Kebangkitan Kelas Ayah BKB di Desa Mambalan, Lombok Barat
20 April 2026
September menjadi bulan yang tak terlupakan bagi Baiq Nurdiana, koordinator relawan Desa Mambalan, Gunungsari. Pada 19 September 2025, desanya menyelenggarakan sosialisasi sekaligus sesi percontohan pertama Kelas Ayah BKB.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pengasuhan 1.000 HPK bagi kader, hasil kolaborasi antara Plan International, Petugas Lapangan KB (PKB), dan Pemerintah Desa Mambalan.
Sesi percontohan tersebut diikuti oleh 30 peserta, terdiri dari para ayah balita, ayah remaja, hingga pemuda yang sedang mempersiapkan pernikahan. Dalam waktu 90 menit, kegiatan ini menjadi tonggak penting bukan hanya dari sisi materi, tetapi juga keberlanjutannya, karena seluruh kegiatan didanai oleh anggaran desa, termasuk transportasi dan konsumsi peserta.
Materi utama yang dibahas mencakup pengasuhan anak dan pencegahan perkawinan anak (Pendewasaan Usia Perkawinan/PUP). Difasilitasi oleh Sri Ayuningsih, sesi ini menyentuh sisi emosional peserta dengan mengajak mereka mengenang masa kecil bersama ayah mereka. Refleksi ini membantu para ayah menyadari betapa besar dampak kehadiran seorang ayah, sekaligus menegaskan bahwa pengasuhan bukan hanya beban ibu.
Bagi Baiq Nurdiana, melihat Kelas Ayah akhirnya terlaksana merupakan hasil dari perjuangan advokasi yang panjang kepada pemerintah desa. Meski puas dengan antusiasme peserta, ia juga memperoleh banyak pembelajaran penting.
Ia menyadari bahwa para kader membutuhkan pelatihan khusus untuk memfasilitasi kelompok ayah. Pertanyaan yang diajukan para ayah cenderung lebih kompleks dan kontekstual dibandingkan kelompok ibu. Oleh karena itu, pendampingan berkelanjutan dari narasumber dan tenaga ahli sangat diperlukan.
Meski demikian, Baiq Nurdiana tetap optimis. Ia berharap lembaga seperti BKKBN, Dinas Kesehatan, maupun Plan International dapat menyediakan pelatihan fasilitator dan manajemen kelas secara khusus.
Ia juga semakin termotivasi dengan komitmen nyata dari pemerintah desa setelah sesi percontohan. Desa berencana menerbitkan SK resmi bagi kader Kelas Ayah, mengalokasikan anggaran khusus di setiap dusun, serta menyediakan media pembelajaran.
Yang paling penting, Kelas Ayah akan diintegrasikan ke dalam berbagai ruang komunitas seperti pondok pesantren, pusat kegiatan masyarakat, dan kelompok pengajian. Dengan begitu, pesan tentang pentingnya peran ayah akan menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sosial masyarakat desa.