Chevron Right Black Cerita Kami Chevron Right Gray Marlin Bangkit Dari Kehilangan Kedua Orang Tuanya

Marlin Bangkit Dari Kehilangan Kedua Orang Tuanya

19 December 2025

Kehidupan Marlin berubah sebelum ia sempat memahaminya. Pada usia 12 tahun, Marlin kehilangan ayahnya. Dua bulan kemudian, ibunya memutuskan merantau ke Sulawesi untuk mencari penghidupan. Sejak saat itu, Marlin—seorang laki-laki muda dari Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur–harus hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya. 

Marlin yang saat itu masih berusia sangat muda harus tinggal bersama keluarga terdekat ibunya. Meski penuh keterbatasan, Marlin berhasil lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) pada 2020. Namun, setelah lulus, ia dihadapkan pada pertanyaan besar: Apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup? 

Alih-alih merantau atau mencari pekerjaan di kota, Marlin memilih untuk bertani di desanya. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Bertani adalah keterampilan yang ia kenal sejak kecil, meski hanya sebatas cara tradisional. Namun, ia sadar bahwa untuk berhasil, ia harus mengubah cara pandang dan metode pertaniannya. 

Pada tahun 2020, Marlin mulai mendapatkan pendampingan dari program Green Skill 2.0 yang dijalankan oleh Plan Indonesia. Selama dua tahun, ia belajar mengelola lahan secara lebih modern, mempelajari perencanaan tanam, hingga bekerja secara berkelompok. Pendampingan perlahan mengubah pendekatannya kepada pertanian. Ia tidak hanya memandang pertanian sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, tetapi juga sebagai usaha untuk dikembangkan. 

Panen Raya: Awal Kesuksesan 

Perubahan semakin terasa nyata pada 2022, ketika kebun Marlin dan kelompoknya menjadi lokasi panen raya, sebuah program dar Green Skill 2.0. Acara tersebut dihadiri oleh Bupati TTS dan Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti. 

“Momen ini adalah salah satu kebanggaan saya, karena bisa melakukan panen raya bersama orang nomor satu di TTS dan orang nomor satu di Plan Indonesia,” ungkap Marlin. 

Dalam kegiatan tersebut, Marlin dan kelompoknya berhasil meraih pendapatan dari panen sebesar Rp15 juta—angka yang belum pernah mereka capai sebelumnya. Sebab, sebelum pendampingan, Marlin dan kelompoknya cenderung bertani secara tradisional dan berpenghasilan minim. Keberhasilan di panen raya pun memberi keyakinan kepada Marlin, bahwa pilihannya untuk bertani tepat, karena pertanian bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan bagi kaum muda di pedesaan. 

Memang, setelah panen raya, Marlin sempat memutuskan untuk mengunjungi ibunya di Sulawesi sekaligus mencari pekerjaan di sana. Namun, setelah beberapa bulan, ia memutuskan untuk pulang. 

“Saya tidak betah di sana, jadi saya memutuskan untuk kembali,” ujarnya.  

Keputusan ini justru membuka peluang yang semakin besar. 

Bergabung dengan YLAF 

Pada tahun 2024, Marlin dan kelompoknya bergabung dengan pelatihan lanjutan, Youth-Led Agri-Food (YLAF), yang dijalankan Plan Indonesia dengan dukungan Citi Foundation di TTS. Program ini berfokus pada penguatan pertanian dan peternakan ayam petelur bagi kaum muda di wilayah tersebut. 

Melalui program ini, Marlin menerima 150 ekor ayam petelur, lengkap dengan kandang dan pakan untuk tiga bulan awal. Kelompok Marlin juga menyiapkan kandang secara swadaya untuk memperluas skala bisnis. Dari usaha ayam petelur, kelompok Marlin memperoleh penghasilan sekitar Rp 6-7 juta per bulan 

Selain itu, kelompok Marlin juga menerima bantuan peralatan pertanian seperti traktor tangan, selang irigasi tetes, dan aksesoris lainnya. Bantuan ini membuat mereka mampu mengelola pertanian dengan lebih efisien, menghasilkan sayur seperti tomat, picai, kacang panjang, pakcoy, dan cabai, dengan penghasilan rata-rata Rp 3-4 juta per panen. 

Melihat perkembangan usahanya, Marlin dan kelompoknya mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 100 juta dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Permohonan ini disetujui. Dana itu untuk digunakan untuk membangun kandang ayam petelur baru dengan kapasitas 250 ekor, yang sudah mulai beroperasi. Tidak hanya itu, Marlin juga memulai usaha ayam pedaging dengan 100 ekor anakan ayam.  

“Saya sangat bangga dengan capaian ini. Saya bersyukur memutuskan untuk kembali ke kampung. Jika tetap merantau, penghasilan saya mungkin tidak akan sebesar ini,” sebutnya. 

Rencana Masa Depan 

Meski pendampingan YLAF sudah usai, Marlin dan kelompoknya akan melangkah lebih jauh. Mereka sudah berencana membangun kios telur di pinggir jalan untuk mempermudah penjualan dan penyimpanan stok, terutama saat musim hujan dan akses menuju desa menjadi sulit. Mereka juga ingin memperluas jaringan, agar hasil usaha mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas. 

Kisah Marlin mengajarkan kita bahwa ketekunan dan keberanian mengambil keputusan adalah kunci kesuksesan. Dari seorang anak yang kehilangan kedua orang tua di usia 12 tahun, Marlin kini menjadi laki-laku muda berdaya yang mampu mengatur hidupnya dengan strategi, bekerja kolektif, dan meraih kesuksesan dari tanah kelahirannya. 

Ditulis oleh: Agus Haru │Editor: Masajeng Rahmiasri │Foto: Plan Indonesia/Agus Haru 

Bagikan :