Menjaga Pesisir, Membangun Masa Depan Generasi Muda
24 July 2026
Hamparan mangrove yang membentang dari pesisir Wai Ara di wilayah Muruona hingga perbatasan Desa Laranwutun dan Kolontobo, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, menjadi bukti bahwa upaya pelestarian lingkungan membutuhkan komitmen jangka panjang dan kolaborasi banyak pihak.
Kawasan ini merupakan bagian dari Bentang Muro yang memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat pesisir. Bentang Muro mencakup zona inti seluas 52,21 hektare dan zona penyangga seluas 107,07 hektare, yang melindungi kawasan pesisir dengan total luasan pengelolaan mencapai 94,72 hektare. Selain menjadi habitat berbagai biota laut, kawasan ini juga berfungsi sebagai benteng alami yang melindungi masyarakat dari abrasi dan dampak perubahan iklim.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu seperti sekarang. Pada awal 1990-an, sebagian kawasan mangrove di Laranwutun mengalami kerusakan akibat penebangan liar untuk kebutuhan kayu bakar dan bahan bangunan. Hilangnya vegetasi mangrove menyebabkan pesisir menjadi lebih rentan terhadap kerusakan lingkungan dan mengancam keberlanjutan sumber daya yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat bersama Kelompok Lebalewo mulai melakukan berbagai upaya konservasi, mulai dari pembibitan, penanaman hingga pengawasan kawasan mangrove. Salah satu anggota kelompok yang aktif terlibat sejak awal adalah Bernadinus Gelatang (71).
Menurut Bernadinus, proses rehabilitasi mangrove bukanlah pekerjaan yang mudah. Berbagai tantangan harus dihadapi, mulai dari kondisi alam hingga tingginya tingkat kematian bibit yang baru ditanam.
“Selain menanam kami juga melakukan pengawasan, karena bibit yang ditanam tidak semuanya bisa tumbuh. Kadang sampai lima puluh persen bisa mati,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai hambatan, masyarakat terus melakukan penanaman secara berulang selama bertahun-tahun. Upaya tersebut kemudian diperkuat melalui advokasi kepada pemerintah desa yang menghasilkan aturan perlindungan mangrove dan larangan penebangan liar di kawasan pesisir.
Hasilnya mulai terlihat. Kawasan yang dahulu mengalami degradasi kini kembali ditumbuhi mangrove yang membentang di sepanjang garis pantai. Selain memberikan perlindungan ekologis, keberadaan mangrove juga mendukung mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya pesisir.
Keberhasilan pemulihan mangrove di Laranwutun bukan hanya tentang menjaga ekosistem. Upaya ini juga menjadi investasi bagi masa depan anak-anak dan kaum muda yang hidup di wilayah pesisir.
Lingkungan yang sehat merupakan bagian dari hak anak dan kaum muda. Mangrove membantu menjaga kualitas lingkungan, melindungi kawasan pesisir dari abrasi, serta mendukung keberlanjutan sektor perikanan yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga. Dengan demikian, konservasi mangrove turut berkontribusi dalam menciptakan ruang hidup yang lebih aman dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Kaum Muda Menjadi Penggerak Konservasi Pesisir
Melalui Pantai Project, Plan Indonesia bersama mitra mendorong keterlibatan aktif kaum muda, termasuk perempuan muda, dalam upaya konservasi dan pembangunan pesisir yang berkelanjutan.
Salah satu wujudnya adalah melalui penguatan Komite Muro, yang berperan dalam pengelolaan kawasan pesisir. Dari total 125 anggota Komite Muro, sebanyak 54 orang atau 43 persen merupakan kaum muda. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa generasi muda semakin dipercaya menjadi bagian dari pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya alam di wilayahnya.
Tidak hanya itu, kaum muda juga membentuk Jaringan Komite Muro Kabupaten yang dipimpin dan dikelola sepenuhnya oleh anak muda. Mereka memperoleh pelatihan tentang konservasi pesisir berbasis masyarakat, teknik perikanan, pengolahan hasil panen, komunikasi, kepemimpinan, serta advokasi kebijakan.
Berbekal kapasitas tersebut, mereka terlibat dalam dialog dan advokasi bersama Pemerintah Kabupaten Lembata dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir. Mereka juga mengembangkan berbagai aksi iklim dan usaha berkelanjutan seperti produksi abon ikan, budidaya madu mangrove, dan pembuatan terumbu karang buatan.
Dampak positifnya tidak hanya dirasakan di wilayah dampingan program. Sejumlah kelompok muda dari desa lain mulai mengembangkan berbagai inovasi konservasi secara mandiri dan tumbuh sebagai youth innovators yang menginspirasi gerakan pelestarian pesisir di wilayah mereka masing-masing.

Bagi Bernadinus, keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan upaya yang telah dirintis selama puluhan tahun. “Pesan saya, tolong dilanjutkan. Kami ini sudah tua,” katanya.
Pesan sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah mangrove yang tumbuh, tetapi juga dari munculnya generasi muda yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan keberanian untuk menjaga lingkungan mereka. Apa yang dimulai oleh masyarakat Laranwutun puluhan tahun lalu kini terus berlanjut melalui peran aktif kaum muda yang menjadi garda depan dalam menjaga masa depan pesisir Lembata.