Memimpin dengan Teladan: Komitmen Ustadz Raden Usman dalam Mendorong Peran Ayah di Mambalan
20 April 2026
Raden Usman (32) adalah ayah dari dua anak perempuan berusia tujuh tahun dan tiga setengah tahun, yang tinggal di Desa Mambalan, Lombok Barat. Dalam kesehariannya sebagai ustadz yang memfasilitasi pengajian dan menyampaikan ceramah, ia menyadari bahwa pengetahuannya tentang pengasuhan masih terbatas.
Ia melihat Kelas Ayah BKB sebagai kesempatan yang tepat untuk melengkapi pemahaman keagamaannya dengan pengetahuan praktis tentang pengasuhan.
Sebagai ayah dari anak usia dini hingga menjelang remaja, ia melihat banyak tantangan pengasuhan di masyarakat. Mulai dari anak yang diasuh bukan oleh orang tua kandung, orang tua tunggal, hingga masalah yang lebih besar seperti perkawinan anak dan pengabaian anak.
Pola pengasuhan yang kurang tepat ini sering berujung pada stunting, malnutrisi, dan kondisi kesehatan yang buruk sejak lahir. Ia juga mengamati fenomena anak-anak yang lebih kecanduan gawai dibandingkan belajar atau mengaji, yang berdampak pada menurunnya kualitas perkembangan generasi muda.
Kondisi ini semakin memotivasinya untuk mengikuti Kelas Ayah. Ia juga merasa senang melihat antusiasme para ayah lain yang ingin belajar dari materi yang disampaikan oleh PKB, Ibu Sri Ayuningsih.
Salah satu pelajaran yang paling membekas baginya adalah bahwa karakter anak yang baik berawal dari ayah yang baik. Dan untuk membentuk hal itu, seorang ayah harus menjadi teladan.
Ia melihat banyak kasus di mana anak kehilangan motivasi karena kurangnya contoh dari orang tua. Misalnya, orang tua yang menyuruh anak berbuat baik tetapi sendiri masih mengonsumsi alkohol, atau meminta anak belajar tetapi tidak pernah mendampingi mereka.
Dengan semangat untuk menghadirkan figur ayah yang menjadi teladan, Ustadz Raden Usman berkomitmen penuh mendukung program BKB. Ia bersedia menjadi pengurus sekaligus fasilitator Kelas Ayah.
Lebih dari itu, ia juga menawarkan tempat pengajiannya sebagai lokasi pelaksanaan kelas. Ia menjelaskan bahwa kegiatan mengaji berlangsung dari Senin hingga Jumat, sementara akhir pekan diisi dengan ceramah dari para tuan guru yang dapat menjadi ruang strategis untuk menyisipkan materi pengasuhan BKB.
Ia berencana berkoordinasi dengan para kader dan petugas PKB agar hal ini dapat terwujud. Dengan demikian, nilai-nilai keagamaan dan praktik pengasuhan dapat berjalan beriringan demi kebaikan masyarakat.
Ditulis oleh: Zamroni Rangga Putrawan│Editor: Annisa Hanifa│Foto: Plan Indonesia/Zamroni Rangga Putrawan