Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Melampaui Keterbatasan: Peran Ibu Uyun dalam Menghidupkan Kembali Kelas Pengasuhan di Desa Puyung, Lombok Tengah

Melampaui Keterbatasan: Peran Ibu Uyun dalam Menghidupkan Kembali Kelas Pengasuhan di Desa Puyung, Lombok Tengah

20 April 2026

Nurul Asikin, yang akrab disapa Ibu Uyun, adalah kader di Posyandu Melati 15, Desa Puyung, Lombok Tengah. Ia merupakan satu-satunya kader dengan disabilitas fisik yang tetap aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kesehatan di desanya. Keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang baginya. Sebagai ibu rumah tangga, Ibu Uyun justru menunjukkan semangat dan komitmen luar biasa dalam mendukung masyarakat melalui perannya sebagai kader

Ibu Uyun pertama kali mengenal Project PARENTS pada akhir tahun 2023, saat kegiatan baseline dan riset awal dilakukan untuk meningkatkan partisipasi orang tua dalam kelas pengasuhan. Keterlibatan awal ini memberinya pemahaman langsung tentang kondisi pengasuhan di desanya serta kebutuhan nyata masyarakat.

Sebelum adanya Project PARENTS, kegiatan pengasuhan di Desa Puyung sangat terbatas. Para kader, termasuk Ibu Uyun, hanya mengandalkan Posyandu sebagai sarana penyampaian informasi. Edukasi pengasuhan biasanya disampaikan oleh tenaga kesehatan dalam kegiatan tertentu seperti kelas ibu hamil, yang tidak rutin dan hanya menyasar kelompok tertentu.

Menurut Ibu Uyun, meskipun para kader menyadari pentingnya menyampaikan informasi pengasuhan di setiap pertemuan, keterbatasan pengetahuan, sumber daya, dan rasa percaya diri membuat mereka belum mampu memulai kelas pengasuhan secara mandiri.

Di sisi lain, kelas pengasuhan belum menjadi prioritas dalam pembangunan desa. Banyak pihak merasa layanan Posyandu sudah cukup, padahal kebutuhan akan edukasi pengasuhan sangat mendesak terutama karena banyak anak diasuh oleh kakek-nenek sementara orang tua mereka bekerja sebagai pekerja migran di luar negeri. Kondisi ini seringkali menghasilkan pola asuh yang hanya berdasarkan pengalaman dan tradisi, tanpa dukungan pengetahuan yang memadai.

Meski sebelumnya pernah dibentuk kelompok Bina Keluarga Balita (BKB), kegiatan tersebut hanya berjalan di atas kertas. Tidak ada aktivitas rutin karena lemahnya pengelolaan, meskipun sudah mendapatkan bantuan sarana dari pemerintah kabupaten.

Keterlibatan aktif Ibu Uyun dimulai ketika ia mengikuti survei awal, proses baseline, dan wawancara riset. Bersama kader lainnya, ia juga mengikuti pelatihan Modul Advokasi Pengasuhan 1.000 HPK. Namun, pelatihan yang paling berkesan baginya adalah pelatihan Komunikasi Perubahan Sosial dan Perilaku (SBCC), yang mampu meningkatkan minat orang tua untuk menghadiri kelas.

Dari berbagai pelatihan tersebut, Ibu Uyun mengalami perubahan besar, terutama dalam hal kepercayaan diri. Pengetahuan dan keterampilan yang ia peroleh memberdayakan dirinya dan kader lain untuk menghidupkan kembali kelas BKB. Kini, kelas tersebut diselenggarakan secara rutin setiap bulan, dengan materi yang sederhana dan mudah dipahami.

Sejauh ini, kelas BKB telah berjalan selama lima pertemuan dengan sistem fasilitator bergilir antar kader. Perubahan positif juga terlihat dari peserta. Antusiasme orang tua dan pengasuh meningkat pesat, terutama karena jadwal kelas diatur sebelum kegiatan Posyandu.

Orang tua kini datang lebih awal dan menunjukkan minat tinggi karena materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan mereka. Untuk meningkatkan partisipasi, kader juga memberikan insentif sederhana seperti mi instan atau telur bagi peserta yang aktif menjawab kuis. Cara ini terbukti efektif meningkatkan motivasi.

Kehadiran menjadi lebih disiplin, peserta bahkan sudah datang sejak pukul 08.00 setelah menerima undangan melalui WhatsApp dan pengumuman dari pengeras suara masjid. Materi yang disampaikan juga mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ibu hamil, ibu menyusui, dan kakek-nenek kini lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Jika sebelumnya kelas BKB tidak berjalan sama sekali, kini setiap pertemuan dihadiri oleh 30–40 peserta. Bagi Ibu Uyun, ini adalah pencapaian besar dan bukti nyata bahwa upaya para kader membuahkan hasil.

Ia menilai kontribusi Project PARENTS sangat signifikan, terutama dalam membantu kader meningkatkan partisipasi melalui berbagai media pemicu. Bersama kader lain, ia memasang poster di lokasi strategis agar pesan dapat dilihat setiap hari.

Untuk menjaga keberlanjutan, Ibu Uyun menekankan pentingnya konsistensi. Jika terlalu lama jeda, semangat kader dan peserta bisa menurun. Meskipun dukungan dari pemerintah desa masih terbatas, hal itu tidak menyurutkan semangatnya.

Ia berencana terus mengadvokasi agar kegiatan pengasuhan menjadi prioritas desa, sehingga kelas dapat terus berjalan meskipun program telah selesai. Perjalanan ini tidak mudah, membutuhkan semangat, komitmen, dan kerja sama yang kuat.

Ibu Uyun berharap apa yang dilakukan di Posyandu Melati 15 dapat menjadi contoh praktik baik bagi desa lain. Seperti yang ia ungkapkan:

“Dulu saya berpikir keterbatasan saya akan menjadi penghalang untuk bermanfaat bagi orang lain. Tapi sekarang saya sudah membuktikan bahwa kekurangan bukanlah batas untuk memberi manfaat. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Bagikan :