Kisah Yusti dalam Memutus Mata Rantai Stunting
08 October 2025
Yosti E. Taopan, seorang petani dari Dusun Oesoni, Desa Oenai, Kabupaten Timor Tengah Selatan, adalah salah satu contoh nyata bagaimana perubahan pola pikir dapat membawa dampak besar bagi komunitas. Dipanggil akrab dengan nama Yusti, pria yang sehari-hari berkebun ini merasa sangat bangga dan bersyukur bisa menjadi bagian dari dua pelatihan penting yang diadakan oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui Program Peningkatan Kapasitas Kader untuk Pencegahan Stunting (PARENTS). Pelatihan tersebut, yaitu Advokasi Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan Pemicuan Peningkatan Kehadiran Orang Tua di Kelas Pengasuhan, benar-benar membuka wawasannya.
Sebelumnya, Yusti mengakui, dirinya dan para ayah lain di desanya memiliki pandangan umum bahwa pengasuhan anak sepenuhnya menjadi urusan ibu. Namun, setelah terlibat dalam pelatihan dan Kelas Ayah, pandangannya berubah drastis. Ia memahami bahwa anak adalah amanah dari Tuhan dan tugas mengasuh adalah tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. “Saya diwajibkan mampu [mengasuh anak] karena anak adalah makhluk yang paling mulia,” tuturnya. Selama ini, mereka lebih memperhatikan pertumbuhan fisik anak daripada perkembangan otaknya, padahal masa 1.000 HPK adalah periode emas yang sangat krusial bagi tumbuh kembang anak.
Berbekal ilmu yang didapat, Yusti tidak merasa canggung atau malu untuk berbagi peran mengasuh anak dengan istrinya. Bahkan, ia tergerak untuk menyosialisasikan pentingnya peran ayah kepada keluarga, tetangga, dan warga di lingkungannya, termasuk saat ibadah dan kegiatan di tingkat RT—di mana ia juga menjabat sebagai Ketua RT. Ia mengutip pesan dari seorang narasumber, “kami laki-laki itu hanya tahu buat anak tapi tidak tahu mengurusnya,” sebuah kalimat yang ia harapkan dapat menyadarkan para ayah untuk berubah.
Kontribusi Yusti tidak hanya berhenti di lingkup keluarga dan tetangga. Ia kini berdiskusi dengan pemerintah desa untuk menyisipkan sosialisasi pengasuhan saat ada kegiatan pembagian bantuan seperti BLT(Bantuan Langsung Tunai) dan PKH (Program Keluarga Harapan). “Kami sudah jalankan satu kali,” katanya. Ia juga aktif memberikan pemahaman kepada para ayah lain, meskipun ia menyadari bahwa perubahan perilaku tidak bisa terjadi secara instan.
Bagi Yusti, membagi peran orang tua atau pengasuh dalam pengasuhan anak adalah kunci untuk menurunkan angka stunting. Ia berharap, dengan adanya kesadaran dan partisipasi aktif dari para ayah, tidak ada lagi kasus stunting baru di desanya. Ia juga berharap agar Plan Indonesia dapat terus mendampingi mereka hingga desa mereka benar-benar mandiri.