Libatkan Peran Anak Lawan Kekerasan Daring, Plan Indonesia dan ICT Watch Luncurkan Child Lens
10 January 2026
Jakarta, 10 Januari 2026 — Akses internet yang semakin meluas di Indonesia membawa peluang sekaligus risiko serius bagi anak-anak. Data World Bank (2021) menunjukkan bahwa 62 persen rumah tangga perkotaan dan 36 persen rumah tangga pedesaan mengakses internet secara reguler, dengan sekitar 67 persen penggunanya adalah anak-anak. Namun, ruang digital yang seharusnya aman justru menyimpan kerentanan besar.
Hasil survei Plan International (2020) mengungkapkan bahwa 58 persen anak perempuan mengalami kekerasan seksual berbasis daring atau Online Child Sexual Exploitation and Abuse
Merespons kondisi tersebut, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia bersama ICT Watch Indonesia, dengan dukungan Safe Online, meluncurkan program Child LENS. Program ini merupakan inisiatif berbasis riset partisipatoris yang melibatkan anak dan kaum muda dari desa dan kota sebagai peneliti bersama (co-researchers). ChildLENS bertujuan memperkuat respons Indonesia terhadap OCSEA melalui riset yang berpihak pada anak, evaluasi indikator Child Sexual Abuse Material (CSAM) di sektor pemerintah dan swasta, serta advokasi kebijakan digital ramah anak.
Child LENS juga menyoroti dua sisi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan anak, baik sebagai alat perlindungan maupun potensi ancaman.
“AI dan platform digital tidak boleh hanya dipandang sebagai teknologi, tetapi sebagai ruang hidup baru bagi anak. Oleh karena itu, perspektif dan pengalaman anak harus menjadi fondasi utama dalam merancang perlindungan yang efektif,” ujar Dini Widiastuti selaku Executive Director Plan Indonesia, pada peluncuran program di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Sabtu (10/1).
Wijaya Kusumawardhana Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya Kementerian Komunikasi dan Digital. yang hadir dan memberikan keynote speech dalam peluncuran Child LENS, menegaskan pentingnya pendekatan kolaboratif dan berbasis anak dalam menghadapi tantangan keamanan digital.
“Negara tidak bisa bekerja sendiri. Inisiatif seperti Child LENS menjadi penting karena menghadirkan suara dan pengalaman anak secara langsung dalam riset dan advokasi kebijakan. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk membangun ekosistem digital yang aman, inklusif, dan bertanggung jawab bagi anak-anak Indonesia,” ujarnya.
Direktur Program ICT Watch Indonesia, Prasasti Dewi, menyoroti bahwa ruang siber saat ini masih belum sepenuhnya aman bagi anak-anak, terutama dalam konteks maraknya OCSEA. Ia menegaskan bahwa minimnya literasi digital, lemahnya mekanisme pelaporan yang ramah anak, serta desain platform digital yang belum berpihak pada keselamatan anak memperbesar risiko kekerasan daring.
“OCSEA bukan hanya persoalan individu, tetapi masalah sistemik. Karena itu, diperlukan pendekatan lintas sektor yang melibatkan negara, platform digital, masyarakat sipil, dan anak itu sendiri. Child LENS menjadi ruang penting untuk membangun pemahaman bersama sekaligus mendorong perubahan kebijakan dan praktik agar ruang siber benar-benar aman bagi anak,” jelasnya.
Acara peluncuran Child LENS juga menghadirkan dua sesi talkshow utama, yakni Ruang Siber dari Sudut Pandang Anak: Penggunaan AI dalam Kehidupan yang membuka ruang bagi anak untuk menyuarakan pengalaman mereka di dunia digital sebagai fondasi riset partisipatif, serta Seberapa Aman Ruang Siber bagi Anak?: Fenomena OCSEA dan KBGO yang mengulas data, risiko, dan tantangan kekerasan daring terhadap anak dan perempuan.
Rangkaian kegiatan peluncuran Child LENS juga dilengkapi dengan exhibition dan mini workshop ramah anak yang menyajikan permainan edukatif tentang keamanan kata sandi, perlindungan privasi digital, serta pengenalan, pencegahan, dan mekanisme pelaporan kekerasan.
Rahma (15 tahun), salah satu anak perempuan yang hadir dalam acara peluncuran menyatakan, “Di ruang digital, kami sering merasa tidak aman. Pesan tidak pantas, ancaman, dan konten berbahaya bisa muncul kapan saja. Kadang kami bingung harus melapor ke siapa, atau takut tidak dipercaya. Melalui Child LENS, kami ingin suara dan pengalaman kami benar-benar didengar, agar teknologi, termasuk AI, tidak digunakan untuk menyakiti anak, tetapi justru melindungi kami dan memastikan ruang siber yang aman dan setara bagi semua anak, terutama anak perempuan.”
Tentang Yayasan Plan International Indonesia
Plan International telah bekerja di Indonesia sejak 1969 dan resmi menjadi Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada 2017. Kami bekerja untuk memperjuangkan pemenuhan hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan. Kami juga bekerja bersama kaum muda, untuk memastikan partisipasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan terkait hidup mereka.
Sebagai bagian dari Plan International Inc., Plan Indonesia memiliki program anak sponsor. Plan Indonesia telah membina 32 ribu anak perempuan dan laki-laki di Nusa Tenggara Timur, dengan lima komitmen untuk memenuhi hak dasar mereka, yaitu hak atas akta kelahiran, vaksin dasar, air bersih, sanitasi, dan kebersihan, juga pendidikan. Plan Indonesia bekerja pada 8 provinsi dengan program-program yang bertujuan untuk membangun generasi yang Sehat, Teredukasi, Berdaya, Aman dan Tangguh.
Program-program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kepemimpinan, agensi, dan gerakan sosial yang melibatkan dan menargetkan agar 3 juta anak perempuan mendapatkan kekuatan yang setara, kebebasan yang setara, dan representasi yang setara. Informasi lebih lanjut: planindonesia.org
Tentang ICT Watch Indonesia
Kontak media
Hesti Widianingtyas – External Communication Coordinator Plan Indonesia
[email protected] +6281290210072