Mefi dan Kios Gizi: Bukti Masa Depan Bisa Dibangun di Kampung Sendiri
09 January 2026
Mefi (20 tahun), tinggal di salah satu desa dampingan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggar Timur. Ia jauh dari hiruk-pikuk kota. Hidupnya sederhana, lahir dari keluarga petani dan peternak yang menggantungkan hidup pada hasil bumi dan ternak seadanya.
Mefi adalah anak kedua dari empat bersaudara. Sejak kecil, ia tumbuh dengan mimpi besar, melanjutkan pendidikan setinggi mungkin agar kelak bisa mengubah nasib keluarganya.
Namun, ia harus berhadapan dengan realita. Kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas memaksanya mengubur impian melanjutkan kuliah. Saat itu, kakaknya sedang berjuang menempuh pendidikan di salah satu universitas di Kota Kupang. “Saya tahu orang tua tidak sanggup membiayai dua anak kuliah sekaligus,” kenang Mefi. Dengan hati berat, ia memutuskan untuk berhenti bermimpi, setidaknya untuk sementara.
Tak ingin menjadi beban, Mefi memilih merantau ke Kota Kupang. Ia mendapat pekerjaan sebagai penjaga toko parfum dengan gaji Rp 750 ribu per bulan. Jumlah ini sangat kecil, apalagi dengan kondisi harus tinggal bersama pemilik toko. “Hidup di kota tidak semudah yang saya bayangkan. Gaji kecil, biaya hidup besar, dan jauh dari keluarga,” ujarnya.
Meski begitu, ia bertahan selama beberapa tahun, menahan rindu kampung halaman demi membantu orang tua.
Langkah Awal Menuju Kemandirian
Roda hidup Mefi kembali bergerak pada 2024. Mefi memutuskan pulang ke desanya. Keputusan ini bukan tanpa risiko, karena ia harus meninggalkan pekerjaan tetap di kota dan kembali ke kampung yang serba terbatas.
Namun, takdir berpihak kepadanya. Sekembalinya dari kota, ia mendengar kabar dari Yosafat Manit, Field Development Officer (FDO) Plan Indonesia. Yosafat menginfokannya tentang sebuah proyek bernama Youth-Led Agri-Food (YLAF). Program ini dilaksanakan Plan Indonesia dengan dukungan Citi Foundation untuk meningkatkan kemampuan kaum muda desa melalui pertanian agrikultur dan juga peternakan ayam petelur.
Mefi langsung tertarik. “Saya pikir ini kesempatan yang tidak boleh saya lewatkan,” katanya. Dengan semangat, ia mendaftarkan diri dan melengkapi semua persyaratan. Dukungan keluarga pun mengalir, terlebih ayahnya yang aktif sebagai relawan Plan Indonesia di desa.
Melalui proyek YLAF, Mefi mendapat bantuan awal berupa bangunan Kios Gizi yang lengkap dengan sembako seperti beras, minyak goreng, gula, kopi, dan barang kebutuhan lainnya. Dari sinilah perjalanan baru dimulai. Awalnya, kios kecil itu hanya melayani tetangga sekitar. Namun, berkat kerja keras dan kepercayaan masyarakat, kios Mefi berkembang pesat. Barang dagangan bertambah, modal berputar, dan pelanggan semakin ramai.
Kini, setelah lebih dari setahun, kios gizi Mefi menjadi salah satu pusat belanja favorit warga desa. Pendapatannya pun melonjak. “Setiap hari saya bisa dapat Rp350-Rp400 ribu. Kalau ramai, sebulan bisa lebih dari Rp 5 juta,” ujarnya dengan senyum bangga. Angka ini jauh melampaui gaji yang dulu ia terima di toko parfum.
Keberhasilan ini bukan hanya mengubah hidup Mefi, tetapi juga keluarganya. Ia kini mampu membantu adik bungsu yang masih duduk di bangku SD. “Saya bisa belikan jajan setiap hari, seragam sekolah, buku tulis, dan perlengkapan lainnya,” katanya. Hal-hal kecil yang dulu terasa mustahil kini menjadi nyata.
Lebih dari itu, Mefi merasakan perubahan besar dalam dirinya. “Saya lebih percaya diri dan optimis. Ternyata masa depan yang baik tidak harus dicari di kota, tetapi bisa kita bangun di kampung sendiri,” ucapnya penuh semangat.
Cerita Mefi adalah gambaran bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjuangan. Dengan keberanian mengambil keputusan, memanfaatkan peluang, dan kerja keras, mimpi bisa diwujudkan. “Jangan takut pulang kampung. Di sini juga ada peluang kalau kita mau berusaha,” pesannya untuk kaum muda.
Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Masajeng Rahmiasri │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru