Ketika Kety Menemukan Suaranya: Ruang Aman bagi Kaum Muda Nagekeo
22 January 2026
Suara Kety sempat bergetar ketika ia berdiri di depan aula sekolahnya. Tangannya menggenggam kertas kecil, tetapi yang ia sampaikan bukanlah teks yang disiapkan. Itu adalah isi hatinya.
“Saya senang dan bahagia sekali bisa ikut kegiatan sosialisasi ini. Bagi saya, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk masa depan kami.”
Kalimat itu sederhana. Namun di balik senyumnya yang tipis dan matanya yang mulai berkaca-kaca, ada perjalanan panjang seorang remaja yang sedang belajar memahami hidupnya sendiri.
Kamis pagi, 8 Januari 2026, aula salah satu SMA di Nagekeo terasa berbeda. Empat puluh lima pelajar dan lima guru duduk melingkar, bukan sekadar untuk mendengar ceramah, tetapi untuk berdialog. Hari itu, mereka mengikuti sosialisasi tentang pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan, perilaku berisiko, dan kesehatan mental—isu-isu yang sering dianggap sensitif, tetapi sangat dekat dengan kehidupan mereka.
Kegiatan ini difasilitasi oleh tim dari Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), Program Implementasi Area Nagekeo: Rico Ariesti Jefry selaku Program Coordinator, Ludgardis Lipa sebagai Child Data Officer, dan John Orlando sebagai Team Leader. Setelah kepala sekolah membuka kegiatan secara resmi, suasana perlahan berubah dari formal menjadi hangat.
Rico membuka sesi pertama tentang pencegahan perkawinan anak dan perilaku berisiko. Ia tidak berdiri jauh dari para siswa. Ia mendekat, bertanya, mendengarkan. “Apa yang kalian lihat di rumah? Apa yang kalian rasakan di sekolah? Apa yang kalian temui dalam pergaulan sehari-hari?”
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat aula menjadi ruang refleksi bersama. Beberapa siswa mulai berbagi tentang tekanan dari lingkungan, tentang teman sebaya, tentang ketakutan membuat pilihan yang salah. Tidak ada tawa mengejek. Tidak ada penilaian. Hanya ruang aman yang perlahan terbangun.
Sesi berikutnya dipandu oleh Ludgardis Lipa dengan metode Traffic Light Emotions. Di papan tulis tergambar tiga warna: merah, kuning, hijau.
Merah untuk berhenti.Kuning untuk berpikir.Hijau untuk melangkah dengan sadar.
Para siswa diminta menuliskan secara anonim pengalaman yang membuat mereka marah, sedih, kecewa, cemas, bahkan merasa putus asa. Kertas-kertas kecil itu dikumpulkan dalam satu kotak. Ketika beberapa cerita dibacakan tanpa nama, suasana menjadi hening. Ada kisah tentang keluarga yang retak, tentang tekanan ekonomi, tentang perasaan tidak didengar. Untuk pertama kalinya, banyak emosi yang selama ini dipendam menemukan ruang untuk diakui.
Di antara para siswa, Kety duduk paling depan. Ia mencatat, bertanya, dan beberapa kali mengangguk pelan. Ketika satu cerita tentang perpisahan orang tua dibacakan, air matanya jatuh. Ia tidak sedang mendengar cerita orang lain. Ia sedang mendengar dirinya sendiri.
Kety berasal dari keluarga yang tak lagi utuh. Sejak orang tuanya berpisah, ia tinggal bersama opa dan oma yang merawatnya dengan penuh kasih. Namun kasih sayang saja tidak selalu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepalanya: Mengapa ini terjadi? Bagaimana seharusnya ia menjalani pergaulan? Bagaimana menentukan masa depan tanpa kehilangan arah?
Selama ini, pertanyaan-pertanyaan itu ia simpan sendiri.
Hari itu, perlahan, ia menemukan jawaban.
“Saya merasa sangat terbantu dengan kegiatan ini. Saya mendapatkan banyak ilmu dan pelajaran. Saya juga ingin memberitahu teman-teman saya yang lain supaya mereka punya pemahaman yang sama,” ujarnya dengan lebih mantap.
Bagi Kety, kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi. Ini adalah titik balik. Ia mulai memahami bahwa dirinya berhak atas masa depan yang ia pilih sendiri. Bahwa ia bisa menentukan pergaulan yang sehat, menjaga dirinya dari risiko, dan mengambil keputusan dengan sadar—termasuk tentang kapan dan dengan siapa ia ingin menikah kelak.
Kesadaran itu tidak datang dengan suara keras. Ia tumbuh pelan, seperti benih yang akhirnya menemukan tanah subur.
Di Nagekeo, di aula sekolah sederhana itu, perubahan mungkin tidak langsung terlihat. Namun di hati seorang remaja bernama Kety, sebuah keyakinan baru sedang bertumbuh: bahwa masa depan bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, melainkan sesuatu yang bisa dipilih dan diperjuangkan dengan pengetahuan, keberanian, dan kesadaran.
Ditulis oleh: John Orlando │Editor: Agus Haru│Foto: Plan Indonesia/John Orlando