orang anak yakni Novalia (16), Kesya (10), dan Aditya (6 bulan). Tinggi dan berat badan ketiga anaknya cukup terjaga dengan baik. Sehingga dia merasa sangat senang dan bersyukur melihat perkembangan anak-anaknya setiap waktu.

“Makanan sayuran, tahu tempe, kalau ada rezeki kita beli daging, ikan. Kalau mau buah kita beli buah,” katanya.

Suami Ikut Berperan

Dalam menjaga pertumbuhan anak, Armah mengakui peran seorang suami juga sangat penting. Dia mengaku sang suami, Lalu Jamiludin (46) ikut membantu dia dalam merawat anak-anak usai pulang kerja. Ketika dia sibuk atau sedang lelah, sang suami giliran menjaga anaknya. “Kami berbagi tugas, sama-sama rawat anak,” ujarnya.

Lalu Jamiludin mengakui, meski sibuk kerja mencari nafkah di luar, tetapi dia juga tetap berusaha membantu mengurus anak. Karena anak harus diasuh bersama-sama. “Kalau anak lagi rewel ya kita ikut bantu-bantu,” katanya.

Sebagai seorang ayah, dia berusaha agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk keluarganya. Dia pun bersyukur dengan bekerja sebagai tukang bangunan penghasilannya cukup untuk membiayai sekolah dan makan minum sehari-hari.

Sri Ayuningsih, penyuluh KB Desa Mambalan mengakui peran seorang ayah dalam penanganan stunting penting. Minimal dia membantu agar sang istri tidak stres sehingga bisa lebih maksimal merawat anaknya.

“Ketika ibunya menyusui ayahnya mijat itu bisa meningkatkan produksi asinya, kualitas asinya lebih bagus, tidak seteres. Karena kalau setres bisa mempengaruhi produksi asi,” katanya.

Dia menekankan, pengasuhan anak bukan hanya tugas seorang ibu, tapi juga seorang ayah. “Harus sama-sama antara ayah dan ibu,” katanya.

Bagikan :