Menanam Pohon Tidak Akan Pernah Cukup: Perjalananku Menemukan Arti Sebenarnya dari Aksi Iklim
29 July 2026
Penulis: Sofia
Bagaimana jika selama ini kita salah memahami cara menyelamatkan bumi?Pertanyaan itu terus menghantuiku.
Selama bertahun-tahun, ketika mendengar kata “aksi iklim”, yang muncul di kepala banyakorang adalah menanam pohon, membersihkan sampah, atau mengurangi penggunaan plastik.
Aku pun demikian. Aku pernah menginisiasi sebuah gerakan bernama Youth for Climate Action, sebuah programyang mengajak anak muda melakukan penanaman pohon sebagai upaya restorasi lahan bekaskebakaran hutan dan lahan.
Saat itu, aku merasa sedang melakukan sesuatu yang besar.
Kami menanam bibit demi bibit dengan keyakinan bahwa setiap pohon yang tumbuh akan menjadi harapan bagi masa depan.
Tetapi, di tengah perjalanan, sebuah pertanyaan sederhana mengusik pikiranku. Apakah kita sedang menyelamatkan hutan, tetapi melupakan manusia yang hidup disekitarnya?
Karena kenyataannya, krisis iklim tidak pernah hanya tentang lingkungan.
Krisis iklim adalah tentang kehidupan.
Tentang ibu yang kesulitan mendapatkan air bersih.
Tentang anak-anak yang tumbuh dengan masa depan yang semakin tidak pasti.
Tentang penyandang disabilitas yang sering kali tidak pernah diajak berbicara ketika kebijakan lingkungan disusun.
Tentang masyarakat adat yang menjaga alam selama puluhan tahun, tetapi suaranya jarang didengar.
Aku mulai menyadari bahwa selama ini kita terlalu sering berbicara tentang menyelamatkan bumi, tetapi lupa bertanya kepada manusia yang paling terdampak.
Ironisnya, mereka yang paling merasakan dampak perubahan iklim justru sering kali menjadi kelompok yang paling sedikit dilibatkan.
Dari kegelisahan itulah semuanya dimulai.
Suatu hari, aku melihat sebuah unggahan Instagram tentang Program Penggerak Muda Nasional yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia melalui hibah IKI Small Grant. Saat itu aku melihat lebih dari sekadar peluang pendanaan. Aku melihat kesempatan untuk mengubah cara pandang tentang aksi iklim.
Aku tidak ingin membuat program yang hanya selesai ketika kegiatan berakhir.
Aku ingin membangun sebuah ruang.
Ruang untuk mendengar.
Ruang untuk belajar.
Ruang agar orang-orang yang selama ini terpinggirkan dapat berdiri sejajar dan mengatakan, “Ini yang kami rasakan. Ini yang kami butuhkan.”
Dari situlah lahir EcoAdvocacy YouthHub.
Bukan sekadar program.
Bukan sekadar proyek.
Tetapi sebuah upaya untuk membangun ekosistem partisipasi yang lebih adil.
Aku percaya bahwa solusi lingkungan yang berkelanjutan tidak akan pernah lahir dari ruang rapat yang hanya diisi oleh segelintir orang. Solusi harus dibangun bersama mereka yang hidup berdampingan dengan persoalan tersebut setiap hari.
Saat mendaftar Program Penggerak Muda Nasional, aku dipenuhi rasa ragu.
Aku tahu ada banyak anak muda hebat dari seluruh Indonesia yang memiliki ide-ide luar biasa. Aku bertanya kepada diriku sendiri, apakah gagasanku cukup layak? Apakah suara dari daerah kecil seperti tempatku berasal pantas untuk didengar?
Tetapi kemudian aku sadar.
Perubahan besar tidak selalu lahir dari kota-kota besar.
Perubahan besar sering kali lahir dari seseorang yang memilih untuk tidak lagi diam.
Ketika akhirnya aku dinyatakan lolos, perasaan bahagia bercampur dengan rasa tanggung jawab yang besar.
Aku sadar bahwa ini bukan lagi tentang diriku.
Ini tentang banyak orang yang menitipkan harapan pada program ini.
Selama mengikuti pelatihan, aku belajar bahwa aksi iklim jauh lebih kompleks daripada yang kubayangkan. Aku bertemu dengan banyak anak muda yang memiliki keresahan yang sama. Kami belajar bahwa perubahan iklim tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan ekonomi, kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, dan keadilan sosial.
Di titik itu, aku semakin yakin.
Krisis iklim bukanlah persoalan masa depan.
Ia sudah terjadi hari ini.
Dan jika kita masih berpikir bahwa perubahan iklim hanya urusan aktivis lingkungan, kita sedang terlambat.
Perjalanan EcoAdvocacy YouthHub kemudian membawaku ke Girsang, Kabupaten Simalungun.
Di sana, kami menyelenggarakan workshop literasi iklim, kebakaran hutan dan lahan, serta Gender Equality and Social Inclusion (GESI).
Sebanyak 36 orang berkumpul dalam satu ruang yang sama. Ada pemuda, perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat adat.
Aku melihat sesuatu yang selama ini jarang kulihat.
Ketika diberi ruang yang aman, semua orang sebenarnya ingin terlibat.
Mereka ingin didengar.
Mereka ingin menjadi bagian dari solusi.
Mereka ingin masa depan yang lebih baik.
Aku mendengar cerita tentang sumber air yang mulai berkurang.
Aku mendengar keresahan tentang cuaca yang semakin sulit diprediksi.
Aku mendengar kekhawatiran tentang pertanian yang semakin rentan.
Dan aku menyadari satu hal.
Masyarakat tidak kekurangan kepedulian.
Mereka hanya terlalu lama tidak diajak berbicara.
Padahal selama ini kita sering membuat kesalahan yang sama.
Kita datang membawa solusi sebelum benar-benar mendengar persoalannya.
Kita sibuk berbicara tentang keberlanjutan, tetapi lupa bertanya, “Apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat?”
Mungkin inilah salah satu penyebab mengapa banyak program lingkungan berhenti ketika pendanaannya selesai.
Karena kita terlalu fokus membangun proyek, bukan membangun kepemilikan bersama.
EcoAdvocacy YouthHub mengajarkanku bahwa perubahan yang sesungguhnya tidak dimulai dari seberapa besar anggaran yang kita miliki.
Perubahan dimulai ketika seseorang merasa bahwa dirinya penting.
Ketika seseorang percaya bahwa suaranya berharga.
Ketika seseorang menyadari bahwa ia juga memiliki peran dalam menentukan masa depan.
Hasil evaluasi memang menunjukkan peningkatan yang membanggakan. Tingkat pemahaman peserta meningkat sebesar 33%, melampaui target yang ditetapkan.
Namun, bagiku, angka hanyalah angka.
Capaian terbesar bukanlah statistik.
Capaian terbesar adalah ketika seseorang pulang dengan keyakinan baru bahwa dirinya mampu menjadi agen perubahan.
Karena perubahan tidak terjadi dalam satu malam.
Perubahan lahir dari percakapan.
Perubahan lahir dari keberanian.
Perubahan lahir dari orang-orang biasa yang memutuskan untuk peduli.
Program ini juga mengubah diriku.
Aku yang dulu berpikir bahwa menanam pohon adalah tujuan, kini menyadari bahwa menumbuhkan manusia jauh lebih penting.
Sebab siapa yang akan menjaga pohon-pohon itu jika manusianya tidak pernah dilibatkan?
Kita sering berbicara tentang mewariskan bumi yang baik kepada generasi mendatang.
Tetapi mungkin kita perlu membalik pertanyaannya:
Generasi seperti apa yang sedang kita siapkan untuk mewarisi bumi ini?
Karena bumi tidak membutuhkan penyelamat.
Bumi membutuhkan manusia yang mau mendengarkan, mau berkolaborasi, dan mau bergerak bersama.
Hari ini aku semakin percaya bahwa anak muda bukanlah pemimpin masa depan.
Kita adalah pemimpin hari ini.
Kita tidak harus menunggu usia, jabatan, atau kekuasaan untuk memulai perubahan.
Yang kita butuhkan hanyalah keberanian untuk mengambil langkah pertama.
Sebab sejarah tidak pernah diubah oleh orang-orang yang menunggu semuanya sempurna.
Sejarah diubah oleh orang-orang yang berani memulai, meskipun dengan segala keterbatasannya.
Dan jika ada satu hal yang ingin aku tinggalkan dari perjalanan ini, maka itu adalah pesan sederhana:
Jangan hanya menanam pohon.
Tanamlah harapan.
Jangan hanya membangun program.
Bangunlah rasa memiliki.
Jangan hanya berbicara tentang perubahan.
Libatkan mereka yang selama ini tidak pernah didengar.
Karena masa depan yang berkelanjutan tidak akan pernah tercipta tanpa keadilan.
Dan keadilan selalu dimulai dari keberanian untuk mendengarkan.
This project is supported by the IKI Small Grants programme strengthening local solutions for effective climate and biodiversity action. IKI Small Grants is funded by the Federal Ministry for the Environment, Climate Action, Nature Conservation and Nuclear Safety (BMUKN) and is run by Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH. It is part of Germany’s International Climate Initiative (IKI).