Chevron Right Black Berita Kami Chevron Right Gray Membangun Budaya Siaga Bencana dari Sekolah di Bantul
Membangun Budaya Siaga Bencana dari Sekolah di Bantul

Membangun Budaya Siaga Bencana dari Sekolah di Bantul

15 July 2026

Di Kabupaten Bantul, kesiapsiagaan bencana dibangun tidak hanya saat keadaan darurat terjadi, tetapi jauh sebelumnya yakni dimulai dari sekolah. Melalui program MY CARE (Maybank for Child-centred Approach for Resilience and Emergency Preparedness), Plan Indonesia bersama Maybank mendampingi 27 satuan pendidikan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui pendekatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Pendekatan ini tidak berhenti pada pelatihan semata. Program ini mendorong sekolah membangun kesiapsiagaan secara lebih menyeluruh, mulai dari peningkatan kapasitas peserta didik dan guru, penyusunan dokumen kesiapsiagaan, pembentukan tim siaga bencana, hingga simulasi bencana yang melibatkan warga sekolah.

Di tingkat peserta didik, penguatan dilakukan melalui pelatihan pertolongan pertama dan fire drill. Sebanyak 25 satuan pendidikan juga berhasil mengembangkan materi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) untuk menyampaikan pesan-pesan kesiapsiagaan bencana secara kreatif di lingkungan sekolah. Sementara itu, 27 guru dan tenaga kependidikan mengikuti pelatihan fasilitator SPAB, dan evaluasi menunjukkan 81 persen peserta mengalami peningkatan pengetahuan terkait sekolah aman dan implementasi SPAB.

Penguatan tersebut kemudian dilengkapi melalui penyusunan dokumen kesiapsiagaan, penyediaan jalur evakuasi dan titik kumpul, serta simulasi mandiri di sekolah. Secara keseluruhan, program ini melibatkan 8.541 warga satuan pendidikan dalam kegiatan pendidikan aman bencana dan simulasi.

Dampak program juga dirasakan langsung oleh sekolah. Purwanto, Kepala Sekolah salah satu SMP di Kabupaten Bantul, menyebut pelatihan fasilitator SPAB telah memperdalam pemahaman sekolah tentang pentingnya kesiapsiagaan sekaligus meningkatkan kesadaran siswa dan guru. Senada dengan itu, Sumandhita Noviani, Kepala Sekolah salah satu SD, menilai program ini memberi pengalaman belajar yang berharga karena anak-anak tidak hanya belajar tentang bencana, tetapi juga tentang saling membantu dan menjaga keselamatan bersama.

Agar upaya ini terus berlanjut, program MY CARE juga memperkuat Sekretariat Bersama (Sekber) SPAB Kabupaten Bantul. Kolaborasi antara sekolah, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas kebencanaan menjadi fondasi penting untuk memastikan budaya siaga bencana terus tumbuh di lingkungan satuan pendidikan.

Pengalaman di Bantul menunjukkan bahwa membangun sekolah aman bencana bukan sekadar menyiapkan respons saat darurat. Lebih dari itu, upaya ini merupakan investasi untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mampu melindungi anak-anak dalam berbagai situasi.

Bagikan :